Tak Digaji dan Dikurung Majikan Selama 12 Tahun, TKW di Yordania Sampai Lupa Bahasa Indonesia


SURATKABAR.ID – Tak ada habisnya kisah pilu para tenaga kerja Indonesia (TKI) di negara asing. Seorang TKI bernama Diah Anggraini (36) asal Malang, Jawa Timur, akhirnya dipulangkan setelah berhasil kabur dari majikannya di Ibu Kota Amman, Yordania.

Seperti yang dilansir dari laman CNNIndonesia.com pada Selasa (19/2/2019), Diah sempat disekap dan tak mendapatkan gajinya selama 12 tahun. Akibat perlakuan keji tersebut, ia sampai-sampai mengalami kesulitan menggunakan bahasa Indonesia ketika diselamatkan.

Atase Ketenagakerjaan KBRI Amman, Suseno Hadi, mengungkapkan selama 12 tahun tersebut rupanya sang majikan melarang Diah menjalin komunikasi dengan keluarganya di Indonesia. Diah memutuskan kabur dari majikannya sekitar pertengahan bulan Oktober 2018 lalu.

Menurut Suseno, TKI malang ini berhasil melarikan diri ketika sang majikan pergi dan tak mengunci pintu rumahnya. Ketika kali pertama mendatangi KBRI, Suseno mengatakan Diah bahkan sampai terbata-bata ketika menjelaskan kasus yang menimpanya menggunakan bahasa Indonesia.

“Begitu bisa keluar rumah, (Diah) mencari taksi dan minta tolong diantar ke KBRI. Saat datang pertama kali (ke KBRI) Diah tidak mampu berbahasa Indonesia, bahkan sudah tidak tahu di mana keluarganya,” jelas Suseno kepada CNNIndonesia, Selasa (19/2) kemarin.

Baca Juga: Kisah Pilu Mantan TKI, Harus Lakukan Hal Tak Terduga Ini Demi Bisa Kembali ke Tanah Air

Lebih lanjut, Suseno menjelaskan, Diah pun segera menjalani pemeriksaan dan ditampung di KBRI. Ia juga mengungkapkan bahwa pihak KBRI langsung berkoordinasi dengan kementerian Luar Negeri RI di Jakarta untuk mencari tahu keberadaan keluarga Diah.

“Kami juga menghubungi majikan. Pertama, tidak diangkat. Kedua kali menghubungi juga majikan tidak mengaku. Setelah kami ancam bahwa kasusnya akan diangkat ke pengadilan, baru majikan Diah mau datang,” tuturnya.

Menurut penjelasan Suseno, selama bekerja di Yordania, Diah sudah pindah majikan sebanyak dua kali. Majikan pertama Diah, dituturkan, sudah meninggal dunia. Diah lalu dipekerjakan kepada menantu dari mendiang majikan tersebut tanpa melalui proses legal.

Disebutkan Suseno, meski tak menerima perlakuan berupa kekerasan atau penganiayaan, namun Diah tak pernah menerima upah selama bekerja 12 tahun di dua majikan tersebut. Ia bahkan dilarang menelepon keluarga dan pulang ke tanah kelahirannya.

“Selama 12 tahun memang tidak ada tanda-tanda Diah menerima uang. Saat kabur ke KBRI pun dia tidak membawa apa-apa kecuali pakaian yang dipakainya saja,” jelas Suseno.

Lantaran KBRI masih harus memperjuangkan gajinya yang belum dicairkan sang majikan, Diah saat itu tak langsung dipulangkan. Untuk sementara Diah tinggal di penampungan dan dilatih ketrampilan sembari menunggu proses pemulangannya empat bulan lamanya.

“Alhamdulillah sejak tinggal di shelter kirang lebih empat bulanan semuanya kembali pulih. Diah mulai biasa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia karena hampir setiap hari berkomunikasi dengan keluarga,” ungkap Suseno.

Selain itu, Suseno menjelaskan, pihak KBRI sempat memanggil majikan Diah untuk meminta pertanggungjawaban. Setelah melalui proses mediasi, ungkapnya, sang majikan akhirnya bersedia membayarkan gaji Diah yang mencapai US$ 9.000 atau setara dengan Rp 126 juta.

Majikan Diah juga bersedia menanggung tiket pulang Diah ke Indonesia. Dikatakan Suseno, Diah dan empat orang kawannya didampingi staf KBRI Amman, dikabarkan telah menginjakkan kaki di Malang, Jawa Timur, Selasa (19/2) siang kemarin.

“Semoga kasus Diah dapat menjadi pelajaran bagi WNI lainnya yang ingin bekerja di luar negeri untuk lebih waspada dan selalu menjalin kontak dengan perwakilan RI di luar negeri,” ungkap Suseno.