Haramkan MLM, Ini Alasan Tegas PBNU


SURATKABAR.ID – Nahdlatul Ulama (NU) mengambil keputusan bahwa Multi Level Marketing (MLM) yang menjanjikan bonus turun setiap berhasil merekrut orang, adalah bisnis haram. Menurut NU, ada tipu muslihat yang tersembunyi dalam bisnis semacam itu.

Adapun alasan NU mengharamkan bisnis MLM, dilansir dari Kumparan.com, Senin (4/3/2019), adalah karena bisnis yang menjanjikan bonus setiap perekrutan anggota baru tak ubahnya money game. Keputusan rekomendasi haram diambil dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Waqiyyah, Kamis (28/2) lalu.

Money game dengan sistim MLM (Multi Level Marketing) yang dihukumi haram adalam Munas Alim Ulama adalah Money game dengan sistem MLM yang mengandung unsur tipu muslihat (gharar),” ujar Ketua PBNU Robikin Emhas, Minggu (3/3) kemarin.

Ia pun menjelaskan bahwa ada syarat sah dalam hukum jual-beli. Dan salah satunya adalah ada barang yang akhirnya bisa menghasilkan keuntungan. Sementara dalam bisnis MLM yang menjanjikan bonus turun setiap perekrutan, menurutnya, sudah sangat menyalahi prinsip akad jual-beli.

“Syarat yang menyalahi prinsip akad dan motivasi transaksinya adalah berupa bonus, bukan barang,” jelasnya kemudian.

Baca Juga: Tegas Tolak Penegakan Khilafah, Begini Penjelasan PBNU

Robikin menyebutkan, selama ini, ada sejumlah orang yang terjebak penipuan bisnis MLM. Salah satunya, Nima (nama samaran), seorang pengusaha asal Kota Gudeg Yogyakarta.

Nima terpaksa merelakan uang sebesar Rp 100 juta lantaran tertipu bisnis MLM dengan kedok penjualan pulsa, Big Rajawali. Adapun peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 2010 silam. Ketika itu ia mengenal bisnis MLM Big Rajawali lantaran saudaranya telah terlebih dahulu menggeluti bidang itu.

Jumlah Keuntungan besar yang dijanjikan membuat Nima tergiur. Betapa tidak, ia bisa mendapat 100 persen bonus dari uang iang ia investasikan dalam bisnis. Belum lagi jika berhasil merekrut, Nima akan mendapat bonus sekitar Rp 3,5 juta untuk setiap orang yang ia rekrut.

“Keuntungan dijanjikan akan dikirim bertahap setiap bulan,” jelasnya.

Misalnya, pada bulan pertama ia akan menerima Rp 6 juta. Dan keuntungan di bulan berikutnya akan jauh lebih besar. Namun setelah beberapa bulan berselang, Nima tak juga menerima nominal yang dijanjikan ke dalam rekeningnya. Sama halnya dengan saudara dan rekan-rekan yang mendaftar.

“Saya sadar itu ternyata penipuan dan kami para korban lainnya secara berkelompok itu melaporkan pada pihak berwajib. Namun uang kami tetap tidak kembali,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, praktisi bisnis Renald Kasali ikut buka suara. Ia menilai bisnis MLM yang kini diharamkan NU dan menimpa Nima dengan menggunakan skema ponzi sebenarnya telah ada di Indonesia sejal 15 tahun silam. Ia menyebut, skema ponzi dalam bisnis sama dengan judi.

Money game ini sudah lama memang menggerogoti, bahkan lebih parah dari judi. Ini bisa membuat keluarga cerai-berai, karena dijanjikan keuntungan selangit jadi mereka rela melibatkan keluarga,” jelas Guru Besar Manajemen Universitas Indonesia itu, Minggu (3/3).

Di dalam skema ponzi, kali pertama para target akan diiming-imingi keuntungan. Mereka juga biasanya mendapat keuntungan sesuai janji di bulan pertama. Seperti misalnya, ketika seseorang menanam modal Rp 10 juta, ia akan mendapat Rp 16 juta dalam waktu satu bulan.

“Keuntungan capai 60 persen. Ini kan besar, akhirnya orang tergiur untuk investasi lagi sampai mereka memutuskan untuk jual rumah. Nah, dapat uang Rp 100 juta, Rp 200 juta untuk diinvestasikan dengan harapan akan dapat imbal balik 60 persennya,” imbuhnya kemudian.

Akan tetapi, begitu sudah menanamkan investasi lebih banyak, otak pelaku bisnis MLM itu akan kabur dengan membawa uang milik para korban. Dan yang tertinggal hanyalah angan-angan korban mendapat untung besar. Namun kenyataannya mereka mendapat utang hingga keluarga bisa tercerai karena permusuhan.