Luhut Janji Akan Pangkas TKA China di Morowali


SURATKABAR.ID – Luhut Binsar Pandjaitan sebagai  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menandaskan, pemerintah akan secara bertahap memangkas jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah. Menurut penjelasan Luhut, saat ini tenaga kerja di kawasan industri itu sudah mencapai sekitar 30 ribu orang.

Menurut Luhut, jumlah tenaga kerja ini berpeluang meningkat hingga di atas 100 ribu orang. Sementara itu, jumlah TKA China saat ini mencapai sekitar 3.000 orang. Angka ini merupakan 10 persen dari total tenaga kerja di kawasan tersebut. Demikian sebagaimana dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (16/01/2019).

“Bertahap akan kami kurangi. Pak Airlangga (Menteri Perindustrian) sudah berkomitmen untuk membuat politeknik (untuk menunjang kawasan industri) dari yang sekarang 200 orang menjadi 600 orang siswanya. Jadi jangan mengatakan tenaga kerja China ada 95 persen,” tegas Luhut dalam keterangan resmi yang diterima pers, Sabtu (12/01/2019).

Lebih lanjut, Luhut menyebutkan akan ada alih teknologi dalam bidang metalurgi untuk pengembangan SDM di kawasan terkait. Menurutnya, hal ini dikarenakan Presiden Direktur PT GEM Xu Kai Hua yang juga merupakan ahli di bidang metalurgi telah berjanji. Mr Xu berjanji kepada Luhut bahwa pihaknya akan mendidik penduduk Morowali.

“Mr Xu yang selain pengusaha juga profesor, dia tidak hanya memikirkan cari untung. Mereka akan kasih beasiswa ke Beijing, untuk bidang metalurgi dan transfer teknologi. Di China mereka masih 3.0 di sini mereka buat 4.0 dan dia mau transfer ini kepada kita,” ungkap Luhut kemudian.

Baca juga: Perlakuan Pemerintah China Kepada Tahanan Uighur Dinilai Lebih Kejam dari NAZI

Luhut juga menambahkan bahwa kawasan industri Morowali bakal menjadi lompatan besar bagi pengembangan industri lithium baterai di Indonesia. Di kawasan ini, akan dibangun pabrik pertama yang membangun komponen lithium bateral dari bahan dasar nikel di Indonesia yang menerapkan teknologi berbasis digital dengan mengadopsi industri 4.0 dan teknologi 5G.

“Indonesia saat ini sedang mengembangkan industri berbasis teknologi. Istilahnya kita sedang melakukan lompatan katak untuk pengembangan industri lithium baterai,” tukas Luhut.

Penilaian Luhut, nantinya indsutri ini juga akan berperan dalam meningkatkan ekspor dan menekan impor. Sementara nilai investasi pabrik tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$700 juta dan akan berkontribusi pada tambahan ekspor nantinya berkisar US$800 juta.

“Ini penting, supaya kita mandiri. Berpuluh tahun kita hanya ekspor bahan mentah. Dulu kita ekspor nikel mentah nilainya US$200-240 juta sekarang turunan pertamanya saja, tahun lalu kita ekspor menjadi US$4 miliar,” bebernya menjelaskan.