Miris! Bocah Yatim Piatu Ini Hidupi Keluarga dengan Jualan Cilok


SURATKABAR.ID – Muhammad Saputra, demikian bocah cilik ini, harus menghidupi keluarganya dengan berjualan cilok. Setelah ditinggal pergi oleh kedua orangtua untuk selamanya, Putra, demikian sapaan akrab bocah 12 tahun ini berjuang membantu kakaknya mencari nafkah. Mereka harus menghidupi lima orang anggota keluarga dengan cara berjualan cilok (singkatan dari ‘aci dicolok’) dengan berkeliling.

Cilok ialah salah satu makanan khas Jawa Barat yang terbuat dari tapioka yang kenyal. Bumbu pelengkap tambahannya antara lain seperti sambal kacang, kecap, dan saus. Cilok dibentuk bulat-bulat seperti bakso, hanya saja bahan dasarnya berbeda.

“Jualan setiap hari, sore (setelah) pulang sekolah,” ujar Putra saat dijumpai tim pers di kediamannya yang berada di Jalan Cikini Dalam, Juramangu Barat, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Rabu (13/02/2019). Demikian dikutip dari Kompas.com Kamis (14/02/2019).

Dengan menggunakan sebuah sepeda yang dipasangi keranjang putih tempat meletakkan cilok-cilok tersebut, Putra berkeliling hingga pukul 21.00 WIB. Dalam sehari, Putra bisa menjual hingga 250 tusuk cilok yang dihargai Rp 2.000 per tusuknya.

Baca juga: Dulunya Cuma Pembantu, Tak Disangka 5 Wanita Ini Sekarang Jadi Artis Terkenal

Namun jika sedang sepi pembeli, Putra tak segan membagi-bagikan cilok itu ke para tetangganya.

Hasil dari berjualan itu kemudian digunakan untuk membantu membeli keperluan sehari-hari, membayar kontrakan rumah kayu yang berukuran kurang lebih 3×5 meter, biaya sekolah adik pertamanya yang duduk di bangku TK, serta susu dan popok adik bontotnya yang masih berusia 10 bulan.

Menurut Siti Juleha (17), kakak Putra, adiknya itu sudah mulai berjualan cilok saat almarhum kedua orangtua mereka meninggal.

“Sebelumnya saya yang jualan cilok, mama bantuin bikin, saya yang gorengin, jualin,” beber Leha.

Namun kini Leha terpaksa mengandalkan suaminya yang berprofesi sebagai sopir angkot dan adiknya Putra untuk mencari uang, sementara ia harus mengurus adiknya yang paling kecil. Adapun ayah dan ibu Putra meninggal pada 2018 lalu.

Ibu Putra meninggal setelah melahirkan adiknya yang paling kecil, sementara ayahnya meninggal lantaran sakit paru-paru yang dideritanya.

Saat berjualan cilok dengan sepedanya, Putra pernah diserempet sebuah mobil. Pengendara mobil itu kemudian memarahinya dan meminta ganti rugi.

“Diomelin suruh ganti rugi, tapi ada yang belain juga. Kalau disuruh ganti rugi mah nanti uang cilok habis semua,” ungkap bocah yang selalu tersenyum ini.

Ia juga pernah diusir oleh seorang pedagang cilok lainnya karena dianggap mengambil wilayah berjualan si pedagang. Kata Putra, tak jarang orang-orang yang datang membeli dagangannya memberikan uang lebih sebagai bentuk rasa iba.

“Ada lumayan dikasih buat jajan Rp 20.000, Rp 30.000,” tukasnya.

Dibuatkan Tetangga

Cilok-cilok yang dijual Putra dibuat oleh tetangga sebelah rumahnya yang bernama Ratini.

“Putra yang jualin, saya yang bikinin doang. Kasihan enggak ada yang bantuin,”papar Ratini.

Ia merasa iba dan miris karena keempat kakak beradik itu harus berjuang bersama untuk hidup akibat ditinggal almarhum kedua orangtua mereka.

“Semoga jadi orang sukses, sudah berjuang berat begini enggak ada emaknya enggak ada bapaknya, kasihan,” imbuh Ratini kemudian.

Putra sendiri berencana untuk terus berjualan cilok hingga dua orang adiknya besar dan bisa bersekolah dengan layak. Bahkan, ia bercita-cita bisa membeli rumah sendiri dari uang yang disisihkannya dari hasil berjualan cilok.