Allahu Akbar! 7 Peristiwa dalam Al-Qur’an Ini Terbukti Kebenarannya Secara Ilmiah


SURATKABAR.ID – Sejak beberapa abad terakhir, satu demi satu kebenaran yang tertuang dalam Al-Qur’an mulai terbukti. Apa yang selama ini tertulis dalam kitab suci umat Muslim akhirnya ditemukan para ilmuwan melalui sejumlah penelitian mereka.

Bagi umat Muslim, Al-Qur’an yang merupakan penyempurna kitab-kitab sebelumnya memiliki keajaiban, yakni keaslian isinya terpelihara. Tidak ada yang berubah dari isi Al-Qur’an sejak kali pertama turun pada malam 17 Ramadan, 14 abad silam, hingga detik ini, bahkan mungkin sampai hari akhir nanti.

Fakta-fakta mencengangkan yang sebenarnya telah termaktub dalam Al-Qur’an yang datang jauh sebelum penelitian diadakan, berhasil ditemukan beberapa ilmuwan. Di bawah ini 7 ayat Al-Qur’an yang telah terbukti secara ilmiah seperti yang dihimpun dari Tribunnews.com, Jumat (15/2/2019):

Sungai di Bawah Laut

Adapun definisi sungai sendiri adalah aliran air yang besar, memanjang, dan mengalir secara terus-menerus tanpa henti dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Tetapi, menilik penelitian Jacques-Yves Cousteau, pakar peneliti dunia bawah laut asal Mexico, tampaknya definisi sungai perlu diperbaiki.

Pasalnya, dalam penelitian yang ia tekuni membuktikan adanya sungan di dalam lautan lepas. Sungai bawah laut ini bahkan memiliki air tawar yang tak bercampur sedikit pun dengan air asin dari laut. Adanya perbedaan tekanan lapisan air yang membuat sungai bawah laut terbentuk.

Baca Juga: Subhanallah! Nekat Tawaf di Tengah Banjir Besar Saat Usia 12 Tahun, Kisahnya Bikin Merinding

Hal tersebut telah disampaikan dalam Al-Qur’an, Surat Ar-Rahman ayat 19-20 dan surat Al-Furqan ayat 53. Surat Ar-Rahman ayat 19-20 memiliki arti: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

“Dan Dia-lah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi,” demikian arti surat Al-Furqan ayat 53.

Jasad Firaun yang Masih Utuh

Fir’aun merupakan gelar untuk para penguasa, pemimpin keagamaan dan pemimpin politik di zaman Mesir Kuno. Pada 1975, Presiden Prancis menawarkan bantuan kepada Kerajaan Mesir untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Fir’aun, Ramsess II, yang sangat ternama.

Ramsess II, menurut cerita, tewas tenggelam di Laut Merah ketika nekat mengejar Nabi Musa dan para pengikutnya. Dalam penelitian yang dipimpin Profesor Doktor Maurice Bucaille, sejumlah fakta mengejurkan berhasil ditemukan pada jasad Fir’aun.

Sisa-sisa garam yang melekat pada jasad pemimpin paling berpengaruh di masanya itu menjadi bukti nyata bahwa Fir’aun benar-benar mati karena tenggelam di telan laut. Fakta lain adalah soal jasad yang diangkat dari laut, kemudian dirawat, dan dimumikan hingga sampai sekarang tetap awet.

Dalam Al-Qur’an yang turun beberapa dekade jauh sebelum penelitian dimulai, berisi penjelasan dalam surat Yunus ayat 92, yang mana artinya: “Maka hari ini, Kami biarkan engkau (hai Fir’aun) terlepas dari badanmu (yang tidak bernyawa ditelan laut), untuk menjadi tanda bagi orang-orang setelahmu (supaya mereka mengambil pelajaran). Dan (ingatlah) sesungguhnya kebanyakan manusia lengah terhadap tanda-tanda kekuasaan Kami!”

Setiap yang Diciptakan adalah Berpasang-Pasangan

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah,” arti surat Adz-Zaariyat ayat 49 yang menjelaskan bahwa tidak ada satu pun hal di alam dunia ini diciptakan melainkan memiliki pasangannya masing-masing.

Paul Dirac, ilmuwan asal Inggris, melalui penelitiannya membuktikan bahwa materi diciptakan secara berpasangan. Dalam electron, terdapat proton dan neutron. Penemuannya dinamakan ‘Parite. Berkat penelitiannya, ia dianugerahi Nobel di bidang Fisika pada tahun 1933.

Air adalah Asal Segala yang Hidup

Keberadaan air di suatu tempat menjadi indikasi awal bahwa ada kehidupan di tempat tersebut. Segala yang bernyata, termasuk tumbuhan bersel satu mengandung air dan butuh air untuk bertahan hidup. Hal itu sudah dijelaskan dalam surat Al-Anbiya ayat 30: “…dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup…”.

Selat Gibraltar, Tempat Dua Jenis Air Laut yang Berbeda Bertemu

Bukti nyata sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, surat Ar-Rahman ayat 19-20; “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

Demikian juga dalam surat Al-Furqan ayat 53; “Dan Dia-lah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”

Firman dalam Al-Qur’an diturunkan pada abad 7 M, empat belas abab lampau. Coba bandingkan dengan penjelasan secara Fisika modern yang baru ada di abad 20 M oleh para ahli Oceanografi.

Gunung Berfungsi sebagai Penahan Agar Bumi Tidak Bergoncang

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…,” arti ayat 31 dalam surat Al-Anbiya di kitab suci Al-Qur’an.

Sungguh Allah telah menjelaskan secara gamblang bahwa gunung diciptakan dengan tujuan tersendiri. Gunung-gunung kokoh diciptakan dengan maksud untuk menahan bumi dari goncangan. Goncangan di sini bisa diartikan sebagai peristiwa alam, seperti gempa bumi.

Dan hal tersebut baru bisa dibuktikan secara ilmiah pada masa Geologi modern dengan menggunakan peralatan-peralatan yang canggih.

Menurut penelitian, gunung terbentuk karena adanya pergerakan dan tumbukan antara lempeng-lempeng raksasa yang membentuk kerak bumi. Saat dua lempeng saling bertumbukan, lempeng terkuat akan menyelip di bawah lempeng yang lemah. Dari sinilah kemudian dataran tinggi berupa gunung terbentuk.

Sementara lapisan bawah akan membentuk bagian yang menjulang sangat besar ke dalam. Struktur tersebut digambarkan sebagai pasak di dalam Al-Qur’an. “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” surat An-Naba’ ayat 6-7.

Di kemudian hari barulah diketahui bahwa gunung dan pasaknya adalah yang menahan lempengan-lempengan bumi pada titik-titik pertemuannya. Dengan keberadaan gunung dan pasak, bumi tak akan dibuat terombang-ambing oleh magma yang bergerak di lapisan bumi paling bawah.