Dosen Ini Terancam Penjara 12 Tahun Karena Rekam Dirinya Sedang Begituan dengan Mahasiswanya


    SURATKABAR.ID – I Putu Eka Swastika alias Eka—dosen berusia 26 tahun terancam kena hukuman 12 tahun penjara karena merekam dirinya sedang melakukan hubungan intim dengan mahasiswanya. Oknum dosen perguruan swasta di Denpasar asal Desa Blahbatuh, Gianyar tersebut terancam kena hukuman maksimal 12 tahun. Menyusul pula dugaan bahwa dirinya melakukan tindak pidana pornografi. Sedangkan yang menjadi korban—ironisnya—justru ialah mahasiswinya sendiri. Sebut saja ia Melati.

    Menukil laporan BaliExpress.JawaPos.com, Rabu (20/02/2019), oknum dosen terkait telah menjalani sidangnya di Pengadilan Negeri Denpasar pada hari Senin kemarin (18/02/2019). Namun, sidang yang dipimpin Hakim I Gde Ginarsa itu berlangsung tertutup. Sementara penuntut umum yang bertugas dalam persidangan ini ialah Jaksa IGA Rai Artini.

    Berdasarkan informasi yang diperoleh, terdakwa didakwa secara alternatif. Dakwaan pertama dan kedua merujuk pada Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Masing-masing Pasal 29 dan Pasal 32.

    Sementara dalam dakwaan ketiga, terdakwa diduga melakukan perbuatan tak menyenangkan sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Sesuai pasal yang diterapkan dalam dakwaan kesatu, ancaman hukumannya maksimal 12 tahun dan denda Rp 6 miliar.  Sesuai dakwaan ini, terdakwa diduga membuat video m***m. Isinya, rekaman dirinya sedang melakukan hubungan badan.

    Baca juga: Suami Sering Pakai Gaya Ini Saat Indehoi, Sang Istri Minta Cerai Karena Tak Sanggup

    “Perkaranya terjadi sekitar 2017 lalu,” ungkap sumber di sela berlangsungnya persidangan.

    Perbuatan terdakwa itu terjadi sebanyak tiga kali. Satu lokasi kejadiannya, yang pertama, justru di rumah terdakwa sendiri yang terletak di Desa Blahbatuh, Gianyar.

    Terdakwa yang usianya relatif muda itu disebut-sebut mudah berbaur dengan para mahasiswa. Tak terkecuali dengan korban yang dikenal sejak 2015 lalu. Bahkan sejak 2017, hubungan antara terdakwa dengan korban lumayan dekat. Meski begitu, kedekatan tersebut rupanya tidak berstatus pacaran.

    Perbuatan terdakwa sendiri bermula ketika dirinya mengajak korban jalan-jalan di seputaran Gianyar. Itu pun dengan janji bahwa jalan-jalan itu dilakukan beramai-ramai bersama teman.

    Namun di pertengahan jalan, terdakwa mengajak korban ke rumahnya di Blahbatuh, Gianyar. Alasannya, sang dosen mau ganti baju dulu. Sedangkan korban dibiarkan seolah menunggu teman-temannya. Tapi ternyata itu semua hanya modus dan kebohongan belaka. Di saat itulah, terdakwa diduga mulai melancarkan rayuan kepada korban agar mau melakukan hubungan badan; meskipun saat itu korban menolaknya.

    Mengancam Nilai Akan Dibuat Jelek

    Keesokan harinya, terdakwa kembali mengajak korban ke rumahnya. Alasannya masih sama. Jalan-jalan. Dan kali ini, terdakwa kembali merayu korban untuk mau berhubungan badan. Tapi korban lagi-lagi menolak.

    Lantaran mengalami penolakan lagi, terdakwa mulai mengancamnya. Nilai korban akan dibuat jelek dan reputasinya di kampus akan dijatuhkan. Terlebih si dosen ini mengaku dirinya disebut-sebut punya pengaruh di kampus itu.

    Korban yang jadi ketakutan pun akhirnya bersedia menuruti keinginan pelaku. Dan selama berhubungan badan itu, rupanya dosen itu merekam dan memotret tubuh korban yang tanpa busana dengan ponselnya.

    Video dan foto yang ada lantas disimpannya kembali di laptop miliknya. Korban yang belakangan mengetahuinya lalu meminta agar gambar dirinya dihapus. Namun nyatanya malah masih tersimpan.

    Pada pertengahan 2018 lalu, terdakwa kembali mengajak korban berhubungan badan. Tapi korban kali itu menolaknya. Korban lantas kabur ke rumahnya. Di saat yang sama, terdakwa mengirimkan pesan singkat yang berisi ancaman kepada korban. Intinya, dosen itu mengancam akan menyebar video persetubuhan mereka serta foto b***l korban ke teman-temannya maupun orang lain.

    Korban pun tak mau tinggal diam. Ia lantas menangkap layar (screenshot) isi percakapan tersebut. Berbekal percakapan sebagai barang bukti itulah, korban lantas melaporkan perbuatan terdakwa itu ke pihak kepolisian.