Marsinah, Tewas Setelah Menuntut Kenaikan Gaji Rp. 550. Begini Ceritanya


    marsinah-buruh-dibunuh-gara-gara-minta-upah-naik-rp-550

    Bagi kalangan kaum buruh, Marsinah adalah nama yang tidak asing. Kematiannya yang misterius saat memperjuangkan hak-hak kaum pekerja pabrik membuat wanita kalahiran 10 April 1969 tersebut menjadi sosok pahlawan dan ikon perjuangan para buruh.

    Marsinah, aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur kabarnya diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di dusun Jegong, desa Wilangan dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

    Ironis, tragedi kematian Marsinah berawal dari permintaan kenaikan upah sebesar Rp. 550.

    Dilansir dari merdeka.com, disebutkan jika awal tahun 1993, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan edaran berupa imbauan pada perusahaan untuk memberikan kenaikan gaji sebesar 20 persen bagi karyawannya.

    Awalnya, PT. CPS enggan memenuhi aturan kenaikan upah tersebut hingga membuat Marsinah dan beberapa kawan melakukan aksi menuntut upah layak dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250, sesuai dengan surat edaran Gubernur KDH TK I Jawa Timur No. 50 Tahun 1992.

    “Katanya ada kenaikan upah, tapi ternyata upah buruh mulai uang makan, transport dan dinas sore (kerja shift sore) itu tidak dinaikan dari perusahaan. Yang akhirnya Mbak Marsinah mengajak kita-kita (buruh) untuk melakukan aksi mogok kerja,” kata Uus, seorang rekan seperjuangan Marsinah, Sabtu (30/4/2016) di kediamannya, di Malang, Jawa Timur, dilansir dari merdeka.com.

    Dari keterangan Uus, didapatkan informasi jika para buruh membentuk tim kerja (koordinator) aksi, yang jumlahnya 18 orang termasuk Marsinah dan Uus. Marsinah adalah pemimpin kelompok tersebut.

    Marsinah bagi 18 orang tersebut sebagai perempuan yang punya nyali tinggi dan pemberani. Setiap ada aksi, Marsinah berada di garis depan untuk memimpin serta meneriakan orasinya.

    Lanjut ke halaman selanjutnya >>