Tegas Tolak Penegakan Khilafah, Begini Penjelasan PBNU


SURATKABAR.ID – Khatib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Yahya Cholil Staquf dengan tegas menyebut bahwa organisasi trans nasional yang berupaya menegakkan khilafah sama halnya seperti komunis yang menginginkan rezim komunis diberlakukan di seluruh dunia.

Yahya, seperti yang dilansir dari laman Republika.co.id, pada Kamis (28/2/2019), menilai bahwa keduanya sama-sama hanya menciptakan kekacauan dan kemelut di seluruh dunia. Oleh karena itu, ia mengatakan NU tegas menolak ideology trans nasional yang ingin khilafah universal ditegakkan.

“Harus ditolak (khilafah universal) dan kembali kepada asal dari nilai-nilai agama, yaitu rahmah dan kemanusiaan, akhlakul karimah,” ujar Yahya usai memimpin sidang batsul masail Maudu’iyah dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2).

Seperti diwartakan MediaIndonesia.com pada Kamis (28/2/2019), Forum Bathsul Masail Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU membahas sial konsep bernegara, di mana tidak ada perintah syariat untuk menegakkan khilafah universal.

“Jadi tidak ada perintah syariat untuk menegakkan khilafah. NU punya sikap bahwa ada konsep keberadaan negara bangsa. Bahwa negara bangsa mempunyai legitamasi secara syariah untuk merdeka dan berdaulat masing-masing,” jelas Khatib ‘Aam PBNU Yahya Cholil Staquf.

Baca Juga: JK Bantah Adanya PNS& Pegawai BUMN yang Dukung Negara Khilafah

Pria yang lebih akrab disapa dengan panggulan Gus Yahya ini juga menyinggung organisasi trans nasional seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI, menurutnya, merupakan Ikhwanul Muslimin yang kerap memaksakan ideologi khilafah di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

“Faktanya, keberadaan ideologi semacam itu hanya memunculkan kekacauan di seluruh dunia. Ideologi yang hanya mengedepankan politik kekuasaan. Mestinya nilai-nilai agama kembali pada agama yang membawa nilai rahmatan lil alamin dan nilai kemanusiaan,” tutur Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.

Lebih lanjut, Kiai Yahya juga mengatakan, tidak ada kewajiban mengupayakan khilafah universal di bawah satu kekuasaan politik. Menurutnya, umat Islam di seluruh dunia mau tidak mau harus menerima negara dan bangsa, menjadi warga negara yang berdaulat serta merdeka.

Oleh karena itu pula, seperti yang dijelaskan Yahya, NU terus berupaya untuk menawarkan sikap moral NU kepada dunia, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniah, dan yang ketiga adalah ukhuwah bassyariah.

 “Kita menghadapi kebutuhan dunia untuk mendapat masukan, kita ingin menawarkan porsi moral yang sudah ditetapkan NU kepada dunia, dan itu berarti kita harus mempunyai argumen untuk menjelaskannya,” tutur Yahya.