Bikin Merinding, Seperti Inilah #10YearsChallenge Versi Para Survivor Kanker


SURATKABAR.ID – Betapa sebuah foto bisa mengungkap segalanya. Tren #10YearsChallenge belakangan ini mewarnai perjagatan sosial. Semua pengguna media sosial hingga para selebriti atau influencer turut meramaikan tren tersebut.

Namun kali ini kisah menyentuh datang dari rekan-rekan yang sukses mengalahkan kanker setelah melalui proses yang sangat panjang. Para survivor kanker ini membongkar sisi lain perjuangan mereka bisa bertahan dari kanker hingga bisa meraih kesuksesan sekarang.

Di bawah ini kisah tentang kegigihan mereka untuk bangkit dan melawan kanker dengan penuh keberanian, seperti yang dihimpun dari laman Detik.com pada Kamis (17/1/2019). Sebaiknya siapkan tisu sebelum membaca cerita mereka.

Rama Adi Wijaya

10 tahun yang lalu, Rama masih dalam masa pemulihan setelah perjuangannya melawan kanker leukimia ALL. Ketika itu ia berada di titik paling rendah dalam hidup. Rama mendapat banyak peraturan dan larangan dari keluarga. Ia bahkan dikucilkan teman-teman di lingkungan tempat tinggal.

Kerap dipandang sebelah mata oleh teman-teman di sekolah ketika duduk di bangku Sekolah Dasar sudah menjadi makanan pahitnya sehari-hari saat itu. Yang paling parah, Ramah tak jarang terlibat perselisihan dengan orangtua yang dianggapnya terlalu over protective.

Baca Juga: Tak Disangka! Baking Soda Diklaim Bisa Sembuhkan Kanker, Ini Fakta Sebenarnya

“Untungnya saya masih mempunyai 2 orang yang selalu pengertian dan paham apa kemauan saya. Mereka adalah kedua kakek saya. Saat itu saya merasa ada orang yang begitu paham dengan kondisi saya. Saya mempunyai sosok untuk berbagi cerita,” ungkap Rama.

Sayangnya dukungan dari kedua kakeknya tak berlangsung lama. Setelah kakek-kakeknya meninggal, Rama kembali diselimuti rasa sepi. Ia kerap dihantui pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidupnya. Baru setelah masuk SMP, ia mulai mendapat teman yang bisa menerima apa ada dirinya.

“Mulai saat itu sedikit demi sedikit saya dapat merubah pandangan orang di lingkungan. Mereka yang berpikir saya anak yang tidak bisa apa-apa, bahkan enggak harang juga ada yang bikang ‘anak sisa hidup’,” kenangnya.

Di tahun 2015, Rama bergabung di Cancer Buster Community (CBC). Saat itu ia kembali menemukan keluarga baru, meski itu bukan titik balik bagi Rama. Titik balik hidupnya adalah pada 2017 ketika ia menyaksikan ibu melahirkan adik keduanya.

“Titik balik saya terjadi pada saat 2017 (kelas 1 SMK) ketika saya melihat mamah melahirkan adik saya yang kedua. Di situ saya belajar bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya. Saya tersadar mungkin larangan-larangan orangtua saya dulu itu karena mereka enggak pengin saya terkena sakit untuk yang kedua kalinya. Dan saat itu pula saya bertekad ingin membuat kedua orangtua saya bangga,” pungkasnya.

Cindy Audina (22)

Bagi Cindy, 10 tahun yang lalu adalah hidup baru. Ia mengibaratkannya sebagai proses perubahan kepompong menjadi kupu-kupu yang memiliki sepasang sayap cantik. Tahun 2009, Cindy berhasil melawan leukimia dan kanker kelenjar getah bening. Rambutnya mulai tumbuh, ia pun kembali bersekolah dan perlahan mulai bergaul dengan teman-teman.

“Sekarang setelah 10 tahun berlalu, aku sudah bisa jadi kupu-kupu yang berkeliaran. Yang setidaknya sudah dipandang lewat karya aku, prestasi aku. Kalau dulu mungkin orang masih mandang sebelah mata karena aku botak, masih pakai masker, badannya kurus kering,” cerita Cindy.

Kini, setelah sembuh Cindy membuahkan sebuah buku berjudul ‘Nama Tengahku Mukjizat’. Dengan buku itu ia ingin memberi semangat para pasien yang saat ini masih harus melalui fase paling menyeramkan dalam hidup mereka. Sama seperti yang pernah ia jalani 10 tahun silam.

“Jangan pernah takut berproses. Kupu-kupu yang cantik itu dan emas sebagai logam mulia pun harus dibentuk, dilebur, dibakar, untuk menjadi suatu hal yang berharga,” tandas gadis perbaras cantik dengan rambut hitam tergerai panjang ini.

Nigel Yogie Saputra (18)

Tahun 2009 adalah ketika Nigel berada dalam proses penyembuhan sebagai survivor kanker leukimia sepenuhnya. Ketika itu ia dikelilingi dukungan yang datang dari sejumlah survivor kanker lain, kedua orangtua, dan kakak-kakaknya. Sayang, sebagian teman-teman SD-nya menolak bermain dengannya.

“Saat itu saya masih duduk di bangku SD dan ada teman yang ikut support saya, dan ada juga teman saya yang tidak mau berteman dengan saya karena takut ketularan oleh saya. Saya sangat sedih pada saat itu,” tutur Nigel.

“Tapi dengan adanya teman yang tidak mau berteman dengan saya justru bikin saya makin bertambah semangan buat buktiin ke mereka bahwa penyakit saya ini tidak menular dan bisa disembuhkan,” imbuhnya lebih lanjut.

Dan benar saja. Tanpa terasa 10 tahun berlalu. Nigel pun berhasil membuktikan kekuatan dirinya dalam mengalahkan sel kanker di dalam tubuh. “Aku sangat berterima kasih banget sama Allah SWT masih kasih aku panjang umur dan selalu diberi kesehatan. Buat kalian yang lagi berjuang jangan pernah putus asa ya, harus yakin bisa sembuh. Semangat adik-adikku!” pesan Nigel penuh semangat.