Gugat Cerai Istri, Pria Ini Bayar Uang Nafkah Rp 153 Juta Pakai Receh


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini publik dihebohkan dengan kisah suami yang menggugat cerai istrinya. Setelah membayar uang nafkah sebesar Rp 153 Juta pakai koin receh, kisahnya pun menjadi viral. Pria itu diketahui berprofesi sebagai PNS di lingkungan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. Alhasil, Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Karanganyar pun dihebohkan oleh karenanya.

Dilansir dari laporan Kompas.com, Senin (07/01/2019), Dwi Susilarto (54) membayarkan uang nafkah dan mut’ah dengan pecahan koin senilai Rp 153 juta kepada mantan istrinya, Hermi Setyowati. Hal itu dilakukannya setelah gugatan cerainya dikabulkan pengadilan agama.

“Klien kami kemarin membayarkan uang mut’ah Rp 178 juta dengan rincian uang koinnya Rp 153 juta. Sisanya Rp 25 juta menggunakan uang kertas di Pengadilan Agama Karanganyar,” ujar Sutarto selaku kuasa hukum Dwi Susilarto kepada pers, Jumat (24/8/2018) lalu.

Dwi membayarkan uang mut’ah dan nafkah itu kepada mantan istrinya setelah Pengadilan Tinggi Agama Semarang menerima gugatan kliennya.

Hanya saja besaran uang mut’ah yang harus dibayarkan kliennya lebih besar dari putusan majelis hakim tingkat pertama di Pengadilan Agama Kabupaten Karanganyar.

Baca juga: Terbongkar! Polisi: Sekali Kencan dengan Artis Vanessa Angel, Tarifnya Rp 80 Juta

Sutarto mengatakan, saat di Pengadilan Agama Kabupaten Karanganyar, hakim memutuskan kliennya wajib memberikan uang mut’ah kepada mantan istrinya sebesar Rp 43 juta. Tak terima dengan putusan itu, Hermi mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama di Semarang.

Ia lalu melanjutkan bahwa berdasarkan hasil banding, kliennya diharuskan membayar biaya mut’ah sebesar Rp 178 juta. Jumlah itu naik hampir 400 persen dibanding putusan hakim di Pengadilan Agama Karanganyar.

Terhadap putusan itu, kliennya menerima dan berusaha membayarkan biaya mut’ah dengan cara berhutang dan meminta bantuan kepada keluarga dan teman-temannya. Hasilnya, uang senilai Rp 178 juta terkumpul usai satu setengah bulan dikumpulkan kliennya.

“Kemarin ada sekitar 13 karung berisi uang koin seribuan. Kata klien saya uang itu dikumpulkan dari bantuan teman-temannya dan ada dari hasil berutang,” ujar Sutarto.

Sutarto menyebutkan, uang koin tersebut kemudian dihitung oleh pegawai Pengadilan Agama Karanganyar.

Bila selesai penghitungan, pihak Pengadilan Agama Karanganyar akan menghubunginya untuk memastikan jumlah uang mut’ah yang disetorkan.

“Nanti kami akan dikabari dari pihak pengadilan. Kalau ada kelebihan uang akan dikembalikan. Sebaliknya kalau ada kekurangan, nanti akan ditagihkan ke kami,” demikian Sutarto.