Bikin Geger Publik Indonesia, Pria Ini Bongkar Bagaimana Kasus Hubungan Sedarah di Lampung Akhirnya Bocor


SURATKABAR.ID – Kasus hubungan sedarah atau incest di wilayah Lampung sukses menciptakan kegemparan bagi masyarakat se-Indonesia. Betapa tidak, korban AG (18), penyandang disabilitas, digagahi sebanyak ratusan kali. Perbuatan bejat itu dilakukan ayah, kakak, dan adik kandungnya sendiri.

Lantas bagaimana awal mulanya kasus menggegerkan tersebut berhasil terungkap?

Kasus incest, seperti dihimpun dari laman Detik.com, pada Selasa (26/2/2019), dilaporkan oleh Ketua Satgas Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat Pekon Panggungrejo, Tarseno (51). Ia sampai tak kuasa menahan emosinya ketika diminta memaparkan kejadian ini kembali.

Tarseno mengungkapkan, Satgas Perlindungan Anak kala itu meminta izin kepada pihak keluarga untuk memberikan pendampingan pada AG yang memang diketahui mengalami keterbelakangan mental. Beruntung pihak keluarga tak menolak.

Hingga pada suatu waktu, di wilayah tempat tinggal korban ada fasilitas tenaga psikologi. Satgas Perlindungan Anak kemudian membawa AG untuk diperiksa psikolog. Barulah kasus oemerkosaan yang dialami disabilitas oleh ayahnya JM (44), kakaknya SA (24), dan adik kandungnya YF (16) terendus.

“Dari keahlian psikolog itu, akhirnya semua terungkap bahwa anak ini ternyata telah menjadi korban kekerasanseksual,” jelas Tarseni ketika dimintai keterangan oleh tim Detik.com, pada Senin (25/2) malam.

Baca Juga: Biadab! Gempar Hubungan Sedarah di Lampung, Terkuak Motif Ayah dan 2 Anaknya ‘Tiduri’ Disabilitas

Psikolog yang ketika itu memeriksa AG menunjukkan rekaman video saat menjalani pemeriksaan. Dalam video tersebut, terlihat betapa polosnya AG menuturkan bagaimana ayah bersama kakak dan adik kandungnya sendiri ‘meniduri’-nya. Ia bahkan tak sadar bahwa kehormatannya telah terenggut.

“Mengejutkan karena anak ini tidak menyadari bahwa dia itu mengalami kekerasanseksual. Karena waktu itu kami tidak boleh masuk, kami diberi informasinya, diberi videonya waktu wawancara berlangsung. Katanya dengan polosnya ‘Kalau malam bapaknya suka naikin, buka celana, itunya bapak dimasukin’. Kira-kira seperti itu, lah,” ungkap Tarseno.

Usai mengantongi informasi penting tersebut, Tarseno dan sembilan orang rekannya pun tak berdiam diri. Mereka menyebar di kampung tempat korban dan kelaurganya tinggal guna menggali informasi lebih dalam mengenai kesaksian yang diberikan AG kepada psikolog.

“Kami satgas ada 10 orang yang aktif. Kami menyebarkan anggota untuk mencari informasi ini. Ternyata anak ini suka ke warung tiap pagi. Kemudian kami minta tukang warung ini mengorek keterangan,” ujar Tarseno.

“Lama-lama anak ini ngaku dengan yang punya warung ini. Lebih pasti lagi satgas kami yang perempuan mengorek langsung informasi ke korban pelan-pelan. Dia lalu ngaku bagaimana perlakuan ayahnya, kakaknya, dan adiknya. Terbuka semua,” imbuhnya kemudian.

Berangkat dari semua keterangan itu, Satgas Perlindungan Anak langsung berkoordinasi dengan kepala pekon. Setelah itu diambil kesepakatan untuk segera melaporkan kasus ini kepada Polsek Sukoharjo pada Rabu (20/2).

Mendapatkan laporan tersebut, tim Tekab 308 di bawah pimpinan Kapolsek Sukoharjo bergegas bergerak ke rumah JM. Mengejutkannya, ketika dilakukan penggerebekan keluarga yang memang dikenal tertutup ini sama sekali tak menunjukkan perasaan bersalah.

“Pada saat keluarga ini digerebek, masyarakat memang tidak banyak yang tahu kasusnya, kedua karena memang kebiasaan keluarga ini selalu tertutup. Ketika tim datang, anehnya mereka seperti tidak merasa bersalah, tidak melarikan diri. Bahkan bapaknya bilang ‘Ada apa ini? Ada apa kok rame-rame?’ Seperti nggak merasa ada salah sama sekali,” jelasnya.

JM, SA, dan YF pun digiring ke Polsek Sukoharjo. Kasus kemudian dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tanggamus. Setelah pemeriksaan intensif, status ketiganya langsung ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Para pelaku dipersangkakan dengan Pasal 76 jo Pasal 81 ayat (3) UU RI Nomor 71 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak. Selain itu juga ditambah dengan Pasal 8 huruf (a) jo Pasal 46 UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga atau Pasal 285 KUHPidana.