Sepakat dengan Prabowo, Ekonom Sebut Deindustrialisasi RI Tambah Parah


SURATKABAR.ID – Bhima Yudhistira selaku Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ikut membenarkan perkataan Prabowo Subianto. Sebelumnya, Calon Presiden no urut 02 tersebut menuturkan bahwa Republik Indonesia sedang mengalami deindustrialisasi. Penilaian Ketum Gerindra ini, sektor industri RI saat ini tengah mengalami penurunan.

Bhima Yudhistira turut membenarkan hal perkataan Prabowo. Menurutnya, memang benar kontribusi industri manufaktur terhadap PDB menurun.

“Iya betul sekali deindustrialisasi semakin parah. Share industri manufaktur (terhadap PDB) tercatat 19.66% pada kuartal III 2018, terus menurun secara signifikan. Bisa dikatakan terendah dalam 20 tahun terakhir yang pernah mencapai di atas 26%,” beber Bhima saat dihubungi awak media, Selasa (15/01/2019). Demikian melansir detikFinance, Rabu (16/01/2019).

Bhima menilai, indikator deindustrialisasi merupakan kontribusi industri manufaktur terhadap PDB yang terus turun.

Ia menyebutkan, kondisi ini juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja di dunia industri. Menurutnya, dalam tiga tahun belakangan, pertambahan tenaga kerja di sektor industri terus berkurang.

Baca juga: Rapor Merah Jokowi di Neraca Perdagangan: Terburuk Sepanjang Sejarah

“Dampaknya ke serapan tenaga kerja terancam turun karena kontribusi industri sebesar 14,1% dari total serapan tenaga kerja. Dalam 3 tahun terakhir pun rata-rata tambahan penduduk bekerja di sektor industri hanya 489 ribu orang, turun dibanding periode 2010-2012 yang mencatatkan tambahan 758 ribu orang per tahunnya,” urai Bhima menjabarkan.

Ia juga menambahkan, deindustrialisasi juga dapat mempengaruhi kontribusi pajak. Dia mengatakan pertumbuhan industri yang tidak optimal dapat menggerus penerimaan pajak.

“Efek berikutnya adalah 31% kontribusi pajak berasal dari industri pengolahan. Pertumbuhan industri pengolahan yang tidak optimal bisa menggerus basis pajak,” tukas Bhima.

Sebagaimana diketahui, dalam pidato kenegaraannya kemarin lalu, Calon Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan RI saat ini sedang dalam kondisi deindustrialisasi.

“Republik Rakyat Tiongkok berhasil menghilangkan kemiskinan dalam 40 tahun, menghilangkan kemiskinan. Vietnam bangkit, Thailand bangkit, Filipina bangkit, India bangkit tapi para pakar, Indonesia sedang terjadi deindustrialisasi,” tukasnya dalam Pidato Kebangsaan dan Visi Misi Indonesia Menang di JCC Senayan Jakarta, Senin (14/01/2019).

Lebih Lanjut Soal Deindustrialisasi RI

Harryadin Mahardika selaku bagian dari Tim Ekonomi Partai Gerindra, ikut menjelaskan maksud Prabowo terkait deindustrialisasi. Hal ini dikarenakan turunnya peran sektor industri pada perekonomian di Indonesia.

“Memang ada studinya dilakukan oleh Professor Ari Kuncoro dari UI, di paper beliau bilang Indonesia deindustrialisasi, salah satu indikatornya adalah menurunnya peran dari industri dalam perekonomian. Jadi semakin turun perannya ke perekonomian dan sudah sangat rendah sekali,” papar Harryadin menerangkan kepada media, Selasa (15/01/2019), melansir Finance.Detik.com.

Harryadin melanjutkan, deindustrialisasi juga tercermin dari nilai ICOR (Implemental Capital To Output Ratio) atau rasio produktivitas perekonomian. Menurutnya, besaran ICOR di Indonesia terlalu besar.

“Itu juga tercermin dari ICOR kita kan, itu terlalu tinggi, sekarang 6,4%, artinya kita butuh investasi 6,4% dari GDP untuk naikkan 1% GDP. Thailand cuma 4%, Malaysia 5%, yang lain banyak lebih rendah lagi, semakin besar kan semakin jelek,” imbuh Harryadin.

Menurut pemaparan Harryadin, neraca ekspor impor juga menjadi indikator untuk melihat deindustrialisasi yang diimbuhkan Prabowo. Harryadin mengatakan, hingga saat ini Indonesia kurang ekspor hasil atau output dari industri manufaktur. Ia menyebutkan, Indonesia masih banyak mengekspor bahan mentah.

“Itu juga tercermin dari ekspor impor kita, ekspor kita aja kebanyakan masih yang industri bahan dasar bahan mentah yang belum diolah, bukan hasil atau output industri manufaktur yang udah menjadi barang jadi,” tukas Harryadin.

Di samping itu, ia mengatakan defisit neraca ekspor-impor juga terus menurun. Dari situ ia menyimpulkan bahwa industri di Indonesia mandek.

“Ekspor impor kita juga defisitnya sangat jauh, 8 bulan ini aja defisit terus. Itu indikator sederhana industri kita mandek, sederhananya seperti itu,” pungkas Harryadin.

[wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]