Langka! Didiagnosa Derita Urticaria, Nyawa Pria Ini Sempat Hampir Berakhir Cuma Gara-Gara Injak Rumput Basah


SURATKABAR.ID – Sekilas mungkin tak tampak ancaman bahaya dari alergi dingin. Namun tidak demikian dengan Max Fisher. Pada 2009, ia didiagnosa mengalami urticaria atau alergi dingin. Alergi itu bahkan sempat mengancam nyawanya cuma lantaran duduk di rumput basah saat musim panas.

Ketika itu, seperti yang dihimpun dari laman Detik.com pada Kamis (24/1/2019), Fisher sampai mengalami kesulitan bernapas, tenggorokannya seperti tertutup dengan kulit merah dan gatal. Reaksi tersebut rupanya merupakan anaphylactic shock karena alergi berat yang dideritanya.

Menurut data dari National Health Security (NHS), utricaria sendiri merupakan kasus yang terbilang cukup sering ditemui, yakni dengan sebaran 1 dari 5 orang. Akan tetapi reaksi berat seperti yang dirasakan Fisher hanya dirasakan 1 dari 3 persen dari seluruh kasus.

“Saya alergi dingin sehingga tidak bisa menikmati musim dingin. Saya menggunakan masker tiap kali ke luar rumah untuk mencegah reaksi alergi atau yang paling fatal anaphylactic shock. Reaksi yang muncul biasanya bengkak, demam, dan ruam yang terasa sangat gatal. Saya kali pertama mengalami kondisi ini di usia 14 tahun,” jelas Fisher yang kini berusia 23 tahun, dikutip dari Daily Mail.

Alergi dingin seperti pada Fisher juga bisa meliputi segala hal selama suhunya tidak hangat atau normal. Tak hanya alergi terhadap udara, Fisher juga bereaksi pada minuman, makanan, bahkan hawa dingin dari kulkas dan Air Conditioner (AC). Intinya semua yang tidak hangat bisa memicu reaksi alerginya.

Baca Juga: Mengejutkan! Setelah Sukses dengan Rekayasa Genetika Bayi Pertama, Begini Nasib Terakhir Sang Ilmuwan

Menurutnya, menghirup udara dingin bisa menyebabkan pusing hingga terganggunya aktivitas hariannya. Masker bisa membantunya menghangatkan udara yang masuk melalui hidung. Hal ini cukup memudahkan Fisher dalam bernapas.

Kepekaannya terhadap dingin membuat kehidupan Fisher menjadi penuh tantangan setiap hari, meski tidak sedang musim dingin. Ia tak bisa menyentuh, mengonsumsi minuman, ataupun berenang bersama teman-temannya di musim panas.

Tubuhnya otomatis bakal mengeluarkan reaksi terkait urticaria yang dapat mengancam nyawanya apabila tak segera ditangani. Fisher mengaku kerap dilanda ketakutan dalam menghadapi kondisi tubuhnya. Perasaan itu datang meski ia telah hidup bersama alergi itu selama 9 tahun.

Untuk mengendalikan reaksi alerginya, ia rutin mengonsumsi antihistamin setiap hari. Hingga kini, penyebab pasti dari urticaria belum diketahui. Urticaria umumnya berkaitan dengan kondisi darah tertentu atau bisa juga karena infeksi yang sebelumnya memang sudah ada.

NHS menilai, kondisi tersebut mustahil diturunkan dari orangtua. Fisher sendiri mengaku bahwa keluarganya tak ada yang menderita alergi dingin seperti dirinya. Dulu ia melalui masa kecil yang sehat dan bahagia. Semua harus berakhir hingga ua berusia 14 tahun dan didiagnosa urticaria.

Rupanya bukan hanya urticaria, Fisher juga mengalami fibromyalgia. Kondisi ini menyebabkan sekujur tubuhnya merasa sakit. Karena fibromyalgia juga, Fisher terpaksa harus menggunakan tongkat atau kursi roda. Hidup semakin berat ketika ia kesulitan mendapat kerja karena kemampuan fisik yang terbatas.

“Saya ingin sekali bisa membuktikan diri pada lingkungan sekitar. orang disabilitas ada yang menggunakan masker, pakai kursi roda, atau tongkat untuk berjalan. Saya ingin orang-orang sekitar bisa menerima kondisi saya,” ungkap Fisher.