Pembelaan Diri Jokowi Soal Polemik Propaganda Rusia


SURATKABAR.ID – Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) akhirnya buka suara memberikan klarifikasi atas pernyataan ‘Propaganda Rusia’ yang sebelumnya ia lontarkan di Surabaya, Jawa Timur.

Capres petahana ini, seperti yang dilansir dari laman Kompas.com pada Rabu (6/2/2019), menjelaskan bahwa istilah yang ia gunakan tersebut sama sekali tidak mengarah kepada negara Rusia. Hal tersebut ia ungkapkan usai menghadiri sebuah acara di bilangan Jakarta Selatan, kemarin.

“Ya, ini kita tidak berbicara mengenai negara ya,” ujar Presiden Jokowi setelah acara syukuran HUT ke-72 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan syukuran gelar Pahlawan Nasional kepada Profesor Drs Lafran Pane di Jakarta Selatan, Selasa (5/2) malam.

Kemudian Jokowi menjelaskan bahwa ungkapan Propaganda Rusia itu sendiri sebenarnya merupakan terminologi yang muncul pada tahun 2016. Terminologi tersebut muncul dalam sebuah artikel lembaga konsultasi politik Amerika Serikat, Rand Corporation.

Propaganda Rusia yang dikutip mantan Gubernur DKI Jakarta ini adalah teknik firehouse of falsehood alias semburan kebohongan serta fitnah untuk menciptakan opini publik. Jokowi menilai, semburan kebohongan, dusta, dan kabar hoaks dapat sangat mempengaruhi dan membuat ketidakpastian.

Baca Juga: Tanggapi Soal Propaganda Rusia, Jurkam Prabowo: Malu Memiliki Presiden yang Tidak Kompeten

Dalam kesempatan yang sama, Jokowi dengan tegas mengatakan bahwa hubungan bilateral antara RI dan Rusia terjalin dengan sangat baik. “Saya dengan Presiden Putin (Presiden Rusia Vladimir Putin) sangat-sangat baik hubungannya,” tegas Jokowi.

Sebelumnya diberitakan, Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, mengeluarkan tanggapan pedas terkait istilah Propaganda Rusia yang dilontarkan Jokowi beberapa waktu lalu. Melalui akun @RusEmbJakarta, Kedubes Rusia menyampaikan bahwa Rusia tak campur tangan dalam urusan elektoral negara lain.

“Kami menggarisbawahi bahwa posisi prinsipil Rusia adalah tidak ikut campur tangan pada urusan dalam negeri dan proses-proses elektoral di negara-negara asing, termasuk Indonesia yang merupakan sahabat dekat dan mitra penting kami,” tulis Kedubes Rusia untuk Indonesia di akun Twitter-nya, Senin (4/2) lalu.

Selain itu, Kedubes Rusia untuk Indonesia juga menyampaikan soal istilah ‘Propaganda Rusia’ adalah rekayasa yang dibuat pada 2016. Pembuatannya dimaksudhan untuk kepentingan Pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat. Istilah tersebut sama sekali tidak berdasarkan pada kehidupan dunia nyata.

“Sebagaimana diketahui, istilah ‘Propaganda Rusia’ direkayasa pada tahun 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden. Istilah ini sama sekali tidak berdasarkan pada realitas,” tulis akun tersebut.