Temui Fadli Zon, Pengacara Abu Bakar Ba’asyir Minta Tolong Satu Hal Ini


SURATKABAR.ID – Kuasa hukum terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir, Mahendradatta menemui pengacara pribadi Joko Widodo (Jokowi), Yusril Ihza Mahendra. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan permintaan klien.

Mahendradatta, diwartakan Kompas.com, Kamis (24/1/2019), mengungkapkan kliennya sempat meminta remisi alias pengurangan masa hukuman pada pemerintah. Akan tetapi ia tak menjelaskan apakah permintaan itu dilontarkan dalam pertemuan tanggal 12 atau 18 Januari 2019 lalu.

“Ustaz juga ngomong ke Pak Yusril, kalau mau menolong saya, itikad baik mau menolong saya, tolong kasih remisi saja yang besar,” tutur Mahendradatta ketika bertemu Wakil Ketua DPR Fadli Zon di Ruang Kerja Pimpinan DPR, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/1).

Ia mengungkapkan, secara hukum pemerintah dapat memberikan remisi dengan jumlah yang besar. Sebagai contoh, Mahendradatta menyebut pemberian remisi teruntuk terpidana kasus perbankan yang juga merupakan mantan bos Bank Century Robert Tantular. Rober menerima remisi 74 bulan lebih.

“Bos Century itu, Robert Tantular kan 77 bulan remisinya. Jadi kalau memang mau menolong kasih aja remisi,” ungkap Mahendradatta. “Setelah Idul Fitri kana da. Idul Fitri saja dikasih remisi kan selesai. Enggak ada polemik lagi sudah,” imbuhnya lebih lanjut.

Baca Juga: Yusril Buka Suara Soal Keputusan Pemerintah Batal Bebaskan Ba’asyir: Yang Penting bagi Saya…

Namun demikian, seperti yang diungkapkan Mahendradatta kemudian, dalam pertemuan tersebut Yusril sendiri sebenarnya sempat memberikan penawaran berupa pembebasan tanpa syarat kepada Abu Bakar Ba’asyir.

Selain itu, Yusril juga berupaya meyakinkan bahwa Presiden Joko Widodo menyetujui pembebasan tanpa syarat bagi terpidana Abu Bakar Ba’asyir jika melihat dari kacamata kemanusiaan. “Tapi Pak Yusril bilang, udahlah Ustaz, enggak usah dipikirin, maunya bebas tanpa syarat,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, penasihat hukum pribadi Presiden Joko Widodo (Jokowi), Yusril Ihza Mahendra mengaku tidak mempermasalahkan keputusan pemerintah yang batal membebaskan narapidana terorisme Abu Bakar Ba’asyir.

“Yang penting bagi saya adalah tugas yang diberikan Presiden sudah saya laksanakan. Bahwa kemudian ada perkembangan dan kebijakan baru dari pemerintah, maka saya kembalikan segala sesuatunya kepada pemerintah,” ujar Yusril melalui pers resmi, Selasa (22/1), dikutip dari Kompas.com.

“Saya telah menelaah dengan saksama isi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Peraturan Pemerintah 28 Tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 khusus terkait pembebasan bersyarat dan semuanya sudah saya sampaikan ke Presiden. Termasuk pembicaraan dengan Ba’asyir,” imbuhnya kemudian.