Perut Sang Ibu Terbelah Akibat Ditebas Parang, Nyawa Janin Ini Berhasil Selamat. Ternyata…


    SURATKABAR.ID – Warganet Indonesia ramai memperbincangkan kasus seorang pria di Bengkulu yang tanpa hati menghabisi nyawa sang istri beberapa waktu lalu. Padahal istrinya tengah hamil besar dan usia kandungannya sudah mendekati masa persalinan.

    Seperti yang dilansir dari laman Grid.ID, pada Jumat (22/2/2019), usai menghabisi nyawa sang istri, pelaku, yakni Romi Septiawan (30 kemudian mengambil bayi dari perut Erni Susanti (26) dengan cara yang sangat mengerikan.

    Romi sempat melarikan diri, namun ia berhasil ditundukkan polisi. Ketika diinterogasi, ia mengaku tega melakukan hal kejam tersebut lantaran kesal. Pasalnya selama 4 bulan mereka selalu bertengkar cuma gara-gara Romi dilarang membuka ponsel milik korban.

    Korban memang telah menghadap Sang Pencipta dengan tubuh bersimbah darah, namun beruntung sang buah hati masih dapat diselamatkan. Fakta ini lalu membuat publik bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Apakah memang janin bisa selamat meski ibu meninggal dunia?

    Mengenai hal tersebut, pakar pun buka suara. Disebutkan janin dapat bertahan hidup dalam waktu sangat lama setelah ibu mereka meninggal. Namun ini juga tergantung pada kondisi tubuh. Misalnya, jika tak ada sirkulasi darah pada ibunya sehingga oksigen ke tali pusat terhenti, janin akan mati segera.

    Baca Juga: Bayi Ini Terlahir dengan Kondisi Tak Biasa Hingga Hebohkan Dokter, Pengakuan Orangtuanya Mengejutkan

    Akan tetapi, menurut Life News, selama masih ada sirkulasi darah, janin masih bisa mendapatkan asupan oksigen yang diteruskan melalui tali pusat. Pada satu kasus, ketika sang ibu baru saja meninggal, prioritas pertama adalah melakukan bedah caesar untuk melahirkan bayi sesegera mungkin.

    Pada kasus lain, ketika kematian sang ibu kurang traumatis, ibu akan dipakaikan mesin pendukung kehidupan yang cukup lama. Dengan bantuan mesin ini maka anak akan berkembang lebih jauh sebelum akhirnya siap dilahirkan ke dunia.

    Contohnya seperti diberitakan The Telegraph, pada tahun 2009, ketika seorang wanita Inggris bernama Jayne Soliman (41) yang baru hamil 25 pekan, meninggal dunia lantaran pendarahan otak. Tim dokter menggunakan cara tersebut kepada Soliman.

    Soliman mendapat dukungan hidup cukup lama untuk sang putri yang akan dilahirkan melalui prosedur operasi bedah caesar. Dan begitu sang buah hati dilahirkan, mesin pendukung kehidupan Soliman pun segera dimatikan.

    Menurut catatan The Huffington Post, waktu terlama antara kematian ibu hingga kelahiran bayi yang sehat dan hidup adahal 3 bulan. Hal ini hanya mungkin terjadi karena ibu sudah mati otak dan tetap berada di bawah dukungan kehidupan sebelum dan sesudah mati.

    Terdapat banyak kasus di mana ibu yang mati otak berhasil melahirkan bayi yang sehat, seperti disebutkan Los Angeles Times. Namun demikian, sifat kematian merupakan faktor paling penting dalam menentukan apakah ibu tersebut bisa melahirkan bayi yang sehat.

    Belum ada bukti yang menunjukkan ada kesempatan bagi seorang ibu yang terbunuholeh trauma tubuh atau penyakit bisa melahirkan bayi yang sehat. Pasalnya dari setiap kasus yang berhasil terjadi dengan bantuan dari mesin yang dipasangk sebelum dan sesudah ibu tersebut dinyatakan meninggal dunia.

    Kematian otak, menurut Perpustakaan Kedokteran Nasional, sama absolutnya dengan kematian karena peredaran darah atau pernapasan. Ini berarti dalam kasus kematian yang disebabkan peredaran darah atau pernapasan, ibu yang meninggal tak sanggup memberikan darah dan oksigen melalui tali pusat ke janinnya, sehingga janin hanya punya waktu kurang dari satu menit untuk bertahan hidup.