Bukan Alat Makan Biasa, Ada Kisah Mengejutkan Soal Mangkok Ayam Jago


SURATKABAR.ID – Kamu suka wisata kuliner? Bagi penggemar jajan dan makanan berkuah seperti bakso, mie ayam dan lainnya, pasti sudah tak merasa asing dengan mangkuk bergambar ayam jago ini. Apalagi bagi generasi berusia produktif yang tumbuh di era 70-80an, sudah pasti familiar dengan keberadaan mangkok yang satu ini. Bagi mereka, mangkuk ayam jago bisa menjadi pengikat ingatan kolektif masa-masa menyantap bakso di warung favorit.

Dan kini, gambar ayam jago pada mangkuk yang legendaris tersebut menjadi inspirasi para kaum muda kreatif untuk membuat beragam aksesoris. Contohnya pun beragam seperti topi, selendang, tas, kaos, sarung bantal hingga selampai. Penggemarnya pun tak kalah heboh—ya, jangan salah, mangkok ayam jago ternyata punya banyak penggemar.

Mengutip halaman Bangka.TribunNews.com, Senin (04/02/2019), mereka menunjukkan rasa bangganya dengan melakukan swafoto (selfie) bersama barang-barang bergambar ayam jago. Ada juga beberapa produsen alat makan yang memproduksi varian mangkuk dan piring bergambar sang ayam jago.

Melihat hal itu, produsen asli mangkuk ayam jago mengimbau agar pengusaha lain tidak menggunakan desain gambar yang sama. Hal ini terkait dengan hak cipta perusahaan dari PT Lucky Indah Keramik. Meski begitu, tak banyak yang tahu seperti apa kisah mengejutkan yang ada di baliknya. Seperti apa?

Kisah si Mangkuk Ayam Jago

Rupanya, si mangkuk ayam jago di negara asalnya (Tiongkok) tak hanya tenar sebagai perangkat makan sehari-hari. Mangkuk ini juga terkenal lantaran sering menjadi properti di film-film Hong Kong karya Stephen Chow pada tahun 90-an.

Baca juga: Heboh Bambu Diolok-olok di Jakarta, Padahal Seluruh Dunia Memujanya

Tak hanya itu, mangkuk ayam jago merupakan perangkat makan yang wajib digunakan sebagai ‘seserahan’ dalam upacara pernikahan di Tiongkok. Orang Kanton biasa menyebutnya dengan Jigongwan. Sedangkan penduduk di wilayah Tiongkok bagian utara menyebutnya Gongjiwan, sementara mereka yang berdialek Minnan atau tinggal di Tiongkok bagian selatan memanggilnya Jijiaowan.

Lalu, bagaimana sebenarnya awal mula kisah si mangkuk ayam jago ini?

Kisahnya berawal pada masa Dinasti Ming periode pemerintahan Kaisar Chenghua (1465-1487). Saat itu, Sang Kaisar memesan empat buah cawan bergambar ayam jago dan ayam betina pada pengrajin keramik khusus kekaisaran di daerah Jingdezhen (Propinsi Jiangxi)—yang terkenal menghasilkan keramik untuk istana sejak abad 6 M.

Kaisar Chenghua memesan empat buah cawan keramik dengan teknik doucai, khusus untuk dirinya dan istrinya sebagai tanda cinta. Cawan tersebut terkenal dengan istilah Jigangbei atau ‘cawan ayam’. Cawan itu terdiri dari gambar ayam jago, betina, dan anak ayam yang bermakna kemakmuran—banyak anak, banyak rejeki.

Dipuja-puja Kaisar Tiongkok

Cawan dan mangkuk ayam juga memiliki makna simbolis.

Kata Ji, yang berarti ‘ayam’, mirip bunyinya dengan kata Jia yang bermakna “rumah”. Sedangkan gambar tanaman peoni melambangkan kekayaan. Sementara pohon pisang dengan daun lebar bermakna “keberuntungan untuk keluarga”.

Kaisar-kaisar Tiongkok begitu menyukai cawan ayam jago tersebut. Di antaranya sebut saja seperti Kaisar Wanli (memerintah tahun 1572-1620), dan Kaisar Kangxi (memerintah tahun 1661-1722) dari Dinasti Qing. Saking sukanya pada cawan tersebut, mereka berani mematok harga mahal untuk gambar ayam jago.

Kaisar Qian Long (memerintah tahun 1735-1796) bahkan membuat puisi khusus yang memuja mangkuk ayam jago itu pada tahun 1776.

Di masa Dinasti Qing, mangkuk ayam jago mulai diproduksi secara massal. Masyarakat kelas menengah ke bawah di Tiongkok di masa itu hanya dapat menggunakan mangkuk bergambar ayam. Hal ini dikarenakan mangkuk-mangkuk bergambar naga, phoenix dan motif lainnya dibanderol dengan harga yang lebih mahal.

Dalam perkembangan selanjutnya, bagi petani di Tiongkok, mangkuk ayam jago merupakan lambang “kerja keras untuk mendapat kemakmuran”. Ini mengingat peran ayam jago yang selalu membangunkan mereka di pagi hari untuk segera bekerja di ladang.

Menjadi Incaran Kolektor

Sekitar awal abad 20, mangkuk ayam jago mulai merambah dunia luas. Awalnya dibawa oleh para perantau, yang pabriknya berada di Provinsi Guangdong. Mangkuk itu lalu menyebar ke beberapa negara di Asia Tenggara.

Mangkuk ayam jago pun kian banyak diproduksi. Mulai dari menggunakan teknik gambar tangan hingga mesin. Saat ini, cawan ayam jago pada masa kekaisaran menjadi buruan bagi para kolektor barang antik di seluruh dunia.

Sebuah ‘Cawan Chenghua’ yang hanya ada empat di dunia, pernah dilelang oleh badan lelang Sotheby di Hong Kong pada tahun 1960, 1970an, 1980an, 1990an dan terakhir pada 2014. Lelang tertingginya tak tanggung-tanggung mencapai 36,3 juta dollar AS! Itu setara dengan Rp 508 juta 541 ribu saat ini.

Mangkuk ayam jago yang merupakan simbol keberuntungan, kerja keras, dan kemakmuran ini bisa menjadi salah satu pilihan piranti makan di rumah, terutama jika Kamu tergolong filosofis. Tak lupa juga sebagai benda nostalgia masa lalu saat menikmati semangkuk mie ayam atau soto di warung makan bersama keluarga. Bagaimana denganmu, adakah koleksi mangkuk ayam jago di dapurmu?