Buya Syafi’i: Masa Tuhan Diajak Pemilu?


SURATKABAR.ID – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafi’i Maarif ikut memberikan tanggapan soal doa dan puisi Neno Warisman yang dibacakan dalam acara malam Munajat 212, beberapa waktu yang lalu.

Buya Syafi’I, seperti yang dihimpun dari laman Jawapos.com, pada Kamis (28/2/2019), menilai, doa Neno dalam acara tersebut menimbulkan kegaduhan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang akan digelar pada April mendatang.

“Masa Tuhan diajak pemilu?” ujar Buya Syafi’I ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (28/2) kemarin.

Ia menilai, politisi di Indonesia,  ogah menjadi negarawan. Mereka hanya memikirkan diri sendiri, bagaimana caranya untuk bisa menguasai negara. Dan sifat yang dimiliki para politisi Indonesia inilah yang bisa membawa kehancuran.

“Politisi kita ini sebagian besar tidak mau naik kelas menjadi negarawan, ini yang akan menghancurkan demokrasi kita,” katanya.

Baca Juga: Soal Puisi Neno Warisman, Romahurmuziy Keluarkan Pernyataan Menohok

Oleh karena itu, Buya Syafi’i kemudian menyebut, dengan adanya perbedaan dalam kontestasi pemilu sebenarnya merupakan suatu hal yang wajar terjadi. Akan tetapi, ia menegaskan, hal tersebut tak patut untuk lantas diributkan.

“Pilihan berbeda tidak apa-apa. Kita toh bersaudara. Tapi pilihan berbeda jangan bikin ancaman segala macem, pakai fitnah dan hoaks,” jelasnya lebih lanjut.

Seperti yang diketahui sebelumnya, ketika acara malam Munajat 212 digelar pada Jumat (21/2) malam lalu, Neno yang menghadiri acara tersebut menyebut apabila pihaknya kalah dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang, ia mengkhawatirkan tidak akan ada lagi yang menyembah Allah SWT.

“Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami, dan menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu,” demikian bunyi penggalan puisi sekaligus doa Neno dalam malam Munajat 212 lalu.

Puisi dan doa yang dibacakan Neno Warisman ini sontak ramai diperbincangkan oleh berbagai lapisan masyarakat. Dari kalangan politisi juga tak sedikit yang menyebut bahwa Neno salah tempat jika ingin membacakan puisi dan doa tersebut.