Heboh NASA Unggah Foto Piring Terbang, Begini Kisah Sebenarnya


SURATKABAR.ID – Badan Antariksa AS (NASA) saat mendekati akhir tahun lalu membuat heboh penduduk dunia karena unggahan fotonya yang mengejutkan. Pasalnya, gambar tersebut adalah sebuah piring terbang yang hancur. Bagaimaa kisah sebenarnya?

“Piring terbang dari luar angkasa hancur mendarat di gurun Utah setelah dilacak oleh radar dan dikejar dengan helikopter,” tulis deskripsi foto tersebut di situs Astronomy Picture of the Day.

Mengutip halaman Bali.TribunNews.com, Senin (14/01/2019), NASA tidak mengisyaratkan adanya kunjungan alien ke Bumi dengan foto tersebut. Hal itu dikarenakan memang piring terbang yang setengah terkubur ini mempunyai kisah lain.

Bukan Alien

Piring terbang itu sebenarnya adalah kapsul pesawat ruang angkasa—Genesis—yang kembali. Seharusnya, benda itu memang tidak mendarat secara brutal seperti yang terjadi.

Genesis sendiri diluncurkan pada 8 Agustus 2001 lalu. Misinya pun terhitung ambisius karena NASA mengirim pesawat antariksa itu ke angin matahari demi untuk mengumpulkan sampel. Sampel kemudian akan dibawa pulang ke Bumi.

Baca juga: Langka! Israel Temukan Mineral yang Sebelumnya Hanya Ada di Luar Angkasa

Misi ini menugaskan Genesis untuk mengumpulkan data tentang komposisi partikel bermuatan yang mengalir dari korona Matahari. Nantinya, data itu digunakan oleh para peneliti untuk menentukan sacara tepat komposisi bintang dan unsur-unsur di sekitarnya.

Demi tujuan tersebut, Genesis dilengkapi dengan kapsul sampel berisi tabung bahan angin matahari.

Sampel itu didapatkan setelah dua tahun Genesis mengorbit di Lagrange 1, sebuah lokasi di mana gravitasi Bumi dan Matahari seimbang. Pesawat antariksa itu lantas menangkap angin matahari dengan menggunakan serangkaian array kolektor yang berisi bahan kemurnian tinggi seperti aluminium, safir, silikon, dan emas.

“Bahan-bahan yang kami gunakan dalam susunan kolektor Genesis harus cukup kuat secara fisik untuk diluncurkan tanpa rusak, menyimpan sampel ketika terpapar panas Matahari, dan cukup murni agar kami dapat menganalisis elemen angin matahari,” beber Amy Jurewics, salah satu peneliti yang terlibat dikutip dari Science Alert, Sabtu (12/01/2019).

Kecelakaan Piring Terbang

Sekitar 8 September 2004, kapsul sampel dan susunannya yang berharga itu memasuki orbit Bumi kembali. Sayangnya, kapsul berupa piring terbang itu menabrak tanah di Gurun Utah dengan kecepatan yang diperkirakan mencapai 310 km/jam.

Padahal, harusnya saat memasuki atmosfer Bumi, sebuah mortir di atas kapsul itu akan meledak dan melepaskan parasut. Dengan begitu, mestinya, kapsul bergerak lebih lambat dan stabil.

Dalam foto kecelakaan itu, publik bisa melihat ada beberapa helikopter di sekitar piring terbang. Sebelumnya, mereka bersiap mengambil kapsul di udara dan langsung mengangkutnya ke laboratorium untuk menghindari kontaminasi sampel. Namun sayang, rencana itu tak bisa dilaksanakan dengan mulus.

Apa Biang Keladinya?

Setelah dilakukan penyelidikan menyeluruh, biang keladi dari masalah ini adalah satu set sensor. Sensor itu bahkan hanya seukuran ujung pensil. Perangkat kecil ini harusnya mendeteksi peningkatan kekuatan gravitasi ketika memasuki Bumi dan memicu pelepasan parasut.

Pada akhirnya, kecelakaan ini menyebabkan kerusakan parah. Selain itu, muatan berharga di dalamnya juga menjadi tercemar.

Beruntungnya, misi Genesis tidak sepenuhnya hancur. Beberapa bahan kolektor yang kokoh bertahan dan para peneliti berhasil membersihkan permukaannya tanpa mengganggu sampel di dalamnya. Bahkan, dalam tiga tahun serangkaian makalah terbit berkat piring terbang itu.

“Matahari menampung lebih dari 99 persen bahan yang saat ini ada di Tata Surya kita, jadi itu ide yang baik untuk mengenalnya lebih baik lagi,” sebut Don Burnett, penyelidik utama Genesis.

“Walaupun itu lebih menantang dari yang diharapkan, kami telah menjawab beberapa pertanyaan penting, dan seperti semua yang berhasil, menghasilkan lebih banyak lagi (pengetahuan),” demikian Burnett menjabarkan.