Inovatif! Para Siswi Lamongan Membuat Biofoam dari Ampas Tahu& Bonggol Jagung


    SURATKABAR.ID – Seperti dalam banyak eksperimen, kegagalan merupakan sebuah kesuksesan yang tertunda. Hal ini juga dialami oleh para siswi cantik asal Lamongan. Ketiga pelajar ini terbukti berhasil melakukan sebuah inovasi dengan membuat biofoam. Yang menarik, biofoam ini terbuat dari ampas tahu dan bonggol jagung. Bagaimana kisahnya?

    Menukil Detik.com, Rabu (16/01/2019), awalnya Adinda Violita Vebiola, Ahdinia Intan Lestari dan Nanda Ayu Afifah dari SMAN 1 Lamongan ini didorong oleh pihak sekolah untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Dalam pencariannya, mereka menemukan ada dua limbah yang dapat dijadikan bahan biofoam (pengganti styrofoam) yang lebih ramah lingkungan.

    “Kami berinisiatif untuk mencari literatur berbahan limbah. Akhirnya kami menemukan kalau bonggol jagung dan ampas tahu yang kemudian kami cari tahu kandungannya. Ternyata bonggol jagung mengandung serat dan ampas tahu mengandung pati sehingga bisa memadatkan,” beber Adinda kepada awak media, Rabu (16/01/2019).

    Mereka pun lantas berbagi tugas setelahnya. Ahdinia bertugas mencari bonggol jagung yang memang mudah didapat di sekitar rumahnya. Sedangkan Nanda bertugas mencari ampas tahu untuk penelitian lebih lanjut. Sementara Adinda, bertugas untuk mempersiapkan gelatin nabati sebagai perekat.

    Bahan-bahan tersebut lalu dihaluskan. Menurut Adinda, bonggol jagung juga harus disaring usai dihaluskan. Proses penghalusan dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling agar seratnya bisa dipisahkan.

    Baca juga: Heboh NASA Unggah Foto Piring Terbang, Begini Kisah Sebenarnya

    Setelah itu, seluruh bahan yang telah dihaluskan dicampur air dalam takaran tertentu. Takaran air disesuaikan dengan ukuran biofoam yang diinginkan. Sebagai contoh, untuk biofoam dengan ketebalan satu milimeter, Adinda mengklaim butuh 20 gram ampas tahu serta 40 gram bonggol jagung untuk membuatnya.

    “Komposisi yang salah bisa mengakibatkan adonan tidak bisa lebur, meski ditambah gelatin nabati akan tetap pecah,” imbuh Ahdinia menjelaskan.

    Selanjutnya, adonan yang sudah jadi atau sudah siap ini kemudian melalui proses yang dinamakan termopressing. Proses ini merupakan langkah pencetakan untuk kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering setelahnya.

    “Termopressing merupakan alat yang didesain khusus untuk mencetak dan menimbulkan suhu panas sehingga bisa membentuk biofoam sesuai keinginan,” terang Ahdinia.

    Kendati kedengarannya mudah, namun Ahdinia mengakui proses demi proses ini tidak semudah itu. Sebut saja langkah dari awalnya, hingga kemudian timnya berhasil menemukan takaran adonan yang pas untuk biofoam pun terbilang cukup rumit.

    Bahkan ia mengaku timnya hampir putus asa, apalagi sewaktu mereka mengikuti lomba dengan membawa inovasi ini sedangkan hasilnya sempat tak sesuai harapan.

    “Proses penelitian dan pembuatan biofoam menggunakan bahan dasar bonggol jagung dan ampas tahu ini memakan waktu empat bulan. Sempat berkali-kali gagal. Kami juga dua kali mengikuti kejuaraan selalu gagal,” tukasnya menambahkan.

    Namun akhirnya perjuangan mereka berbuah manis. Mereka bertiga berhasil dengan suksesnya menjuarai Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang digelar pada bulan Desember 2018 lalu.