Ada yang Belum Dapat Bantuan Apapun, Korban Gempa Lombok Tagih Janji Bantuan Jokowi


 SURATKABAR.ID – Perwujudan janji bantuan pemerintahan Jokowi seperti yang tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia (Inpres RI) Nomor 5/2018 tentang Percepatan Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Pasca Bencana Gempa Bumi Lombok ditagih korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka mengatakan, pihaknya lebih menyukai bukti alih-alih janji.

“Kami butuh bukti, bukan janji,” ujar Kepala Desa (Kades) Jeringo, Sahril, sewaktu ditemui dirumahnya, Kabupaten Lombok Barat, Jumat (11/01/2019). Demikian menukil reportase CNNIndonesia.com, Sabtu (12/01/2019).

Mewakili aspirasi warganya, Sahril tak mau dijadikan ajang politik oleh pemerintah pusat. Yang tak diinginkannya, saat mendekati Pemilihan Presiden RI, barulah pemerintah pusat merealisasikan bantuannya.

Sahril mengharapkan, pemerintah pusat segera merealisasikan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat (korban gempa) sesuai dengan Inpres Nomor 5/2018 tersebut dan Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 2/2018 tentang penggunaan dana siap pakai (DSP).

Berdasarkan dua aturan dasar tersebut, dijelaskan besar dana bantuan yang diterima masyarakat korban gempa. Antara lain Rp 50 juta untuk kategori rusak berat, Rp 25 juta untuk kategori rusak sedang serta Rp 10 juta untuk kategori rusak ringan.

Baca juga: 5.144 Mahasiswa Korban Gempa Lombok Dapat Beasiswa dari Jokowi

Untuk Desa Jeringo yang didiami oleh 2.734 jiwa dengan 822 kepala keluarga yang terdampak gempa dengan kategori berat sebanyak 93 persen. Korban gempa pernah mendapatkan bantuan dari Menteri Keuangan (Menkeu) RI sebesar Rp 1 miliar yang diterima langsung oleh Kades yang lantas didistribusikan kepada semua warga. Masing-masingnya, warga mendapatkan Rp 384 ribu.

Sahril menambahkan, harusnya saat ini dalam kurun waktu 2019 sudah tertangani. Tapi hingga kini, baru 18 kepala keluarga yang mendapatkan bantuan yang dijanjikan oleh pemerintah. Bantuan tersebut berupa rumah instan konvensional (riko).

Harapan Sahril, kepala BNPB pusat yang baru segera melakukan evaluasi kebijakan pimpinan sebelumnya, membuat regulasi yang mempermudah masyarakat (korban gempa) mendapatkan hak-haknya dan merealisasikan janji-janji sebelumnya.

Warga desa Gelangsar bernama Mustinah mengharapkan, pemerintah segera memberikan bantuan, baik berupa rumah maupun uang. Ia mengaku belum mendapatkan bantuan berupa apapun dari pemerintah.

Senada, Tohri yang merupakan warga dusun Gelangsar juga berharap segera mendapat bantuan yang dijanjikan sebagaimana beberapa warga desa Jeringo.

Pada saat ini, semua warga sudah kembali dari pengungsian dan tinggal di rumah yang mereka bangun sendiri secara swadaya. Mereka melakukannya dari puing-puing rumah mereka yang telah hancur oleh gempa.

Pemkot Balikpapan Akan Serahkan Bantuan Bencana Lombok dan Palu

Minggu depan, tepatnya Kamis (17/01/2019) mendatang, Pemerintah Kota Balikpapan akan bertolak ke Lombok dan Palu untuk memberikan bantuan secara langsung. Bantuan ini merupakan pemberian pemerintah dan warga kota Balikpapan. Hal ini diungkapkan Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi saat di wawancara awak media, Jumat (11/1/2019).

“Disana nanti hanya penyerahan secara seremonial saja. Karena barangnya sudah ada disana,” tukasnya, melansir Kaltim.TribunNews.com.

Rizal menyebutkan, bantuan yang diperuntukkan buat korban bencana gempa dan tsunami di Lombok dan Palu itu telah dikirim jauh-jauh hari lalu. Bantuan tersebut diberikan dari sumbangan warga dan Pemerintah kota Balikpapan.

“Uang bantuannya sudah kita kirim jauh-jauh hari kemarin. Ada dari warga, komunitas, organisasi masyarakat dan pemerintah. Dari pemkot saja kita sumbangkan sebesar Rp 1 miliar,” urainya.

Ia melanjutkan, bantuan itu dirinya berharap dapat diprioritaskan untuk keperluan pendidikan, namun dirinya kembali menyerahkan kepada pemerintah Lombok dan Palu soal penggunaannya.

Ia sangat menghargai lembaga, komunitas dan masyarakat yang telah bahu-membahu terutama dalam pelayanan para pengungsi hingga viral di media sosial (medsos) yang mengungkapkan apresiasinya kepada warga Balikpapan yang sangat membantu saudara kita yang mengalami bencana di Sulteng.

“Saya menilai kegiatan tersebut merupakan pengalaman yang baik untuk kita, walaupun mengingat kondisi wilayah Kaltim dan Balikpapan tidak masuk dalam peta gempa dan tsunami, tapi kita tetap harus waspada,” demikian ia mengimbau.