Fahri Hamzah Sebut Pemerintahan Jokowi Bekerja Hanya Untuk Menang


SURATKABAR.ID – Menurut Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, pemerintahan Presiden Joko Widodo telah mempersiapkan diri terlalu dini untuk meraih kemenangan di Pilpres 2019. Akibatnya, pengelolaan pemerintah jadi terlalu fokus untuk meraih kemenangan itu. Pengakuan Fahri, hal itu pertama kali diucapkan oleh seorang pejabat yang mengetahui kondisi pemerintahan saat ini dan sebelumnya.

“Saya tanya apa bedanya pemerintahan ini sama yang lalu? Jawaban beliau yang mengagetkan saya adalah beliau mengatakan pemerintahan ini terlalu cepat mempersiapkan pemilu yang akan datang,” ungkap Fahri dalam diskusi yang dihelat di Seknas Prabowo-Sandiaga, Menteng, Jakarta, Rabu (09/01/2019). Demikian lansiran CNNIndonesia.com, Kamis (10/10/2019).

“Maksudnya dia ingin kembali dan terpilih kembali pada pemilihan berikutnya itu terlalu cepat,” imbuh Fahri menambahkan.

Ia kemudian melanjutkan, akibat dari prinsip tersebut, segala rapat kabinet dan pengelolaan pemerintahan jadi bernuansa melulu untuk meraih kemenangan. Sebagai contoh, dalam aspek pemilihan orang untuk ditempatkan di suatu jabatan.

Contoh lainnya berkenaan dengan memilah-milah kebijakan. Fahri mengimbuhkan, alam pikir yang ada di pemerintahan ialah memilih program atau kebijakan yang dapat memberikan keuntungan elektoral.

Baca juga: Fahri Hamzah: Kasus Kardus Belum Dijawab, Sekarang Kertas Suara

“Memenuhi janji-janjinya pada kampanye itu nyaris tidak ada,” tukas Fahri.

Fahri menyebutkan roh pemerintahan saat ini yaitu berupaya untuk menang kembali. Komitmen awal sewaktu terpilih dulu tidak lagi dianggap perlu untuk direalisasikan.

“Saya kira ini bencana yang kita hadapi di dalam politik kita empat tahun belakangan ini,” ujar Fahri.

Hal ini diungkapkannya saat menjadi pembicara dalam diskusi yang bertajuk “2019, Adios Jokowi  di Kantor Seknas Prabowo-Sandiaga tersebut.

Mengutip laporan TribunNews.com, bahkan menurut Fahri pemerintahan Jokowi saat ini sudah memikirkan Pilpres 2019 di saat usia jabatannya baru memasuki tahun kedua. Lebih tepatnya saat memasuki bulan ke-13.

“Saya pernah bertemu dengan seseorang yang pernah masuk inti pemerintahan pada bulan ke-13 atau tahun kedua, ia menyebut pemerintahan ini terlalu cepat berpikir untuk memenangkan pemilihan presiden berikutnya,” beber Fahri kemudian.

Ia lalu mengatakan, orang tersebut lantas menceritakan bahwa suasana rapat kabinet kemudian menjadi bernuansa berupaya memenangkan pemilihan berikutnya.

“Sehingga menurutnya pemilihan orang, pemilihan program berdasarkan sudut pandang agar bisa terpilih kembali, bukan berdasar pada membangun dan memenuhi janji-janji,” tandasnya.

“Kalau mau mengalahkannya mudah saja tinggal tagih janji-janjinya pasti kelimpungan, banyak sekali janji yang tidak ditepati,” demikian Fahri menambahkan.

Di tempat yang sama, akademisi Rocky Gerung melihat ke aspek yang lain. Kata Rocky, sejauh ini kubu Jokowi-Ma’ruf justru dirugikan oleh gelagat orang-orang yang mendukungnya.

“Saya melihat Pak Jokowi dikeroposi timnya sendiri,” sebut Rocky.

Ia mengungkapkan selama ini kerap diserang oleh buzzer dan simpatisan Jokowi. Kritik pedas bahkan sering diterimanya. Termasuk juga makian.

Namun, Rocky menganggap hal itu tak menimbulkan efek apapun kepada dirinya. Sebaliknya, malah Jokowilah yang harus menanggung rugi.

“Karena menyerangnya secara personal. Pembully, pemfitnah dan seterusnya. Setiap kali para buzzer menyerang saya, elektabilitas Pak Jokowi turun 0 koma,” ucap Rocky.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.