Ma’ruf Amin Sebut Kemiskinan Tak Bisa Diukur dari Tipis Tebalnya Tempe


SURATKABAR.ID – KH Ma’ruf Amin yang merupakan calon wakil presiden nomor urut 01 menyebutkan, ada sekelompok orang yang berusaha menyangkal dan meniadakan prestasi pemerintahan saat ini. Ma’ruf mengatakan bahwa kelompok tersebut menginformasikan harga-harga kebutuhan hidup dewasa ini kian mahal saja. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu.

“Ada kelompok yang menihilkan, yang mengatakan sepertinya tidak ada. Bahkan diumpamakan itu, kemiskinan itu makin banyak, harga-harga makin mahal,” tutur Ma’ruf saat sambutan acara Harlah ke-46 PPP di kantor PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (06/01/2019), mengutip Detik.com, Senin (07/01/2019).

Sang kiai juga menyinggung soal istilah “tempe setipis ATM”. Dia menegaskan kemiskinan dan pengangguran tak bisa diukur dari tipis atau tebalnya tempe yang seukuran ATM.

“Sehingga tempe-tempenya sekarang, katanya kayak… kayak apa? Kartu ATM. Menghilangkan kemiskinan, menghilangkan pengangguran itu, tidak bisa diukur dengan tipis tebalnya tempe. Ukuran berhasil atau tidak, itu melalui penilaian-penilaian oleh lembaga yang kredibel,” urainya kemudian.

Ma’ruf lantas menyampaikan dalil untuk menjelaskan kelompok masyarakat yang tak mau bersyukur. Dia menyentil pihak-pihak yang tak mau mengakui keberhasilan pemerintah dan malah menegasikannya.

Baca juga: Sandiaga Sebut Tempe Setipis ATM, Ekonom: Oposisi Jangan Manfaatkan Pelemahan Rupiah

“Itu pertama orang yang tidak mau mengakui tidak mau la in syakartum, kalau la in syakartum laazidannakum tapi banyak yang masih bersikap la in kafartum. Kalau la in kafartum. Inna azabi lasyadid,” tukas Ma’ruf Amin.

Ungkapan Ma’ruf ini mengacu kepada kalimat “La in syakartum la azidannakum wala in kafartum inna adzabi lasyadid.” Mengutip Dream.co.id, kalimat tersebut tercantum dalam Alquran Surat Ibrahim ayat 7. Ayat ini merupakan salah satu janji Tuhan kepada seluruh hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Dalam ajaran umat Islam, Tuhan memberikan begitu banyak nikmat kepada seluruh hamba-Nya. Kewajiban seorang hamba kemudian adalah bersyukur, seperti makna kalimat di atas, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Lebih lanjut, Ma’ruf Amin Dia juga bercerita soal bully yang dialaminya saat menggunakan istilah “buta bagi orang yang tak mau mengakui keberhasilan pemerintah”. Menurut Ma’ruf, istilah “buta” dimaksudkan kepada mereka yang buta hatinya.

“Saya pernah mengumpamakan itu. Saya tidak berani lagi. Karena saya di-bully. Waktu itu saya minta maaf. Saya bilang orang yang seperti itu sama dengan orang buta. Oh akhirnya saya di-bully. Banyak yang tersinggung. Saya akhirnya minta maaf. Maksud saya buta itu bukan buta matanya tapi buta hatinya, lahum ayunun la yubsiruna biha. Punya mata tapi tidak melihat. Lahum adzanu la yasmauna biha. Punya telinga tapi tidak mendengar. Saya tidak ingin menggunakan kata-kata itu lagi karena takut di-bully,” tuturnya.

Kembali ke perkara tebal tipisnya tempe, Ma’ruf juga menyayangkan ada pihak yang berupaya menihilkan pencapaian Jokowi di bidang ekonomi. Meski begitu, ia tak ingin terlarut ke dalam manuver tersebut.

Ma’ruf lalu meyakinkan bahwa Jokowi dan dirinya akan melakukan yang terbaik bagi seluruh masyarakat RI.

“Apabila Pak Jokowi terpilih maka bagi masyarakat itu akan lebih punya harapan karena akan ada lompatan-lompatan yang bisa diberikan pada periode kedua,” demikian Ma’ruf memberikan bocoran.

Di sisi lain, seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Sandiaga Uno mengaku pernah menemukan beberapa jenis ukuran tempe saat mengunjungi pasar tradisional. Saat itu, Sandiaga menemukan ada tempe yang tipis seukuran kartu ATM. Sandiaga menemukannya di daerah Jawa Tengah.

“Ini tempe Banyumas. Nah ini asli, setipis kartu ATM. Ini saking enaknya, bisa langsung ambil lima sekaligus,” kata Sandiaga pada September 2018 lalu.

Selain itu, Sandiaga juga mengklaim menemukan jenis tempe dengan ukuran berbeda. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut mengatakan hal ini saat berada di Jember, Jawa Timur.

“Jadi bungkusan tempe di berbagai daerah di Indonesia beragam. Ada yang setipis kartu ATM, ada tempe sachet. Nah di Jember ini saya menemukan tempe sebesar tablet,” ujar Sandiaga pada Oktober 2018.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.