Tragis! Pernah Lawan Muhammad Ali di Jakarta, Petinju Ini Kini Jadi Gelandangan Bersama Anjing


SURATKABAR.ID – Pada Oktober 1973 silam, petinju legendaris dunia Muhammad Ali pernah bertarung di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Ia saat itu harus melawan rivalnya, Rudi Lubbers yang merupakan petinju asal Belanda. Kini sang legendaris Ali telah wafat,  sementara hidup Lubbers malah jatuh memprihatinkan. Yang miris dan tragis, Rudi Lubbers kini telah berusia 73 tahun. Dan ia hidup bersama kekasihnya, Ria, dalam kemiskinan di Bulgaria.

Menukil Medan.TribunNews.com, Rabu (06/02/2019), Rudi Lubbers mendapat bantuan keuangan setelah akhirnya menarik perhatian di Belanda. Hal itu terjadi menyusul naiknya dokumenter terkait kehidupannya yang tayang di televisi Belanda.

Lubbers selama ini hidup bersama Ria di sebuah van rusak. Mereka berdua hidup tanpa penerangan, air  bersih serta fasilitas MCK. Mereka berteman dengan anjing-anjing liar.

Dan pekan lalu kesehatan Ria menurun drastis sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Kata Lubbers, kondisi Ria telah membaik namun ia harus tetap dirawat di rumah sakit.

“Yang paling penting adalah saat ini kekasih saya sudah membaik  dan dapat memperhatikan anjing-anjingnya lagi,” ujar Lubbers di luar rumah mobilnya di desa Kosharitsa, Bulgaria.

Baca juga: Liliyana Natsir Pensiun dan Jadi PNS, Begini Pesan Khusus dari Jokowi

“Di Bulgaria, tidak mungkin tinggal di sebuah rumah dengan anjing yang banyak. Mungkin bisa bila hanya 3-4 anjing, namun saat ini saya memiliki 16 ekor anjing,” bebernya bercerita.

“Saya bisa hidup normal, namun saya tidak yakin bisa tinggal dalam sebuah rumah. Saya merasa lebih cocok sebagai seorang yang singgah,” tambahnya kemudian.

Diketahui sebelumnya, Rudi Lubbers pernah mewakili negaranya pada Olimpiade 1964 dan 1968. Ia kemudian terjun ke arena profesional pada tahun 1970.

Lubbers mengaku pertarungannya dengan Ali di Jakarta pada 1973 telah mengangkat semangatnya. Saat itu ia mendapat bayaran 125 ribu dolar AS.

“Saya belajar dari pertarungan untuk bertahan hidup sampai saat ini,” tukas Lubbers.

Dia dan Ria selama ini hidup dari bantuan penduduk lokal. Bantuan berupa makanan serta pemberian mastika (baju hangat versi Bulgaria) selama musim dingin diberikan untuk pasangan yang sudah tak berusia senja tersebut.

Dapat Sumbangan Donasi

Banyak rakyat Belanda yang mengaku terkejut mengetahui kondisi pahlawan tinju mereka. Mereka kemudian mengumpulkan donasi sebesar 12.500 euro untuk disumbangkan kepada pasangan ini.

Putra Rudi Lubbers, Marco yang tak bertemu ayahnya selama dua tahun mengunjunginya di Bulgaria setelah menonton dokumentar di televisi Belanda. Ia berencana membuat tempat penampungan buat anjing-anjing liar yang selama ini dirawat sang ayah.

Rudi Lubbers dilahirkan di Heerhugowaard, Belanda pada 17 Agustus 1945. Ia pernah menghadapi petinju yang namanya sudah besar saat itu. Contohnya saja seperti Ali, Joe Bugner (Inggris), Jean Pierre Coopman (Belgia) serta Alferdo Evangelista (Spanyol).

Pensiun dari dunia tinju, Lubbers sempat bekerja bersama Ria sebelum pensiun. Namun sayang, keduanya jatuh miskin usai Ria dinyatakan  bangkrut pada 1999. Sejak saat itulah mereka kemudian menggelandang hidup dan berpindah-pindah ke Lebanon, Maroko, Mesir, Uni Emirat Arab dan Portugal sebelum tiba di Bulgaria.

Lubbers juga pernah ditahan polisi Portugal lantaran perdagangan narkotika.

Menurut Lubbers, setelah pertarungan di Jakarta, ia kerap berhubungan dengan Ali.

“Dia pernah datang ke Balanda. Saat itu ia bilang kepada saya, Rudi kamu satu-satunya orang kulit putih di mana saya bisa belajar sesuatu,” kenang Lubbers.

Lubbers tak pernah kalah dari petinju Belanda lainnya sepanjang karirnya.  Ia mengaku masih senang menonton tinju, meski menurutnya olahraga ini sudah sangat berubah.

“Saya senang menonton tinju, namun tinju sudah sangat berubah. Tinju sekarang lebih mirip dengan perkelahian,” ucapnya.