Bertekuk Lutut, Otak Pelaku Pembunuh dan Pembakar Wanita di Spring Bed Beri Pengakuan di Luar Nalar


SURATKABAR.ID – Sesosok mayat seorang wanita yang dibakar di atas spring bed di Indralaya, Sumatera Selatan, ditemukan pada Minggu (20/1) lalu. Ketika ditemukan, jasad wanita tersebut dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Bahkan polisi mengaku kesulitan mengidentifikasi korban.

Bukan hanya tidak utuh karena hangus terbakar, seperti yang dihimpun dari laman Grid.ID pada Sabtu (26/1/2019), jenazah korban juga ditemukan dalam kondisi terlilit kawat tembaga. Warga Sungai Rambutan SP II, Indralaya Utara, Ogan Ilir pun bergegas melaporkan penemuan tersebut ke polisi.

Wanita yang dibakar secara brutal tersebut kemudian baru diketahui IA, seorang ibu muda yang baru berusia 20 tahun. Korban memiliki satu anak dan telah bercerai dengan suaminya pada 28 September 2017 yang lalu.

Usai melakukan penyelidikan lebih lanjut, polisi berhasil menangkap empat dari lima pelaku. Mereka adalah Feri (30), FB (16), Abdul Malik (22), dan YG (16). Sementara otak pelaku yang berinisial AS, yang juga merupakan kekasih korban masuk dalam daftar pencarian orang.

Selain membunuh, korban IA juga sempat digagahi beramai-ramai oleh para pelaku. Menurut penuturan empat pelaku, setelah menjamah korban, mereka lalu menghantam korban menggunakan balok kayu dan membakarnya untuk menghapus jejak.

Baca Juga: Nyesek! Sebelum Ajal Menjemput dengan Cara Mengerikan, Ibu Muda Ini Sempat Tulis Pesan Terakhir

Usut punya usut, aksi pembunuhan keji terhadap IA rupanya dilatarbelakangi utang senilai Rp 1,5 juta. Ia disebut memiliki utang kepada AS, sang kekasih. Namun lantaran korban tak kunjung membayar, AS pun memutuskan menperkosa serta membunuhnya.

Lima hari menjadi buronan, AS akhirnya memilih menyerahkan diri ke polisi pada Jumat (25/1) malam. Ia kemudian menjelaskan bahwa ia sempat berkelana mengendarai sepeda motor ke kawasan Betung, Kabupaten Banyuasin, Kota Lubuk Linggau, dan juga Kabupaten Lahat untuk bersembunyi dari polisi.

Namun ia memutuskan kembali lagi ke Kabupaten Ogan Ilir dan menyerahkan diri. Alasan AS menyerahkan diri lantaran tak tahan lagi karena selalu didatangi arwah korban. “Empat hari saya bermotor menuju tiga kabupaten tersebut karena tak tahan selalu didatangi arwah korban,” jelasnya.

Begitu tiba di Kabupaten Ogan Ilir, keluarga AS menyarankan agar ia segera menyerahkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Keluarga sebelumnya kumpul ketika saya pulang. Akhirnya disarankan untuk menyerahkan diri dan diantar ke sini,” imbuh AS.