Catat Tanggalnya! Fenomena Alam Langka Snow Moon Akan Terjadi di Bulan Ini


SURATKABAR.ID – Di tahun 2019 ini, dunia akan menyaksikan fenomena alam yang langka supermoon sebanyak tiga kali berturut-turut. Yang pertama yakni pada 21 Januari kemarin, lalu menyusul di tanggal 19 Februari serta terakhir pada 21 Maret 2019 nanti. Sebagai informasi, ketiga gerhana bulan ini tercatat merupakan fenomena alam yang langka.

Seperti dikutip dari Space via SindoNews.com, Kamis (13/02/2019), jika pada tanggal 20-21 Januari 2019 gerhana bulan itu dinamai Super Blood Wolf Moon, maka gerhana yang akan terjadi di 19 Februari 2019 dinamai Snow Moon. Snow Moon akan menjadi bulan purnama terdekat tahun ini.

Lebih lanjut, nama supermoon sendiri sebenarnya diberikan oleh pakar astrologi Richard Nolle, yang berarti “bulan purnama yang tampil lebih besar di depan manusia”.

Menurut Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), penampakan bulan pada Selasa (19/02/2019) nanti merupakan awal dari ‘trilogi supermoon’. NASA menghitung jarak terdekat bumi dan bulan mencapai 357.492 km.

Supermoon merupakan kesempatan besar bagi orang yang ingin melihat lebih dekat tentang bulan, bukan hanya sekali, tetapi setiap kesempatan yang mereka hadapi,” tukas Noah Petro, ilmuwan Goddard Space Flight Center, NASA, mengutip Fox News.

Baca juga: Aneh Tapi Nyata! 5 Tempat di Bumi Ini Seolah Tak Ada Gravitasi

Kemudian, Robert Massey, dari Komunitas Astronomi Inggris, penampakan supermoon membuat bulan terlihat membesar secara kasat mata; meski sebenarnya tidak.

“Hal itu disebabkan ilusi optik karena bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi atau disebut perigee,” beber Massey.

Sekilas Supermoon

Melansir Grid.id, supermoon atau “bulan super” merupakan fenomena yang terjadi saat Bulan berada pada titik terdekatnya dengan Bumi. Orbit Bulan yang mengelilingi Bumi itu tidak berbentuk lingkaran, tapi berbentuk oval, seperti orbit Bumi pada Matahari.

Nah, karena bentuknya itulah, Bulan bisa berada pada titik terdekat ataupun titik terjauh dari Bumi. Dalam istilah astronomi, titik terdekat Bulan ke Bumi itu disebut perigee. Sedangkan titik terjauh Bulan ke Bumi disebut apogee.

Saat Bulan berada dekat dengan Bumi, Bulan akan terlihat lebih terang dan lebih besar daripada biasanya. Itulah kenapa fenomena ini disebut supermoon.

Blue Moon

Beralih ke Blue Moon, fenomena ini dinamakan Blue Moon saat terjadi dua kali fase Bulan purnama dalam satu bulan kalender. Bulan purnama kedua itu disebut Blue Moon. Mengapa bisa ada dua kali fase purnama dalam sebulan? Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan antara kalender yang manusia buat dengan perhitungan revolusi Bulan.

Satu tahun itu ada 365 hari, berarti Bumi mengitari Matahari selama 365 hari atau 12 bulan. Satu tahun itu sama dengan 12 kali Bulan mengelilingi Bumi.

Namun ternyata Bulan tidak membutuhkan waktu selama 365 hari untuk 12 kali mengitari Bumi. Bulan hanya butuh waktu sekitar 354 hari lebih 10 jam 49 menit untuk 12 kali berevolusi. Dengan begitu, akan ada 235 fase Bulan purnama selama 228 bulan kalender.

Itu berarti, dalam waktu 19 tahun, akan ada 7 bulan yang terjadi 2 kali fase Bulan purnama.

Blood Moon

Blood Moon atau Bulan Merah ialah istilah untuk menyebut fenomena Gerhana Bulan Total. Saat terjadi Gerhana Bulan Total, Bulan akan terlihat berwarna merah, seperti warna darah. Blood dalam bahasa Inggris memang berarti “darah”.

Gerhana Bulan total itu terbagi ke dalam beberapa fase. Dimulai saat Bulan masuk penumbra atau bayangan samar Bumi, lalu masuk ke umbra atau bayangan inti Bumi. Setelah itu, Bulan sepenuhnya berada di umbra Bumi. Lalu Bulan keluar dari umbra Bumi dan akhirnya keluar dari penumbra Bumi.

Lalu, kapan Bulan akan terlihat berwarna merah? Bulan akan terlihat kemerahan saat ia berada di umbra atau bayangan inti Bumi. Bukan saat Bulan mulai masuk ataupun keluar dari umbra Bumi.

Bulan jadi berwana merah karena cahaya yang dipancarkan sangat redup. Semakin banyak polusi di sekitar kita, maka Bulan akan terlihat semakin merah.