Pasangan Capres-Cawapres ‘Dildo’ Gemparkan Medsos, Sosok di Baliknya Beri Pengakuan Mengejutkan Ini


SURATKABAR.ID – Masyarakat baru-baru ini dihebohkan dengan sebuah poster pasangan calon presiden dan wakil presiden Indonesia, Nurhadi dan Aldo (Dildo) yang tersebar di media sosial. Diusung koalisi ‘Tronjal-Tronjol Maha Asyik’, pasangan nomor urut 10 langsung viral di jagat maya.

Seperti diwartakan Kompas.com pada Senin (7/1/2019), pasangan capres dan cawapres Dildo ini tentu saja cuma sekadar guyonan. Lantas siapakah sosok di balik capres fiktif Nurhadi yang belakangan ini makin dikenal di berbagai situs jejaring sosial, mulai dari Facebook, Instagram, hingga Twitter itu?

Bertolak belakang dengan penampilan di media sosial yang sangat berwibawa bak orang berkelas, rupanya Nurhadi berprofesi sebagai tukang pijat refleksi. Ia bertempat tinggal di salah satu kios yang terletak di Pasar Brayung, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Pria dari empat anak asal Desa Golantepus RT 006 RW 004, Kecamatan Mejobo, Kudus, tersebut telah 15 tahun menjalani pekerjaannya sebagai tukang pijat. “Saya malah tidak tahu dan tidak kenal siapa cawapres pasangan saya itu,” ungkap Nurhadi, Minggu (6/1) kemarin.

Menurut pria kelahiran Kudus, 10 Agustus 1969, pasangan capres dan cawapres ‘Dildo’ merupakan hasil imajinatif Edwin yang mengaku berasal dari Yogyakarta. Pada Desember lalu, Edwin menghubunginya melalui aplikasi Messenger.

Baca Juga: Viral Video Jokowi Disambut Acungan Dua Jari, Tak Disangka Begini Fakta Sebenarnya

Awalnya, beberapa tahun yang lalu, Nurhadi dalam akun Facebook pribadinya membentuk ‘Komunitas Angka 10’. Dan dalam percakapan melalui aplikasi Messenger itu, Edwin mengaku sangat mengagumi sosok Nurhadi yang disebut sangat menginspirasi.

“Nah, kemudian ada orang yang mengaku dari Yogyakarta bernama Edwin. Dia yang mengikuti akun saya itu mengaku ngefans dengan saya. Apalagi pengikut saya di Komunitas Angka 10 mencapai puluhan ribu. Kata dia, unggahan-unggahan saya itu lucu dan menginspirasi,” jelas Nurhadi.

Dari situlah kemudian capres dan cawapres bayangan Nurhadi dan Aldo (Dildo) akhirnya tercipta. Edwin dan Nurhadi semakin intens berkomunikasi. Ketika itu, Edwin meminta izin pada Nurhadi untuk menggunakan nama dan wajahnya sebagai capres fiktif untuk diviralkan di medsos.

Penawaran tersebut diamini Nurhadi dengan syarat tak melanggar hukum dan agama. Terlebih lagi, keduanya sama-sama tertekan menghadapi situasi yang semakin tak sehat menjelang Pilpres 2019. Maka terbentuklah pasangan capres-cawapres fiktif karya Edwin yang disebut sebagai tim suksesnya.

Alasan Edwin memilih Nurhadi sebagaai capres fiktif lantaran ia dikenal banyak orang dan mempunyai banyak pengikut. Kegiatan capres-cawapres fiktif tersebut sebatas ‘dagelan politik’, di mana isinya sindiran-sindiran dengan politik yang saling sikut seperti di dunia nyata.

“Saya jawab, kenapa harus saya kok tidak orang lain saja. Kata Edwin sih, saya lebih berpotensi tenar karena dikenal banyak pengikutnya. Ya, sudah saya setuju dengan syarat dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebagai humor politik saja untuk meredam ketegangan suasana Pilpres 2019. Saya enggak mau terjadi keributan hanya karena beda pilihan presiden,” aku pria tersebut.

Lalu terkait koalisi Tronjal-Tronjol Maha Asyik yang mengusung capres-cawapres boneka itu, Nurhadi mengaku ada makna dalam di baliknya. Sama halnya dengan angka 10 yang menjadi nomor urut pasangan ‘Dildo’.

“Tronjal-tronjol itu seperti kondisi sekarang. Banyak orang asal ngomong dan timbul berita hoaks di sana-sini. Kata itu untuk orang bodoh. Ya, sindiran saja biar orang leboh berhati-hati kalau ngomong di publik. Untuk angka 10 diambil dari Komunitas Angka 10 akun saya. Artinya keikhlasan kepada Tuhan atau para pencinta Tuhan,” jelasnya.

Rupa-rupanya yang diharapkan Edwin menjadi kenyataan. Hingga saat ini, unggahan akun media sosial pasangan ‘Dildo’ senantiasa ramai. Akun Instagram @nurhadi_aldo yang sebagian besar unggahannya meme menggelitik Nurhadi-Aldo, hingga Minggu (6/1) malam sudah menarik 209k pengikut.

“Alhamdulillah mendadak viral beberapa hari ini. Saya pun kaget. Saya juga tidak pernah ketemu dengan yang mengaku bernama Edwin itu. Belakangan banyak yang menghubungi dan menemui saya sekadar ngobrok dan mengaku ngefans.

“Bahkan order pijat ramai. Saya pun memanfaatkan untuk jualan kaos bergambar saya itu di medsos. Laku keras juga. Banjir orderan pijat dan jualan kaos pokoknya,” ungkap Nurhadi membocorkan kesuksesannya sembari tertawa.

Lantaran ketenarannya di medsos tersebut, sampai-sampai ada tim sukses pasangan capres 2019 yang mendatanginya kemudian menawari Nurhadi menjadi juru kampanye untuk pasangan capres 2019 tersebut.

“Tim capres 2019 datang dan menawari saya untuk kampanye calon presidennya. Saya tidak mau. Untuk apa? Lha wong saya itu cuma tukang pijat. Semula di Komunitas Angka 10, saya hanya mengajak warga untuk baca salawat, mencintai Allah,” jelasnya.

Ia bahkan mengungkapkan ada YouTuber asal China yang meliriknya. “Jika ada YouTuber asal China yang siap merekam saya lewat video dan memviralkan saya. Tabita adalah orang yang menjadi perantaranya. Saya kaget. Tapi tak masalah, asal dimanfaatkan dengan baik,” tegasnya.

Meski sudah menjelma menjadi sosok yang diperbincangkan warganet, sifat bersahaja tetap tak terlepas dari diri Nurhadi. Ia masih menerima siapa saja yang membutuhkan jasanya sebagai tukang pijat tanpa mematok harga.

Nurhadi kemudian mengungkapkan harapannya pada Pilpres 2019. Ia mengaku tak mempersoalkan siapa yang nanti terpilih. Namun yang jelas, sosok itu haruslah presiden yang sanggup bekerja sebagai pelayan masyarakat dengan sungguh-sungguh, jujur, amanah, adil, dan bijaksana.

“Siapa pun presidennya harus kita dukung karena itu pilihan mayoritas. Presidennya harus baik. Begitu juga warganya harus baik,” ungkap pria berkumis tersebut dengan bijak.