Fenomena Ngelem Makin Mencemaskan, UU Narkotika& Psikotropika Perlu Direvisi?


SURATKABAR.ID – Tri Rismaharini yang merupakan Wali Kota Surabaya harus turun tangan sendiri dalam mengarahkan lima remaja yang tertangkap basah sedang berpesta lem (ngelem) di kawasan Banyu Urip, November lalu. Fenomena mengisap lem sebagai candu ini memang makin mencemaskan, terutama belakangan ini.

Di kota-kota besar di penjuru Nusantara, mudah dijumpai gerombolan anak yang bebas menghirup uap lem kaleng yang ditentengnya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, yang menyebutkan bahwa prevalensi pemakaian lem oleh generasi muda kita mencapai 35,3 persen (Survei Penyalahgunaan Narkotika BNN, 2015).

Mengutip Tempo.co, Kamis (10/10/2019), fenomena ini disebut “adiksi zat inhalen”, yakni proses kecanduan zat yang masuk ke dalam tubuh dengan dihirup. Di dalam lem itu sendiri terkandung zat bernama toluena, yang merupakan turunan hidrokarbon aromatik yang juga lazim dijumpai pada pelarut cat dan bensin.

Efek menghirup toluena ialah halusinasi dan perasaan melayang-layang yang dapat berlangsung hingga lima jam sesudah pemakaian. Demikian menurut Muhammad Hatta selaku Dokter Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar.

Karena toluena juga bersifat dePresan (penekan) susunan saraf, maka pengguna zat ini tak akan merasa lapar walau tak makan selama berjam-jam. Efek negatif lainnya, yang umumnya amat dicari oleh pengguna, adalah ketenangan sesaat yang membuat mereka seakan berada di “dunia lain”.

Baca juga: Astaga! Mabuk dengan Rebusan Air Pembalut Kini Jadi Tren di Jateng dan Jakarta

Padahal sensasi tersebut adalah akibat dari penekanan saraf di otak yang justru memperlambat koordinasi gerakan dan konsentrasi pikiran sang pengguna. Semua efek itu menjadikan mereka kecanduan (adiksi) dan terus mencari zat inhalen tersebut.

Cara ngelem pun beragam. Ada yang sekadar menghirup uap lem (sniffing), menuangkan langsung ke hidung atau mulut (snorting), menghirup melalui kain yang telah direndam dalam lem (huffing), dan yang terpopuler adalah menghirup lem yang telah dibungkus plastik atau kantong kertas (bagging). Dari semua cara itu, snorting yang paling berbahaya lantaran bisa mengakibatkan kerusakan permanen jaringan mukosa hidung atau mulut dan penyumbatan jalan napas.

Sudden Sniffing Death

Pada pemakaian kronik dan yang berlangsung lama, toluena mengakibatkan kerusakan saraf otak permanen dan hancurnya organ vital, seperti hati dan ginjal (Flanagan et al, 1990). Zat laknat tersebut bahkan dapat menimbulkan fenomena yang dinamakan sudden sniffing death, yakni kematian tiba-tiba saat menghirup lem yang diakibatkan oleh kombinasi gangguan irama jantung disertai peningkatan adrenalin (Shepherd, 1989).

Penegakan hukum sulit dilakukan karena zat ini tak dikategorikan sebagai narkotika dalam aturan kita. Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2018 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika tak mencantumkan zat toluena di dalamnya. Oleh sebab itu, aparat kepolisian atau BNN hanya melakukan upaya pembinaan dan penyadaran terhadap anak dan remaja yang tertangkap menggunakan lem.

Hal ini tentu sangat berbahaya. Selain berdampak buruk terhadap kesehatan, fenomena ini juga mencitrakan negara melakukan “pembiaran” dan terkesan melempem terhadap fenomena mengerikan tersebut.

Penanggulangan zat inhalen di negara-negara maju layak dicontoh. Di Australia, misalnya, polisi didukung oleh Undang-Undang Wewenang dan Tanggung Jawab Polisi (PPRA) yang memungkinkan mereka menyelidiki dan menyita barang bukti yang digunakan oleh pecandu zat inhalen.

Mereka juga berwenang menangkap dan menahan para pengguna, yang kemudian diarahkan ke pusat-pusat rehabilitasi terdekat. Aturan ini juga dilengkapi dengan delik Undang-Undang Pelanggaran Sumir (SOA) yang melindungi pedagang yang menolak menjual zat inhalen kepada orang-orang yang dicurigai dapat menyalahgunakannya.

Di Amerika Serikat, Badan Pencegahan Narkoba (DEA) mempunyai unit khusus Kantor Pembatasan Zat Diversi dan penyelidik diversi. Para penyelidik ini didominasi oleh apoteker dan sarjana kimia. Mereka berperan layaknya detektif yang melakukan upaya penegakan hukum terhadap segala penyimpangan zat diversi (zat yang digunakan tidak untuk peruntukannya), termasuk zat inhalen.

Alangkah baiknya jika Pemerintah bertindak cepat dan tegas dalam memerangi fenomena ngelem. Sudah saatnya toluena dimasukkan ke pembahasan revisi Undang-Undang Narkotika dan Psikotropika. Momentumnya sangat tepat sebab aturan itu masih dibahas di parlemen.