Foto Pribadinya Pakai Ikat Kepala #2019GantiPresiden Tersebar Luas, Dokter PO Buka-Bukaan


SURATKABAR.ID – Dr Poncoroso SpOG MKes alias dokter PO, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di RSUD Ade M Djoen Sintang, Kalimantan Barat, akhirnya buka suara menanggapi foto yang viral di media sosial. Dalam foto tersebut tampak dirinya mengenakan ikat kepala bertuliskan #2019GantiPresiden.

Dihimpun dari laman JPNN.com pada Jumat (1/2/2019), dokter PO terang-terangan mengakui bahwa benar dirinyalah yang ada dalam foto viral tersebut. Pengakuan itu ia ungkapkan di hadapan para awak media usai memenuhi panggulan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terkait kasus tersebut.

“Saya dipanggul Bawaslu terkait foto yang viral itu. Kita sebagai warga negara yang baik, tentu patuh memenuhi undangan itu untuk memberikan keterangan,” jelas dokter PO ketika dimintai keterangan, pada Rabu (30/1) sekitar pukul 09.00 WIB.

Lebih lanjut, ia menjelaskan sudah memberikan semua keterangan. Kepada Bawaslu, ia mengaku tanpa ragu mengakui kebenaran di balik foto tersebut. “Saya kira memang tidak ada yang harus diklarifikasi, karena memang itu foto saya,” tuturnya.

Meski begitu, ia menegaskan tak tahu siapa yang telah menyebarluaskan foto-foto tersebut. Pasalnya, ia mengaku itu hanya foto pribadi koleksi lama dan tidak dimaksudkan untuk jadi konsumsi publik. “Sebenarnya itu foto pribadi, saya juga tidak tahu kenapa bisa beredar di media sosial,” jelas Poncoroso.

Baca Juga: Akhir dari Polemik Kasus Dua Jadi Anies, Bawaslu: Unsurnya Tidak Memenuhi

Poncoroso juga mengungkapkan bahwa foto tersebut sebenarnya merupakan aspirasi diri. Bagi tenaga kesehatan seperti dirinya, ia ingin adanya perubahan. “Sebagai warga negara, tentunya dari hati saya ingin ada perubahan,” tegasnya.

Ia menilai, selama ini pihak-pihak terkait belum memberikan solusi yang baik untuk masa depan dunia kesehatan Indonesia. Terutama, disebutkan Poncoroso, dalam persoalan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Kalau dari kesehatan sendiri, sudah banyaklah carut marutnya. Termasuk kita di RSUD ini,” jelasnya. Ia kemudian tak menampik bahwa sebagai PNS, dirinya dilarang terlibat dalam pemilu. Oleh karena itu, ia mengaku sangat siap dengan apapun konsekuensinya terkait foto tersebut.

Terkait kasus tersebut, Ketua Bawaslu Sintang, Fransiscus Ancis buka suara. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan sejumlah pertanyaan kepada dokter PO. Mulai dari lokasi pengambilan foto, kapan, dan siapa yang menyebarkannya.

“Yang bersangkutan dengan jelas mengakui bahwa memang di dalam foto itu adalah dirinya,” jelas Fransiscus yang kemudian menjelaskan hingga kemarin baru ada satu orang yang dimintai keterangan. Rencananya, Kamis (31/1) dan Jumat (1/2) pihaknya akan mengundang lagi masing-masing satu orang.

Bawaslu juga akan mengundang pemilik akun yang memposting foto tersebut di media sosial. Semua tindakan tersebut diambil dalam rangka mengumpulkan data dan fakta. “Karena pengakuan dari yang bersangkutan, bukan dia yang melakukannya,” imbuhnya.

Ditemui terpisah, Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Sintang, Palentinus menyatakan dirinya tak dapat memberikan keputusan terkait sanksi yang akan dijatuhi kepada tiga ASN RSUD Ade M Djoen tersebut.

Ia menjelaskan, keputusan akan dibahas terlebih dahulu oleh tim penjatuhan disiplin. “Bisa sanksi ringan, bisa sanksi berat,” jelas Palentinus. “Kalau untuk sanksi beratnya yakni pemecatan sebagai ANS,” imbuhnya lebih lanjut.

Adapun terkait sanksi telah diatur Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN dan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010. “Jadi kita akan ikuti peraturan tersebut. Sejauh ini kita memang belum ada memanggil tiga ASN itu. Tapi tentu kita akan ikuti perkembangannya terus,” pungkasnya.