Inilah Sejarah Ani Yudhoyono Waktu Kecil, Kenapa Dia Diberi Nama Kristiani?


SURATKABAR.ID – Ada pepatah mengatakan bahwa di balik sosok pria hebat, ada wanita hebat yang menyokongnya. Mantan Ibu Negara RI, Ani Yudhoyono bisa dibilang ternasuk salah satunya dari sosok wanita hebat tanah air. Saat ini, pemilik nama lengkap Kristiani Herrawati tersebut sedang menjalani perawatan karena kanker darah yang dideritanya. Namun begitu, seperti apa sejarah masa kecilnya? Dan mengapa dirinya diberi nama Kristiani?

Semasa kecilnya, ternyata sosok Kristiani Herrawati merupakan jagoan. Siapa sangka jika dirinya jago memanjat pohon. Melansir JPNN.com, Rabu (05/03/2019), Ani Yudhoyono berbagi kisah hidupnya yang sarat akan nilai-nilai luhur.

Kisah berawal saat Sarwo Edhie Wibowo memboyong istrinya untuk menetap di sebuah rumah sederhana yang terletak di Jl. Serayu, dekat Kali Code, Yogyakarta. Saat itu, situasi berangsur pulih setelah pengakuan kedaulatan kemerdekaan Republik Indonesia oleh Belanda, 27 Desember 1949.

Di rumah kecil itulah, pada 6 Juli 1952, Ani Yudhoyono lahir dari ibunda Sunarti Sri Hadiyah.

“Aku sendiri lahir,” ujar istri dari mantan Presiden SBY itu, “dengan nama Kristiani Herrawati.”

Baca juga: Ani Yudhoyono Berjuang Melawan Leukimia, Kenali Sejak Dini Pemicunya

Dalam buku Ani Yudhoyono—Kepak Sayap Putri Prajurit besutan Alberthine Endah, Bu Ani menceritakan perihal namanya.

“Ada kisahnya tersendiri. Saat aku lahir, Papi sedang ditugaskan di Batalyon Kresna di Yogyakarta. Ini sebuah kebetulan, karena Papi juga sangat mengagumi tokoh pewayangan yang berkarakter baik, Kresna,” kenangnya.

“Begitu aku lahir,” sambung dia, “Papi langsung mendapat ilham untuk menyematkan Kresna dalam namaku. Tentu saja tidak mungkin aku diberi nama Kresna, karena identik dengan laki-laki. Ditambahi Wati-pun terdengar lucu, Kresnowati.”

Sarwo Edhie, yang kemudian hari menjadi sangat terkenal sebagai komandan RPKAD, tetap memberi putri ketiganya tersebut dengan nama yang sebunyi dengan Kresna.

“Akhirnya, Papi memberiku nama: Kristiani. Sedangkan nama Herrawati dipilih Papi dari penggalan kisah yang pernah diceritakan ayahnya. Herrawati memiliki makna kekuatan yang bisa menyapu bersih haling rintang saat terjadi huru-hara.”

Semasa kanak-kanak, mantan ibu negara Republik Indonesia terkenal sebagai jagoan panjat pohon.

Seringkali, kawan sepermainan—termasuk kakak-kakaknya; hanya memanjat sampai batas ketinggian tertentu. Lain halnya dengan Ani. Dia belum puas jika tidak mencapai dahan tertinggi. Bahkan meski pun harus seorang diri.

“Aku bisa berjam-jam duduk di dahan,” kenang Ibu Ani.

“Biasanya aku baru turun kalau sudah diteriaki Ibu untuk mandi atau makan. Cara aku turun pun sangat lincah, persis Tarzan. Bangga rasanya jadi jagoan kecil pemanjat pohon.”

Agaknya Sarwo Edhie tahu betul cara mendidik anak. Dia kerap bercerita tentang sejarah garis keturunannya yang sarat nuansa kepahlawanan.

“Sejarah keluarga adalah sesuatu yang kami hafal di luar kepala. Sejak kami kecil, Papi selalu menanamkan penghargaan pada leluhur,” ucap Ani, yang dapat mengingat silsilah keluarga hingga sekian lapis generasi.

Di lain kesempatan, Sarwo Edhie menggelar semacam forum keluarga. Masing-masing kemudian saling berbagi cerita.

“Papi selalu mendengarkan semuanya dengan penuh keseriusan. Kami dilarang menertawakan adik-adik yang lebih kecil. Semua sama dan layak dihormati.”

Ani mengatakan, Papinya senantiasa berpesan, “Jangan takut berbicara pada siapa pun, selama kita hormat dan santun. Tidak perlu minder, apalagi gentar. Semua manusia memiliki martabat.”

Di lingkungan keluarga yang semacam itulah, perempuan yang turut serta mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden Indonesia dididik.

“Dalam hidup,” sebagaimana diceritakan Ani, “orang tuaku mengajarkan bahwa setiap detik adalah limpahan rahmat Tuhan di mana manusia bisa melakukan banyak hal yang penuh makna.”

Dan rupanya, pepatah kuno yang berbunyi ada perempuan hebat di balik lelaki hebat telah terbukti benar. SBY sadar betul akan hal itu.

Pada sebuah kesempatan di Tampak Siring Bali, tulis Alberthiene Endah, SBY bertutur, “syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekali lagi, karena saya dikaruniai seorang istri yang memberikan cahaya tanpa henti dalam hidup saya, seorang Ani…”

Kondisi Terkini

Mengutip Brilio.net, Ani Yudhoyono kini masih menjalani perawatan intensif di National University Hospital, Singapura. Ia sudah menjalani perawatan di Singapura sejak 2 Februari 2018 lalu. Berada di rumah sakit hampir sebulan, dukungan dari banyak pihak untuk kesembuhan Ani Yudhoyono pun terus mengalir.

Baru-baru ini ia membagikan potret kegiatannya dalam melakukan exercise. Ada momen haru yang tampak. Momen itu terjadi saat dirinya melepas rindu dengan tiga cucunya dari Ibas Yudhoyono, yakni Airlangga Satriadhi Yudhoyono, Pancasakti Maharajasa Yudhoyono dan Gayatri Idalia Yudhoyono.

Datang bersama Aliya Rajasa, ketiga anak Ibas Yudhoyono itu hanya bisa memandang sang nenek dari balik kaca pintu. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir virus dan bakteri yang masih tertempel dari badan Airlangga, Pancasakti dan Gayatri. Mengidap penyakit kanker darah, kebersihan sudah pasti menjadi faktor utama dalam proses perawatan yang dijalani Ani Yudhoyono.

Selama menjalani perawatan, kebersihan menjadi hal yang paling diperhatikan oleh tim dokter. Itulah sebabnya, sejak beberapa waktu lalu, para tamu yang datang hanya dapat menjenguk Ani Yudhoyono dari balik pintu.

Meski begitu, berinteksi dari balik pintu dengan sang Memo tak membuat rasa bahagia Airlangga, Pancasakti dan Gayatri berkurang. Ketiga cucunya tersebut juga harus menggunakan masker selama menjenguk Memo. Semoga lekas sembuh, Ibu Ani Yudhoyono.