Perlakuan Pemerintah China Kepada Tahanan Uighur Dinilai Lebih Kejam dari NAZI


SURATKABAR.ID – Seyit Tumturk yang merupakan Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur sangat menghargai muslim Indonesia yang selama ini telah banyak menaruh perhatian terhadap penindasan etnis Uighur. Menurut penjelasan Seyit Tumturk, etnis Uighur mengalami penyiksaan selama ditangkap oleh pemerintah China.

Melansir JawaPos.com, Senin (14/01/2019), Seyit Tumturk mengatakan bahwa Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memberikan sejumah data. Salah satunya yakni mengenai satu juta warga Uighur yang ditahan pemerintah Tiongkok. Namun ternyata data itu berbeda dengan fakta yang dimilikinya. Menurutnya, ada lebih dari sejuta warga yang disekap.

“Akan tetapi menurut data kami, jumlahnya 3-5 juta orang. Mereka dalam tahanan mendapatkan perlakuan lebih kejam dari NAZI,” tandasnya dalam diskusi ‘Kesaksian dari Balik Penjara Uighur’ di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/01/2019).

Seyit Tumturk melanjutkan, pemerintah Tiongkok menggunakan modus ‘Proyek Persaudaraan’ untuk menangkap bangsa Uighur.

“Dan barang siapa yang melawan pemerintah komunis Tiongkok, maka dicap sebagai teroris, Islam radikal, dan dimasukkan dalam kamp,” paparnya kemudian.

Baca juga: Inikah Sebabnya Belalang dan Jangkrik ‘Menyerbu’ Mekah?

Itulah sebabnya, ia sangat menyayangkan ketidakberpihakan masyarakat dunia terkait penyiksaan yang menimpa Uighur. Dia pun berterima kasih sekali kepada rakyat Indonesia yang peduli atas keberlangsungan hidup bangsa Uighur.

“Sayang sekali sebanyak 3-5 juta masyakarat muslim Uighur yang dapat kezaliman, dunia buta dan tuli apa yang terjadi di Turkistan Timur (Uighur),” demikian ia menyampaikan.

“Dan atas penindasan dan kezaliman yang ada, masyarakat muslim Indonesia turun ke jalan dan menyuarakan solidaritasnya. Dan inilah salah satu sebab saya ke Indonesia untuk berterima kasih,” ia menuturkan.

Dipaksa Buang Air Besar Dalam Tahanan

Hadir juga dalam acara tersebut seorang wanita yang pernah ditahan selama 16 bulan di kamp reedukasi Xinjiang. Wanita asal Kazakhstan bernama Gulbahar Jalilova (54 tahun) itu mengungkapkan apa yang dialaminya saat berada di tahanan selama satu tahun lebih. Mengutip Republika.co.id, ia datang ke Indonesia untuk mengumumkan kepada dunia tentang kondisi Muslim Uighur di Xinjiang, China.

Jalilova menyebutkan, ia dan beberapa Muslim Uighur lainnya ditempatkan di sebuah ruangan. Semua kegiatan apa pun hanya di dalam ruangan itu. Termasuk buang air kecil maupun besar.

“Tak bisa keluar karena semua kegiatan hanya di dalam ruangan. Buang air kecil dan besar dilakukan di ruangan itu,” ucap Jalilova melalui penerjemah, dalam konferensi pers acara bertajuk ‘Kesaksian dari Balik Penjara Uighur’ tersebut.

Jalilova juga mengaku diinterogasi setelah tiga bulan ditangkap. Tahanan lainnya ada yang diinterogasi setelah menunggu selama satu tahun.

Sejak bangun pagi sampai pukul setengah 10 malam, para tahanan dikumpulkan dan tak boleh bergerak. Mereka hanya melihat kepada dinding. Di dinding itu ada kamera CCTV dan layar televisi. Di tayangan TV itu ada Presiden China Xi Jinping.

“Ketika menoleh dianggap oleh penjaga melaksanakan ibadah lalu disiksa, dihukum,” ungkap Jalilova.

Selama di ruangan itu, tahanan tidak diberi makan maupun minum. Jalilova dan tahanan lain merasa amat kelaparan dan kehausan. Bahkan berat Jalilova sampai turun 20 kg.

“Mereka hidup dalam kelaparan dan kehausan dan ketika mereka mengeluh kelaparan dan kehausan mereka dikira berbicara satu sama lain lalu mendapat siksaan,” imbuhnya kemudian.

Saat ada satu orang yang sudah lanjut usia pingsan, kemudian tahanan lain ingin menolongnya, maka yang hendak menolong itu mendapat siksaan.

“Semuanya diborgol dengan besi, lalu di kakinya diberikan besi 5 kg. Semuanya seperti itu,” demikian Jalilova melanjutkan.

Bahkan, Jalilova kembali bercerita, di dalam tahanan sempat ada yang melahirkan. Setelah itu ibu dan anaknya dipisahkan. Si anak sama sekali tidak diperbolehkan diberi ASI.

“Di penjara saya bersama perempuan dari usia sekitar 14 tahun sampai 80 tahun. Saya mengalami stres, syok,” ia menjabarkan.

Selain itu, seluruh tahanan juga disuntik untuk kemudian diambil darahnya. Para tahanan tak ada yang tahu untuk apa persisnya darah tersebut. Pengambilan darah ini dilakukan per pekan hingga per bulan.

Satu hal yang betul-betul ingin dijaga oleh perempuan asal Kazakhstan itu, yakni amanah dari para tahanan. Sebelum dibebaskan dengan bantuan lobi dari keluarga dan Pemerintah Kazakstan, para tahanan menitip pesan agar menginformasikan apa yang sebetulnya terjadi di kamp reedukasi Xinjiang, dan yang dialami Muslim Uighur.

“’Kami yang di sini tidak tahu bagaimana keluarnya, mohon beritahukan bahwa kami sedang mendapatkan penindasan dan kezaliman’,” tutur Jalilova menirukan ucapan para tahanan.

Awalnya, Jalilova ikut ditahan saat ia menghabiskan dua dekade terakhir berbisnis di perbatasan China-Kazakhstan. Pada Mei 2017, ia tiba-tiba ditangkap di Kota Urumqi, China, dengan tuduhan mentransfer dana secara ilegal sebesar 17 ribu yuan (3/500 dolar AS) dari Cina dan Turki.

“Ketika saya berada di kamp tersebut, saya dimintai KTP China saya. Saya memberi tahu mereka bahwa saya adalah orang asing dan bahwa saya tidak melakukan kesalahan,” ujarnya, menukil SindoNews.com.