Tikam Ayahnya Pakai Gunting Meski Tak Punya Lengan, Cara yang Dipakai Pria Ini Sungguh Tak Terduga


SURATKABAR.ID – Seorang pria bisa menikam ayahnya dengan menggunakan gunting meski pun tak punya lengan! Pria yang berasal dari Whitchurch, Cardiff ini diketahui tak memiliki lengan. Namun ia menikam perut ayahnya dengan sebilah gunting yang dipegang di antara jari-jari kakinya.

Mengutip Intisari.Grid.ID, Senin (25/02/2019), laporan Mirror.co.uk pada Minggu (24/02/2019) menyebutkan pria tersebut bernama Rory O’Conor (23). Ia menusuk ayahnya Kevin O’Connor dengan ‘senjata darurat’ yang ada di rumah mereka. Setelah insiden itu, korban memerlukan operasi besar.

Kendati begitu, dalam sebuah pernyataan yang dibacakan ke Pengadilan Cardiff Crown mengungkapkan bahwa perhatian utama korban ialah kesejahteraan putranya. Kevin mengatakan bahwa serangan yang dilakukan putranya itu tak akan menghentikannya untuk tetap mendukung putranya.

Rory dilahirkan tanpa lengan serta memiliki sejumlah kondisi medis lainnya. Rory bahkan pernah bermain di tim sepak bola dan mengikuti kompetisi renang untuk Wales. Disebutkan juga bahwa terdakwa Rory membawa senjata—mata pisau dari salah satu sisi gunting—di antara jari kakinya usai insiden di mana ia diancam saat berjalan di hutan.

Pengadilan mendengar orangtuanya ‘prihatin dan frustasi’ tentang dia membawa senjata. Pada 3 November lalu, Rory dan ayahnya berdebat tentang mata pisau. Sang ayah mengambil tongkat sepanjang satu meter dan mendorong dada Rory. Rory lantas ‘menyerang’ dengan kakinya, menebas ayahnya di bagian perut.

Baca juga: Bagaimana Nasib Eyang Subur Sekarang? Yuk Intip Isi Rumah Pria yang Pernah Nikahi 25 Wanita Itu

Rory mengaku melukai ayahnya atas dasar tindakan yang ceroboh daripada disengaja. Pengadilan pun mendengar bahwa Rory tak pernah terjerat kasus apapun sebelumnya. Sedangkan ayahnya menggambarkan insiden 3 November tersebut sebagai sesuatu yang ‘disesalkan’. Tetapi ia bilang hal itu telah memberi putranya pelajaran yang besar dari kesulitan yang dialaminya.

Sang ayah juga tak ingin jika serangan itu menjadi momen negatif yang menentukan kehidupan putranya. Hal itu dikarenakan menurutnya, sebenarnya Rory mempunyai kehidupan yang bagus. Keluarganya menggambarkan Rory sebagai pemuda yang ‘berani dan cerdas’.

Sedangkan sang pengacara mengatakan Rory mengalami depresi pada akhir masa remajanya. Menurutnya, Rory ‘hancur’ tentang cedera yang dialami ayahnya atas ulahnya. Kemudian, pengacara mengundang hakim untuk mengikuti rekomendasi dari Layanan Percobaan, yang menyimpulkan bahwa Rory adalah ‘seorang pemuda yang tidak bisa dinilai dengan standar normal.’

Pengacara lalu menyebutkan Rory akan menyambut baik kesempatan untuk melakukan pekerjaan sosial tanpa dibayar sebagai bagian dari hukuman berbasis komunitas. Hal itu akan memungkinkannya untuk mendapat kebebasan dan bertemu orang-orang baru.

Pengadilan juga mendengar bahwa Rory bisa melakukan berbagai kegiatan dengan kedua kakinya, seperti mencuci sendiri. Dan pekerjaan yang tak dibayar tersebut ditemukan untuknya di lingkungan bengkel. Pengadilan lantas menghukum Rory dengan perintah komunitas 12 bulan dan total 100 jam kerja tanpa dibayar, yang disertai dengan kursus rehabilitasi.