Ruhut Sitompul: Terus Terang Prabowo Itu Bohong


SURATKABAR.ID – Mantan politisi Partai Demokrat (PD) Ruhut Sitompul buka suara menanggapi pernyataan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto terkait korupsi di Indonesia yang sudah seperti kanker stadium empat.

Ruhut, dilansir dari JPNN.com pada Senin (7/1/2019), dengan tegas membantah hal tersebut. Ia menyinggung pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut dalam diskusi publik ‘4 Tahun Melawan Korupsi’ yang digelar di Kantor Staf Presiden (KSP), Kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (7/1).

Dalam forum yang turut dihadiri dua panelis lain, yakni Deputi 2 KSP Yanuar Nugroho dan Prof Rhenald Kasali, Ruhut menilai apa yang dilontarkan Prabowo itu sebagai penyakit. “Prabowo kan mengatakan (korupsi) stadium empat. Itu jelas memang penyakit dia,” ujar Ruhut, Senin (7/1).

Menurut Ruhut, Presiden Joko Widodo sudah menjadikan hukum sebagai panglima. “Di sini kita lihat Pak Jokowi menjadikan hukum panglima. Sudah ada yang menangani itu. Beliau tidak pernah intervensi. Tapi seolah-olah mereka ingin mengatakan Pak Jokowi itu intervensi. Gak benar,” tegas Ruhut.

Korupsi, bagi politisi berlatar belakang pengacara ini, bisa terjadi lantaran tak ada kata cukup dari siapa pun yang mendapat kepercayaan untuk memegang jabatan. Bahkan, sejumlah kolega sesama mantan aktivis juga, diakui Ruhut, ikut melakukan praktik haram tersebut.

Baca Juga: Viral Aparat Bikin Heboh di Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi, Polisi Klaim Tak Ada Unsur Kesengajaan

Ada dua sosok yang kasusnya sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Ruhut menyebut nama Zulkarnaen Jabar yang terjerat kasus korupsi Al-Qur’an, dan Anas Urbaningrum dengan kasus proyek wisma atlet Hambalang-nya.

“Ini semua karena tidak ada kata cukup dan belum ada kesempatan. Sudah ada kesempatan, ngeri kali ini kawan,” tukas Ruhut tegas.

Dalam kesempatan tersebut, Ruhut menilai upaya Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla dalam mencegah dan memberantas segala tindak pidana korupsi terus-menerus dilakukan. Terutama dengan memanfaatkan teknologi. Mulai dari perencanaan anggaran hingga pelaksanaannya di lapangan.

Oleh karena itu, ia mengaku sama sekali tidak sependapat dengan Prabowo yang menyebut korupsi Indonesia sama seperti kanker stadium empat. Namun soal masih banyaknya korupsi, Ruhut tidak membantah.

Ia hanya meminta agar kasus korupsi di era Orde Lama, Orde Baru, pascareformasi, hingga masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Jokowi untuk tidak disamaratakan. Ruhut menyebut korupsi era Orde Baru dilakukan secara berjamaah. Sedang di masa SBY, oplahnya masih besar, seperti korupsi Hambalang. Sementara di era Jokowi, jumlahnya berangsur berkurang.

“Kalau sekarang ada korupsi, tapi oplahnya lebih minim. Era Pak SBY saja oplahnya (nilai korupsi) masih gede. Hambalang berapa triliun? Tapi sekarang sudah mulai mengecil, tapi tetap rakyat miskin karena koruptor. Ini harus kita perangi,” tutur Ruhut panjang lebar.

Untuk itu, ia kembali menegaskan bahwa pernyataan Prabowo terkait korupsi di Indonesia seperti kanker stadium empat hanyalah hoaks semata. Menurutnya, hal tersebut bisa dibuktikan dengan melihat kinerja KPK dalam mencegah serta memerangi korupsi.

“Jadi saya terus terang bilang Pak Prabowo itu bohong kalau bilang korupsi stadium empat,” tegas Ruhut.

Ia juga meminta masyarakat luas untuk melihat bagaimana kinerja KPK dan Jokowi yang sangat menghormati hukum sebagai panglima. Jokowi, menurut Ruhut, merupakan kepala negara yang tak pernah mengintervensi penegakan hukum.

“Terakhir kemarin mensosnya, karena ada bukti yang kuat ya silakan. Begitu juga ketua DPR begitu juga. Ini baru di era Pak Jokowi. Jangan karena banyak ketangkap di era Pak Jokowi, banyak korupsinya, jangan begitu. Sudah salah Pak Prabowo kalau gitu. Kalau banyak korupsi, Orde Baru paling banyak,” tandasnya.