Blak-blakan! Sandiaga Uno Akui Banyak Anggota Keluarganya yang Alami Gangguan Jiwa


SURATKABAR.ID – Sandiaga Salahuddin Uno yang kini merupakan calon wakil presiden RI nomor urut 02 pernah mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia mengakui bahwa ada banyak anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Menurut mantan wakil gubernur ibukota tersebut, saat ini masalah gangguan jiwa memang merupakan realita kehidupan di kota metropolis.

Menukil reportase Republika.co.id, Sabtu (02/03/2019), Sandiaga mengklaim tidak merasa malu jika dirinya mengungkapkan fakta itu. Karena pernyataannya tersebut dikeluarkan demi untuk memperbaiki pemahaman masyarakat akan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

“Anggota keluarga saya banyak yang mengalami depresi, stres, dan lain sebagainya,” tutur Sandiaga di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (28/02/2018), silam.

Sandiaga kemudian menambahkan, keterbukaannya itu bukan untuk yang pertama kalinya. Ia menyampaikan gangguan jiwa adalah realitas dalam kehidupan metropolis.

“Diskursus kita di sini kan mengangkat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sebagai fenomena yang biasa. Sedangkan kalau kita lihat di masyarakat kita, kalau ada yang gangguan jiwa, malu. Ketawa-ketawa kayak kita barusan tadi,” imbuhnya.

Baca juga: Soal Lahan yang Dikuasainya, Erick Thohir: Kita Punya Alhamdulillah Bersih dan Halal

Selain itu, Sandiaga juga prihatin banyak keluarga yang masih menganggap gangguan kejiwaan sebagai aib. Mereka malah memilih untuk menyembunyikan anggota keluarganya yang mengalami gangguan kejiwaan. Terlebih, masyarakat juga masih menjadikannya sebagai bahan tertawaan.

Menurutnya, kondisi ini menjadi salah satu kendala yang membuat orang dengan gangguan kejiwaan sulit dijangkau. Dinas Kesehatan DKI bahkan tak punya data sebaran orang dengan gangguan kejiwaan.

Sandiaga mengatakan masyarakat tak seharusnya menganggap hal itu sebagai stigma. Ia menyayangkan masih ada 10 persen orang dengan gangguan jiwa di DKI yang belum mendapatkan rawat inap. Bahkan, mereka sama sekali tidak mendapatkan perawatan, apalagi obat.

Bayangin kalau orang nggak minum obat, sakit itu kan akan lama. Dampaknya akan lebih dahsyat lagi. Jadi harus dikasih obat. Harus dikasih treatment,” kata dia.

Program Ketuk Pintu Layani dengan Hati (KPLDH)

Sebagai salah satu bentuk keberpihakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI memutuskan untuk melanjutkan program Ketuk Pintu Layani dengan Hati (KPLDH) yang telah ada sejak pemerintahan sebelumnya. Program ini diperluas lagi untuk dapat mencakup gangguan kejiwaan.

Sedangkan sebelumnya, Sandiaga melaporkan program KPLDH Dinas Kesehatan Provinsi DKI baru menjangkau 4.000 warga yang mengalami gangguan jiwa. Hasil perluasan data menunjukkan total orang dengan gangguan jiwa di wilayah ini mencapai 11.000 orang.

Saat itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto mengoreksi data tersebut. Ia mengatakan, prevalensi gangguan jiwa di DKI mencapai 1,1 per mil dari total keseluruhan warga atau sekitar 14.000 jiwa. Jumlah ini mencakup orang dengan gangguan jiwa berat dan gangguan jiwa ringan.

Dari jumlah tersebut, 4.600 orang telah teridentifikasi melalui program KPLDH pada 2017. Ini belum termasuk warga binaan di panti-panti sosial.

Sebanyak 10 persen dari total orang dengan gangguan jiwa di DKI membutuhkan rawat inap. Ini berarti, berdasarkan data saat itu, ada sekitar 1.400 orang yang masih belum terlayani oleh fasilitas terkait.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.