Napi Terorisme Adik Ustaz Abu Bakar Ba’asyir Telah Bebas Murni dari Lapas


SURATKABAR.ID – Narapidana kasus terorisme yang juga merupakan adik Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Noim Ba’asyir, hari ini telah bebas murni dari Lapas Tulungagung. Sebelumnya, Noim Ba’asyir menghuni Lapas Klas II B Tulungagung, Jawa Timur. Dan hari ini, Selasa (19/02/2019), sekitar pukul 08.30 WIB, ia telah rampung menyelesaikan masa hukuman selama enam tahun penjara.

“Iya, hari ini yang bersangkutan bebas murni,” ujar Kalapas Klas II B Tulungagung Erry Taruna kepada pers, Selasa (19/02/2019). Demikian dikutip dari reportase SindoNews.com.

Diketahui sebelumnya, Noim merupakan salah satu pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) yang terlibat aktivitas terorisme.

Kilas balik, di tahun 2014 lalu, pengadilan menjatuhkan vonis enam tahun penjara. Noim menjalani hukuman dari penjara ke penjara. Sebelum menghuni Lapas Tulungagung mulai 25 Juli 2017, Noim juga pernah menghuni lapas Sumenep dan lapas Tuban.

Erry mengatakan bahwa di Tulungagung, Noim hanya menjalani sisa hukuman dua tahun penjara. Noim juga pernah mendapat remisi dasawarsa selama tiga bulan.

Baca juga: Tim Dokter MER-C Ungkapkan Kondisi Kesehatan Abu Bakar Ba’asyir

“Kurang lebih dua tahun di Tulungagung,” bebernya.

Erry juga memaparkan dirinya sempat berpesan kepada Noim agar ke depannya tidak lagi melibatkan diri dengan kegiatan yang dapat menyeretnya kembali ke persoalan hukum. Lelaki gondrong dan berjenggot tebal itu diminta untuk berkonsentrasi mengurus keluarga dan pekerjaan seperti umumnya warga negara yang baik dan benar lainnya.

“Intinya, saya berpesan kepadanya jangan lagi berurusan dengan lapas,” tandas Erry menegaskan.

Berdasarkan pantauan wartawan, pembebasan Noim Ba’asyir disambut oleh pihak keluarga. Sebuah Kijang Innova warna silver dengan nomor polisi AD 8906 KA menyambutnya di pintu Lapas Klas II B Tulungagung.

Terlihat empat orang yang menjemput, dengan dua di antaranya wanita bercadar hitam dan anak-anak. Sebelum naik ke atas mobil, Noim sempat memperlihatkan surat pembebasannya.

Sewaktu ditanya apakah dalam waktu dekat akan menjenguk sang kakak—Ustadz Abu Bakar Ba’asyir—Noim hanya menjawab, dirinya akan mengurus keluarga.

“Saya akan mengurus keluarga,” tukasnya singkat.

Sebagaimana diketahui, selain Noim Ba’asyir, Lapas Tulungagung juga menampung dua napi teroris lain, yakni Fahrizal (9 tahun penjara) dan Ridwan Sungkar (4 tahun penjara). Belum lama ini Defi dilayarkan ke lapas Nusakambangan. Sedangkan Ridwan tahun ini juga akan menghirup udara bebas.

Kebiasaan Selama di Lapas

Selama mendekam di Lapas Klas IIB Tulungagung, Noim Baasyir ini ternyata sering menolak hormat ke bendera merah putih. Hal itu pun terjadi saat pihak Lapas melaksanakan upacara peringatan kemerdekaan ke-72 RI di lingkungan Lapas Klas IIB Tulungagung.

Mengutip AntaraNews.com via Bangka.TribunNewscom, tiga narapidana kasus terorisme yang mendekam di sel tahanan Lapas Klas IIB Tulungagung diketahui menolak mengikuti upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI.

Mereka—termasuk Noim Baasyir—juga menolak memberikan hormat kepada bendera merah putih. Menurut pengakuan Kepala Lapas Klas IIB Tulungagung Erry Taruna, pihaknya sudah membuka semua pintu kamar tahanan mereka. Bahkan, pihak lapas mengajak ketiga napi ikut seremoni upacara bendera untuk memperingati Kemerdekaan ke-72 RI. Namun, mereka hanya ingin berada di sel.

“Kami belum bisa tarik secara menyeluruh untuk mengikuti kegiatan ini, apalagi salah satunya baru pindahan warga binaan pindahan dari Tuban,” imbuh Erry Taruna.

“Jadi belum bisa wajib ikut. Mau ikut silakan, tidak ikut tidak apa-apa, terserah mereka,” ungkapnya menjelaskan.

Erry menambahkan, tim sipir telah berupaya mendekati mereka dengan baik-baik. Termasuk dengan membuka pintu sel tahanan menjelang upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI pada Kamis pagi sekitar pukul 07.00 WIB lalu. Namun ketiga napi bersikeras bertahan di dalam sel.

“Mereka mengakunya ya belum siap,” sebutnya kemudian.

Jangankan mengikuti upacara dan menghormat bendera merah putih bersama warga binaan lain. Ketiga narapidana kasus terorisme itu bahkan tak bersedia mengikuti program deradikalisasi yang ditawarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Ketiga napi yang dimaksud bernama Fahrizal, Ridwan Sungkar dan Noim Baasyir. Informasi yang beredar, ketiganya tak mau ikut program deradikalisasi karena mengkhawatirkan keselamatan anggota keluarga mereka.

“Adaptasi dengan warga binaan lain tidak masalah, komunikasi mereka juga baik. Mereka justru mudah diajak bicara asal di tempat terbuka, kalau tertutup malah tidak mau karena tidak ingin ada kecurigaan dari napi lain ataupun petugas LP,” sahut Erry.