Sejumlah Rumah Sakit Stop Layani Pasien BPJS, Sampai Kapan?


SURATKABAR.ID – Untuk sementara waktu, tercatat sebanyak tiga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayah DKI Jakarta tak bisa menyetop pelayanannya terhadap pasien BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Sejumlah RS tersebut adalah RSUD Kebayoran Lama, RSUD Jati Padang dan RSUD Cipayung.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Khafifah Any, pemutusan kontrak oleh pihak BPJS Kesehatan dan rumah sakit berkenaan dengan alasan akreditasi. Pihaknya belum memastikan kapan ketiga RSUD itu akan kembali bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

“Senin baru akan kita rapatkan,” ungkap Any saat dihubungi awak media, Sabtu (05/01/2019). Demikian sebagaimana dikutip dari laporan Health.Detik.com.

Sementara itu, menurut laporan CNBC Indonesia, Any membenarkan informasi bahwa 3 RSUD di wilayahnya sudah tak lagi melayani pasien BPJS Kesehatan untuk sementara waktu. Ketiganya putus kontrak dengan BPJS Kesehatan di awal tahun 2019 ini dengan alasan akreditasi.

Meski begitu, Any menuturkan, pasien BPJS Kesehatan tetap bisa mendapatkan layanan Unit Gawat Darurat (UGD) di ketiga rumah sakit.

Baca juga: Tinggal Sebatang Kara di Gubuknya, Nenek 100 Tahun Ini Bikin Kaget Kapolda

Sedangkan dari pantauan wartawan di RSUD Jati Padang, Jakarta Selatan, seorang petugas mengatakan untuk sementara pelayanan bagi pasien BPJS memang dihentikan. Namun ia tidak menyebutkan apa persis alasannya.

“Dari pihak manajemen suruh kasih tahu pasien misalkan mau berobat, BPJS sementara waktu tidak bisa. Kita nggak tahu, dijelasinnya cuma off dulu sementara, cuma tanggal berapa sampai tanggal berapa nggak tahu,” tuturnya saat dijumpai oleh tim pers.

RS Stop BPJS, Pasien Dirujuk ke Jatim

Lebih lanjut, melansir JawaPos.com, hal serupa juga terjadi di wilayah Wonogori. Pasca dihentikannya layanan BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Amal Sehat Slogohimo, Wonogiri, beberapa pasien pengguna fasilitas kesehatan gratis itu terpaksa dirujuk ke RS di Ponorogo, Jawa Timur. Tentu saja, kondisi ini membuat pasien lebih repot karena jarak mereka dengan rumah semakin jauh.

Pengakuan dari Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri Adhi Dharma, pihaknya memantau langsung beberapa rumah sakit rujukan seperti RS Medika Mulya dan RS Marga Husada.

“Kami pastikan pasien BPJS Kesehatan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (FKTP) di Wonogiri timur ini dirujuk ke mana, kendalanya seperti apa,” urai Adhi Dharma.

Dari beberapa puskesmas di Wonogiri timur seperti Kismantoro, Purwantoro 1 dan 2 serta Puhpelem merujuk pasien BPJS Kesehatan ke Ponorogo, Jawa Timur, kemudian ke RSUD Wonogiri dan rumah sakit di  Kota Solo.

Untuk Puskesmas Kismantoro, terdapat empat pasien terpaksa dirujuk ke Ponorogo. Kemudian  Puskesmas Puhpelem merujuk 15 pasien ke Ponorogo, 5 ke Solo dan 6 ke Wonogiri. Sedangkan Puskesmas Purwantoro 1 dan 2 merujuk 9 pasien ke Ponorogo, 3 ke Solo dan 6 ke Wonogiri.

“Sebagian besar rujukan ke Ponorogo. Karena itu jarak terdekat daripada ke Wonogiri atau Solo,” ujar Adhi Dharma.

Kemudian, dari hasil pantauan di lapangan, Adhi Dharma mengatakan bahwa dua rumah sakit rujukan seperti Marga Husada dan Medika Mulya baru per 1 Januari 2019 ini kembali bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. September 2018 lalu, pelayanan BPJS Kesehatan di kedua rumah sakit itu juga berhenti.

“Di Medika Mulya ada enam pasien BPJS Kesehatan rawat jalan, empat pasien rawat inap di antaranya dari Wonogiri timur. Kemudian di Marga Husada ada 12 pasien cuci darah dari Wonogiri timur juga,” imbuhnya.

Secara terpisah, Kepala Puskesmas Slogohimo Suwardi mengungkapkan, setelah terhentinya layanan BPJS di RSI Amal Sehat Slogohimo, kunjungan pasien BPJS ke Puskesmas Slogohimo masih stabil seperti hari biasanya. Pasien yang berobat jalan pada hari tertentu sekitar 100 orang lebih, namun kalau hari biasa rata-rata 70 orang.

“Itu belum termasuk pasien di puskesmas pembantu  dan PKD. Jadi sebulan rata-rata pasien yang berkunjung ke Puskesmas Slogohimo hampir 2.600 lebih,” tutur Suwardi, Kamis (03/01/2019).

Kemudian, untuk pasien rujukan bisa dirujuk ke rumah sakit di Ponorogo dan semua rumah sakit di Wonogiri, Solo dan sekitarnya. Semua rujukan dan rawat jalan tak ada kendala untuk saat ini.

“Rata rata perhari pasien yang di rujuk 10 orang, tergantung permintaan pasien,” tukasnya.

Kondisi dilema juga dialami Rumah Sakit Islam (RSI) Amal Sehat Sragen. Kondisi ini berdampak pada pasien yang kecewa karena belum bisa dilayani dengan BPJS di rumah sakit terkait.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan, di Indonesia ada sekitar 500 rumah sakit yang diputus kerja samanya karena terkendala akreditasi. Termasuk RSI Amal Sehat Sragen.

”Karena ada berbagai faktor, mulai dari kesiapan fisik, SDM menjadi penentu,” jelasnya saat meresmikan dua Puskesmas Gondang, Rabu (03/01/2019).

Kata Bupati, saat ini RSI Amal Sehat Sragen masih mengurus akreditasi seperti yang disyaratkan. Ada batas waktu sampai Juli 2019 untuk akreditasi rumah sakit.

”Kami siapkan kesanggupan dari direktur maupun kesiapan dari pemilik rumah sakit. Termasuk persiapan fisik, bimbingan dan sebagainya,” sebutnya.

Bupati menambahkan, masalah terhentinya BPJS Kesehatan ini juga sangat disayangkan oleh 6 ribu pasien RSI Amal Sehat.

”Satu hari banyak pasien yang sudah ke RS Amal Sehat akhirnya kembali,” pungkasnya.