Cabut Remisi Pembunuh Wartawan Radar Bali, Jokowi Akhirnya Buka-Bukaan


SURATKABAR.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mencabut remisi untuk I Nyoman Susrama, pelaku pembunuhan wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Dengan demikian, Susrama bakal terus menjalani hukuman penjara seumur hidupnya.

Lantaran didesak oleh banyak pihak, Jokowi pun memutuskan mencabut remisi tersebut. “Sudah-sudah saya tandatangani,” ujar Jokowi di sela-sela Hari Pers Nasional yang digelar di Surabaya, pada Sabtu (9/2), yang langsung disambut teriakan terima kasih dari wartawan, dikutip dari laman Detik.com.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Susrama mendapatkan remisi berupa pengurangan hukuman. Jika sebelumnya ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, setelah diremisi hukumannya menjadi cuma 20 tahun penjara.

Kasus pembunuhan sadis terhadap seorang wartawan Radar Bali, Prabangsa terjadi pada tahun 2009 silam. Ketika itu Susrama menghabisi nyawa jurnalis senior yang kerap menulis berita tentang dugaan penyelewengan proyek di Dinas Pendidikan.

Mayat Prabangsa yang dibuang ke laut kemudian ditemukan di Padangbai, Klungkung, pada 16 Februari 2009. Sewaktu ditemukan, tubuh tak bernyawa Prabangsa dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Susrama ditangkap dan menjalani persidangan, lalu dijatuhi vonis penjara seumur hidup.

Baca Juga: Remisi Jokowi untuk Otak Pembunuhan Jurnalis yang Dibuang di Laut, Bukti Kemunduran Hukum Indonesia

Alasan Jokowi Batalkan Remisi untuk Susrama

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membatalkan remisi teruntuk I Nyoman Susrama, yang merupakan otak pelaku pembunuhan terhadap seorang wartawan Radar Bali. Adapun alasan Jokowi mengambil keputusan tersebut atas dasar keadilan.

“Ini menyangkut rasa keadilan di masyarakat,” tutur Jokowi ketika ditemui di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, pada Sabtu (9/2), seperti yang dikutip dari laman Kompas.com.

Usai sebelumnya pemerintah memberikan remisi pada awal 2019 sebagai hak untuk Susrama, sejumlah lapisan masyarakat, terutama wartawan, dengan lantang menyuarakan protesnya. Mereka menilai, remisi tersebut sangat tidak adil.

Soal pembatalan tersebut, diungkapkan Jokowi, telah sesuai mekanisme Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi. Sementara bentuk pembatalannya adalah dengan merevisi Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 tentang remisi bagi Susrama yang sebelumnya sempat dikeluarkan.

“Saya perintahkan kepada Dirjen Lapas Kemenkumham menelaah dan mengkaji pemberian remisi itu. Kemudian Jumat kemarin telah kembali di meja saya. Sudah sangat jelas sekali sehingga sudah diputuskan, sudah saya tanda tangani untuk dibatalkan,” tutur Jokowi.