Debat Capres Dinilai Kurang Greget, Media Asing: Mereka Seperti Robot


SURATKABAR.ID – Debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) perdana rupanya tak hanya menyita perhatian masyarakat dalam negeri saja. Bahkan media asing juga turut menyoroti debat calon pemimpin Indonesia yang akan menjabat untuk lima tahun ke depan.

Seperti dilansir dari Sindonews.com pada Jumat (18/1/2019), Sydney Morning Herald (SMH) adalah salah satu media internasional yang ikut memberitakan soal debat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang digelar pada Kamis (17/1) malam kemarin.

Dalam pemberitaan media yang berpusat di New South Wales ini, mereka mengkritisi jalannya debat. Menurut SMH, debat antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rivalnya Prabowo Subianto tampak sangat kaku. Tidak jauh berbeda dengan robot.

Baik Jokowi maupun sang penantang, disebut sama-sama takut menginjakkan kaki di kubangan risiko. Padahal keduanya memiliki segalanya yang dibutuhkan untuk memoles agar acara debat perdana kemarin malam bisa tampak lebih atraktif.

“Keduanya maupun calon wakil presiden mereka terlihat seperti robot dan memberikan jawaban yang tidak mau mengambil risiko yang dirancang untuk membuat lawan mereka tunduk,” demikian bunyi kutipan SMH seperti pantauan Sindonews, Jumat (18/1/2019).

Baca Juga: Tak Hadir dalam Debat Pilpres 2019 Perdana, JK Hanya Beri Jokowi Satu Pesan

Menurut SMH, hal tersebut tak terlepas dari fakta bahwa masing-masing pihak sudah mengantongi semua pertanyaan dari para panelis sepekan sebelum debat digelar. Mereka juga mengutip alasan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Namun SMH menilai, keputusan KPU tersebut justru menjadi bumerang karena menjadikan debat tampak mati. Mereka kemudian membandingkan debat perdana malam kemarin dengan debat tahun 2014 lalu yang bisa mengalir dengan bebas dan lebih greget.

“Joko Widodo, wakilnya Ma’ruf Amin, Prabowo dan wakilnya Sandiaga Uno memberikan jawaban yang telah dilatih dan melakukannya dengan buruk,” kritik SMH soal penampilan para kontestan Pilpres 2019 dalam debat kemarin.

“Kedua belah pihak menari-nari satu sama lain selama hampir dua setengah jam (bahkan, Ma’ruf Amin membutuhkan waktu hampir satu jam sebelum dia berbicara untuk menjawab pertanyaan). Dan para pemilih, sebagian besar, tidak akan lebih bijaksana,” imbuh SMH.

Dan terkait jalannya debat, SMH menyebut Jokowi dan Prabowo sama-sama hanya memberikan sedikit rincian mengenai bagaimana keduanya akan memastikan bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) tak lagi boleh dikorbankan oleh lembaga penegak hukum yang memerangi terorisme.

Sedangkan terkait terorisme, SMH menilai calon wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin menjadi satu-satunya sosok yang sanggup melontarkan jawaban relative tajam terkait tema tersebut. Ma’ruf Amin memberikan jawaban tegas menyoal terorisme.

“Terorisme bukanlah jihad dan itu haram. Jika akar penyebab terorisme adalah kesalahpahaman seseorang tentang agamanya, maka mereka perlu dididik ulang. Tetapi jika akar penyebabnya adalah ekonomi, maka pendekatan pemerintah harus difokuskan pada penyediaan lapangan kerja,” SMH mengutip pernyataan Ma’ruf.

Akhirnya, ketika para kandidat saling menyerang dengan pertanyaan, membuat debat mulai menjadi sedikit lebih hidup. Menurut SMH, secara seimbang Jokowi-lah pemenang dalam debat kemarin. Pasalnya ia lebih sering memberikan respons kebijakan secara terperinci meski terkadang terlalu teknokratis.

Kendati demikian, menurut media asal Australia tersebut, acara debat berakhir tanpa adanya ide-ide besar baru yang maju atau pun sedikit cahaya pada kebijakan dari masing-masing kandidat yang berkompetisi dalam Pilpres 2019 mendatang.