Koalisi Tronjal-Tronjol Bukan Satu-Satunya di Dunia, Ada MKKP di Hungaria


SURATKABAR.ID – Beberapa waktu lalu, para pengguna media sosial dihebohkan dengan kemunculan dua tokoh, yakni Nurhadi-Aldo. Mereka adalah pasangan calon presiden-calon wakil presiden fiktif yang disebut sebagai hasil karya sekelompok anak muda lantaran jengah dengan kondisi politik di Indonesia.

Berbagai meme dan poster mereka berseliweran di sosial media. Sekilas, poster-poster tersebut sangat meyakinkan. Mulai dari desain kampanye parpol hingga busana Nurhadi dan Aldo. Namun semua langsung hancur saat membaca gabungan singkatan nama mereka, yakni ‘Dildo’.

Partai pengusung Nurhadi-Aldo pun tak kalah menarik perhatian: Koalisi Indonesia Tronjal-Tronjol Maha Asyik’. Andalan kampanye pasangan Dildo ini adalah konten-kontenmesum, bahkan terkadang seksis. Namun mereka juga kerap menampilkan berbagai topik lain yang dianggap sensitif.

Seperti yang dilansir dari Tirto.id pada Rabu (9/1/2019), Nurhadi sendiri merupakan sosok yang benar-benar ada di dunia nyata. Ia adalah seorang tukang pijat yang berasal dari Mejobo, Kabupaten Kudus. Namanya sudah sangat tenar di komunitas shitposting lantaran kebiasaannya promosi jasa pijat.

Berbeda dengan Nurhadi, Aldo hanya sosok rekaan yang wajahnya didapatkan dari gabungan antara dua orang politikus. Sosok fiktif Aldo juga sebelumnya sudah terlebih dahulu populer di komunitas shitposting.

Baca Juga: Pasangan Capres-Cawapres ‘Dildo’ Gemparkan Medsos, Sosok di Baliknya Beri Pengakuan Mengejutkan Ini

Melalui sentuhan humor, kehadiran Nurhadi-Aldo dengan cepat merebut simpati massa dunia maya. Terlebih bagi orang-orang yang sudah muak dengan adab politik polarisasi dan kampanye hitam yang semakin marak dipraktikkan di Indonesia.

Dan rupanya pertunjukan politik seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo juga pernah dilancarkan satu partai dari Hungaria, yakni Magyar Kétfarkú Kutya Párt (MKKP). Mereka sama-sama mengaku muak dengan sikap dan segala omong kosong partai politik.

Rekam Jejak MKKP: Lewat Satire dan Lawakan

Magyar Kétfarkú Kutya Párt (MKKP) dalam bahasa Inggris disebut Hungarian Two-Tailed Dog Party yang didirikan di Szeged, kota terbesar ketiga di Hungaria pada tahun 2006 silam. Mereka sukses menggemparkan perpolitikan Hungaria dengan berbagai janji konyolnya.

Seperti kerja satu hari dalam sepekan, dua matahari terbenam setiap hari, bir gratis, pajak rendah, kehidupan abadi, hingga perdamaian dunia. Slogan yang disuarakan MKKP juga tak kalah nyentriknya. Seperti” ‘Esok seharusnya kemarin!’, ‘Biarkan semuanya menjadi lebih baik!, ‘Kami menjanjikan apa saja!’, hingga ‘Apa yang kami inginkan? Tidak ada! Kapan kami menginginkannya? Tidak akan pernah!’.

Sama seperti partai yang mengusung pasangan Nurhadi-Aldo, MKKP juga sudah mempersoapkan kandidat wakil rakyat untuk dikirimkan ke parlemen. Bukan manusia, ia adalah seekor anjing fiktif bernama Nagy István.

Ada alasan di balik pemilihan nama sosok fiktif tersebut. Nagy adalah nama keluarga tunggal paling umum di Hungaria. Sementara István merupakan nama depan yang cukup populer di sana. Poster menggemaskan Nagy István kerap terpajang di berbagai jalan. Slogan ‘Anjing ini terlalu imut, pasti dia tak akan suka mencuri’, melengkapi poster anjing fiktif tersebut.

Dalam pemilihan umum 2010, MKKP mencalonkan Dániel Mogács yang merupakan seorang stand up comedian untuk menjadi Wali Kota Erzsébetváros, daerah yang termasuk Distrik VII di Budapest. Meski pencalonan tersebut dibalut humor nan menggelitik, namun dikampanyekan dengan sangat serius. Mogács bahkan sempat diwawancarai empat mata oleh presenter paling tersohor di Hungaria, Olga Kálmán.

Pada berbagai kampanye, Mogács menawarkan deretan program enviromentalisme yang ia janjikan akan diwujudkan apabila terpilih nanti. Beberapa programnya adalah pengembangan stasiun luar angkasa Szeged agar dijadikan pelabuhan antariksa antarplanet, menambal lubang di lapisan ozon, hingga proyek menciptakan spesies baru untuk menggantikan spesies yang telah punah.

Mogács juga menjanjikan sesuatu yang sangat tak masuk akal, yakni membangun hubungan dagang dengan makhluk luar angkasa dan membuka restoran Hungaria di Mars agar dapat meningkatkan citra negaranya.

Sayangnya Mogács gagal melaju dikarenakan batas minimum kuota suara di parlemen yang tak terpenuhi. Pencalonan dirinya pun menjadi cikal bakal keseriusan MKKP di kancah elektoral yang  dimulai sejak tahun 2013.

Hal tersebut dibulai dengan menjalani proses registrasi resmi sebagai bagian dari undang-undang pemilu selanjutnya agar bisa ikut berkampanye. Langkah MKKP sempat terhenti, lantaran pendaftaran pertamanya ditolak pada awal 2014. Mahkamah Agung baru menyetujuinya pada Juli di tahun yang sama.

Usai menyelesaikan semua proses, MKKP akhirnya terdaftar secara resmi dalam Komite Pemilihan Umum Hungaria pada 8 September 2014. Sayangnya, mereka hampir terlambat saat mengajukan bakal calon kepala daerah 2014, yakni hanya 16 menit sebelum tenggat akhir pencalonan. Lantaran sebab itulah alur kampanye MKKP pun tersendat hingga akhirnya harus gagal melangkah lebih jauh dalam pemilihan 2014.

Tahun 2015, Pemerintahan Hungaria yang dipimpin Viktor Orbán dengan gencarnya berkampanye menolak kaum imigram. Macam-macam jargon provokatif, seperti ‘Jika Anda datang ke Hongaria, Anda tidak dapat mengambil pekerjaan orang Hongaria!’, sangat sering terpajang di berbagai poster hingga papan iklan sebagai bagian dari propaganda pemerintahan setempat.

Tak tinggal diam, MKKP bersama dengan gerakan pro-demokrasi yang menamai dirinya Vastagbőr Blog, menyuarakan kritikan telak atas kebijakan Orbán.

Koalisi keduanya lalu melakukan kampanye yang dinamakan ‘Anti Kampanye Anti Imigrasi’ untuk menandingi Orbán. Lebih dari 800 papan iklan dibuat dengan slogan sindiran, seperti ‘Maafkan Perdana menteri Kami’, hingga ‘Jangan Ragu untuk Datang ke Hungaria, Kami Sudah Bekerja di Inggris!’. Perlahan namun pasti, akhirnya MKKP berhasil mengumpulkan donasi hingga mencapai lebih dari 33 juta forints – mata uang Hungaria.

Kesuksesan tersebut sontak mendongkrak nama MKKP sebagai partai nyeleneh, namun sangat layak diperhitungkan. Pada 4 Februari 2016, sebuah jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei ternama Hungaria, Median, menunjukkan bahwa MKKP mendapatkan 1 persen suara dari total populasi. Fakta ini membuat MKKP semakin gencar menggelar kampanye pro imigran maupun pengungsi.

Pada Oktober 2016, MKKP menghabiskan hingga €100.000 yang dikumpulkan dari donasi sekitar 4 ribu orang. MKKP pun kembali membuat poster dan papan iklan berisi slogan-slogan satir yang menohok.

‘Apakah Anda tahu ada perang di Suriah?, ‘Apakah Anda tahu jika satu juta orang Hungaria ingin beremigrasi ke Eropa?’, ‘Apakah Anda tahu, para pelaku korupsi kebanyakan adalah politikus?’, hingga yang absurd sekali, seperti ‘Apakah Anda tahu kepala Anda suatu waktu dapat tertimpa pohon?’ adalah beberapa slogan di antara sekian banyak.

Ketua MKKP Gergely Kovács memberikan penjelasan kepada BBC terkait kampanye partainya.

“Kami benar-benar tidak dapat melakukan apapun terhadap mereka yang menghabiskan waktu untuk membenci imigran. Mereka sepertinya adalah orang-orang yang lebih ingin hidup bersama alien dari planet lain ketimbang imigran. Yang bisa kami lakukan adalah menarik jutaan orang Hungaria yang kesal dengan kampanye pemerintah. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian,” jelas Gergely Kovács, (10/9/2016).

MKKP juga sangat aktif mempropagandakan agar masyarakat memilih secara tak sah pada saat pemilihan referendum. Tak hanya dilakukan secara manual dengan turun langsung ke masyarakat akar rumput, MKKP juga membuat sebuah aplikasi khusus, yakni ‘Vote Invalidly’. Aplikasi ini dapat digunakan untuk mengambil foto kertas pemilihan yang rusak, kemudian dipublikasikannya melalui akun media sosial. Hasilnya cukup mengejutkan, total ada sebanyak 6 persen suara yang dianggap rusak.

Namun gara-gara merilis aplikasi tersebut, MKKP mendapat denda sebesar 832.000 forints dari Komite Pemilihan Referendum. Pasalnya, meski lewat identitas anonym, menerbitkan surat suara  merupakan tindakan ilegal di Hungaria.

Mahkamah Agung kemudian mengurangi jumlah denda menjadi hanya 100.000 forints lantaran menilai penayangan surat suara secara anonym tak melanggar kerahasiaan dalam pemungutan suara, melainkan hanya menyalahgunakan kertas suara saja.

Pada pemilihan parlemen tahun 2018 lalu, MKKP masih tak mendapat kursi, akan tetapi perolehan suara mereka meningkat menjadi 1,73 persen. Hal ini membuktikan upaya yang mereka lakukan selama ini tidaklah sia-sia, meski awalnya menjadikan gurauan sebagai landasan.

Bercermin dari MKKP, akankah pasangan Nurhadi-Aldo sanggup melakukan terobosan serupa? Jika menilik dari tingkat popularitas mereka yang semakin menanjak, bukan hal yang mustahil kelak bakalan ada wakil rakyat dari Koalisi Indonesia Tronjal-Tronjol Maha Asyik menyuarakan legalitas ganja di parlemen.