‘Kuliti’ Gerak Tubuh Jokowi dan Prabowo Saat Debat, Pakar Bahasa Non-Verbal Buka-Bukaan


SURATKABAR.ID – Lirikan mata, kerenyitan di salah satu sudut bibir, membetulkan dasi, menyentuh rambut atau gerakan-gerakan tanpa sadar lainnya bisa menunjukkan apa yang ada di dalam pikiran seseorang.

Hanya dengan melihat dan membaca gestur-gestur kecil dari pasangan Debat Perdana Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Kamis (17/1) lalu, tanpa sadar otak membentuk keyakinan untuk kemudian menentukan pilihannya.

Ada beberapa bahasa non-verbal yang cukup menarik dari masing-masing pasangan calon pilpres yang mereka perlihatkan dalam debat perdana kemarin. Dan hal-hal kecil semacam ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Seperti ketika Prabowo Subianto bereaksi usai mendengar serangan balik dari Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan, “Saat pemilihan Gubernur DKI, anggaran yang saya pakai juga kecil. Pak Prabowo tahu itu,” ujar Jokowi tegas.

Ketika itu, Prabowo tersenyum , lalu menengok ke arah Sandiaga Uno sembari membetulkan letak dasi yang jika dilihat sebenarnya masih tampak rapi. Hal tersebut menunjukkan Ketua Dewan Pembina Gerindra itu tak menduga lawannya membalas pertanyaan mengenai gaji kecil para kepala daerah.

Baca Juga: Ulasan Debat: Dua-Duanya Ngawur, Prabowo-Sandi Lebih Unggul Jokowi-Ma’ruf Tegang

Gestur lainnya, adalah ketika Prabowo berjoget dan Sandiaga berkelakar sembari memijat bahu calon presiden nomor urut 02 tersebut. Selain itu, tidak banyak analisis yang bisa diambil dari membaca mimik muka dan gestur masing-masing pasangan calon.

Mengenai bahasa tubuh kedua paslon, pakar gestur dan mikro ekspresi, Monica Kumalasari buka suara. Ia menguliti satu per satu tingkah pasangan paslon yang tak tertangkap kebanyakan penonton. Ia mengambil satu ekspresi paling nyata yang sering diperlihatkan Prabowo.

Ia menyebut, selain melakukan gerakan manipulatif yang terlihat ketika tersenyum, membetulkan letak dasi, dan mikrofon, Prabowo tampak sering berkedip. Gestur ini terlihat beberapa kali ketika Jokowi membahas hoaks operasi plastik yang disuarakan tim sukses Prabowo.

Kedipan juga muncul ketika Jokowi mengajukan pertanyaan terkait mantan napi koruptor, juga saat Prabowo membahas perannya sebagai spesialis anti-teror di militer. Ekspresi serupa ditunjukkan Jokowi saat Prabowo menyatakan ketidaksepahaman soal rencana pembentukan Pusat Legislasi Nasional.

“Senyum adalah cara paling aman untuk menutupi ekspresi asli. Rasa malu bisa disamarkan dengan tersenyum,” ungkap alumni Paul Ekman International, Pusat Pelatihan Ilmu Perilaku tersebut, seperti yang dikutip dari laman Tirto.id, Senin (21/1/2019).

Pada saat Prabowo menyinggung konflik kepentingan antar-menteri di dalam Kabinet Kerja mengenai impor beras dalam segmen Korupsi dan Terorisme, ujung bibir kanan Jokowi tampak naik. Hal ini menunjukkan ekspresi mikro contempt expression, yakni ekspresi sosok superior yang menganggap lawan bicaranya berada di kedudukan yang lebih rendah.

Mengenai calon wakil presiden nomor urut 02, Monica mengaku tak memiliki banyak catatan. Menurutnya, Sandiaga terlihat kurang percaya diri. Hal tersebut terbaca ketika ia ‘terpeleset’ bertanya menggunakan kalimat pengandaian, jika Jokowi kembali terpilih.

Ungkapan tersebut secara tak langsung menggambarkan keyakinan Sandiaga atas peluang rivalnya masih terbuka lebar. Selebihnya, Sandiaga digambarkan sebagai sosok yang rendah hati serta dapat menguasai emosi dengan sangat baik.

“Ma’ruf Amin juga begitu. Keduanya tampil paling natural. Tapi karena belum berpengalaman, jadi kontennya masih minim,” ujarnya.

Pada diri Jokowi, Monika menemukan pembawaan yang berbeda. Jika selama ini Jokowi dikenal sebagai sosok yang santai dan mudah memberikan senyum, berbeda ketika debat kemarin. Ia menjelma menjadi pihak paling pelit senyum. Jokowi malah lebih sering menaikkan alis. Gestur ini bentuk penegasan atas pernyataan maupun pertanyaan yang ia lontarkan.

Dalam debat perdana kemarin, Monica juga merasakan adanya dukungan serta energi yang dipancarkan Jokowi kepada Ma’ruf Amin. Deskripsi tersebut ditunjukkan melalui tatapan Jokowi ketika mantan Ketua MUI tersebut angkat bicara di segmen kedua dan ketiga.

Dan yang terakhir, refleks yang perlu digarisbawahi pada diri Jokowi adalah ketika ia menggulung lengan baju di segmen penutupan. Monica mengartikan gerakan tersebut sebagai bentuk penegasan dari motto sang petahana, “Kerja, kerja, kerja”.

“Terlepas dari citra berbeda yang ditampilkan, Jokowi punya hati pemaaf, ia lebih dulu menghampiri paslon 2 untuk bersalaman,” pungkas Monika tegas.

Selain Monica, alumni Forensic Emotion, Credibility, and Deception dari Emotional Intelligence Academy, Manchester, Handoko Gani juga turut urun pendapat. Pakar pendeteksi kebohongan ini menjabarkans ecara umum bahasa non-verbal dari masing-masing pasangan calon.

Menurutnya, Prabowo sama seperti Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Keduanya sama-sama memakai gestur dan bahasa kampanye yang konsisten. Jika Trump memposisikan dirinya sebagai sasaran tembak Hillary Clinton, Prabowo berdiri sebagai objek serangan Jokowi.

Akan tetapi, di saat yang sama, mereka menanamkan gagasan secara repetitive serta tegas sepanjang debat. Secara halus, gagasan-gagasan tersebut yang kemudian akan tertanam di dalam benak para pemilih. Misalnya ketika Prabowo mengatakan “Indonesia menang” atau “Saya sendiri yang akan bertindak…”.

“Bedanya, Prabowo terpancing saat ditanya eks napi koruptor. Ekspresinya lepas dengan memotong, marah, tersinggung,” sebut Handoko.

Lain halnya dengan Jokowi, Handoko menilai, Jokowi memiliki catatan perubahan nada suara ketika memberikan pernyataan, menjawab pertanyaan, dan bertanya. Menurutnya, nada suara Jokowi ketika membela diri cenderung keras. Sementara ketika bertanya, ia menggunakan nada suara yang tergolong santai dengan bumbu ekspresi sinis.

Meski demikian, menurut Handoko, secara umum Jokowi lebih unggul dalam menguasai teknik komunikasi non-verbal dibandingkan rivalnya. Simbol-simbol non-verbal dari pasangan calon nomor urut 01 tersebut sangat tersusun dengan rapi. Mulai dari pemilihan baju, taktiknya membawa keluarga, hingga refleks gerakan mikro.

“Jokowi menang di sisi ekspresi non-verbal, sementara Prabowo kurang diatur,” pungkasnya.