Mengenal Arti Jejak Digital Bagi Pengguna Internet


SURATKABAR.ID Memasuki tahun politik menjelang Pilpres 2019 saat ini, media massa kerap menjadi ‘saksi bisu’ aksi saling serang guna menjatuhkan hingga menyerang lawan. Salah satu sumber informasi yang kerap digunakan terkait pemberitaan atau unggahan media sosial tersebut tentunya meninggalkan jejak digital. Berkenaan dengan hal ini, muncullah pertanyaan terkait apa itu jejak digital. Apa pula hubungannya dengan pengguna internet serta Pilpres 2019?

Mengutip reportase CNNIndonesia.com, Senin (18/02/2019), jejak digital merupakan bekas tapak data yang tertinggal ketika seseorang menggunakan internet. Bentuk jejak digital ini pun bisa bermacam-macam. Sebut saja mulai dari situs yang pernah ia kunjungi, surat elektronik (surel) yang dikirimkan, serta beragam informasi yang sempat dikirim atau dibagikannya secara online (daring).

Halaman Tech Terms membagi jejak digital menjadi dua jenis yaitu aktif dan pasif. Jejak digital aktif ialah data yang sengaja dibagikan oleh pengguna internet dengan harapan bisa dilihat atau disimpan oleh orang lain.

Semakin banyak data atau informasi yang dibagikan, maka semakin banyak jejak digital yang bisa dilihat atau disimpan oleh orang lain. Mengirim surel atau unggahan di blog dan media sosial merupakan contoh jejak digital yang aktif.

Surel yang dikirimkan akan tetap tersimpan secara online untuk jangka waktu lama. Sama halnya dengan unggahan di media sosial seperti Twitter, Instagram, atau Facebook.

Baca juga: Fenomena Ghosting: Saat Dia yang Kamu Cintai Pergi Tanpa Alasan dan Kejelasan

Jejak digital yang tertinggal akan semakin banyak jika Anda berlama-lama di media sosial. Untuk hal sepele seperti menyukai foto atau unggahan status akan tetap tersimpan di server Facebook.

Sementara jejak pasif merupakan data yang tanpa sadar telah ditinggalkan oleh pengguna internet. Ini termasuk seperti riwayat penelusuran website hingga alamat IP. Sebagai contohnya yaitu alamat IP yang akan mengenali penyedia layanan internet (internet service provider/ ISP), hingga lokasi sewaktu Anda mengakses situs tertentu.

Kendati alamat IP bisa berubah dan tidak menyertakan informasi pribadi, namun tetap saj hal ini dianggap sebagai bagian dari jejak digital.

Sebenarnya, jejak digital bukan hal yang perlu dikhawatirkan lantaran dimiliki oleh semua orang yang pernah mengakses internet.

Jejak Digital Data Konflik Agraria

Sebelumnya, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyebutkan bahwa dalam pembangunan infrastruktur selama 4,5 tahun, hampir tidak terjadi konflik pembebasan lahan. Melansir TribunNews.com, hal ini diungkapkannya dalam debat kedua Pilpres 2019 semalam, Minggu (17/02/2019).

Namun, Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Sudirman Said menyesalkan klaim Jokowi itu.

Menurut Sudirman Said, data lain yang beredar menunjukkan kondisi yang berbeda. Ia pun mengutip salah satu pemberitaan terkait konflik agraria yang terjadi di era Jokowi.

“Banyak sekali data-data yang asal klaim padahal jejak digital dengan gampang menganggap data itu salah. Contoh, beliau katakan tidak ada konflik agraria, di sini (salah satu pemberitaan) konflik agraria era Pak Jokowi 41 orang tewas, 546 dianiaya,” beber Sudirman di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/02/2019).

Hal serupa juga disampaikan Koordinator Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak. Ketika Jokowi menyampaikan klaim itu, Prabowo tak ingin menilai Jokowi berbohong dalam forum debat. Ia mengatakan, Prabowo lebih memilih menyerahkan klaim ini untuk dinilai masyarakat, demikian menukil laporan Kompas.com.

“Beliau menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat dan kepada publik menilai mana pemimpin yang menjunjung nilai nilai kejujuran mana yang tidak. Padahal media tulis dengan terang konflik agraria di era Jokowi 41 orang tewas dan 546 dianiaya,” sebutnya memaparkan.