Sindir Sandiaga, TKN: Jokowi Ajak Kerja, Bukan Banyak Gaya dan Retorika


SURATKABAR.ID – Pernyataan cawapres Sandiaga Uno soal kemajuan bangsa yang tak cukup jika hanya kerja, kerja, kerja saja mendapat tanggapan dari TKN Jokowi-Ma’ruf. Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin menilai rakyat sudah cerdas memilah mana pemimpin yang bekerja dan mana yang hanya retorika.

Retorika sendiri merupakan teknik bujuk-rayuan secara persuasi demi tercapainya tujuan melalui karakter pembicara, menyentuh sisi emosional khalayak atau menggunakan argument. Gaya komunikasi ini pertama dicetuskan oleh Aristoteles, seorang filsuf asal Yunani.

“Masyarakat sudah cerdas dengan terbukanya informasi yang kemudian memudahkan mereka untuk menilai mana yang kerja beneran, mana yang hanya bergaya dan retorika semata,” tandas Wakil Direktur Kampanye TKN Jokowi-Ma’ruf, Daniel Johan saat dihubung awak media, Jumat (04/01/2019) malam. Demikian dikutip dari reportase Detik.com, Sabtu (05/01/2019).

Menurut Sandiaga, hanya kerja saja tak cukup. Selain itu, esensi yang paling tak kalah penting adalah menumbuhkan ekonomi masyarakat.

Jangan Banyak Gaya dan Retorika

Sedangkan Daniel melihat pernyataan Sandiaga itu bertolak belakang dengan apa yang sudah dicapai Jokowi selama ini. Ia mengatakan capres nomor urut 01 itu sudah kerja keras mengangkat perekonomian masyarakat.

Baca juga: SBY Cium Aroma Kemenangan Ada di Kubu Prabowo-Sandiaga

“Presiden Jokowi jungkir balik kerja keras tanpa mengenal waktu, justru untuk mengangkat ekonomi masyarakat, itu yang dilakukan Pak Jokowi. Arahan Pak Jokowi jelas, kerja kerja kerja bahwa kita harus kerja secara cerdas, kerja keras, dan kerja tuntas. Jadi ajakan kerja, kerja, kerja dari Pak Jokowi itu beliau mengajak kita untuk fokus bekerja jangan terlalu banyak gaya dan retorika,” urainya panjang lebar.

Senada dengan Daniel, Achmad Baidowi yang merupakan anggota TKN Jokowi-Ma’ruf juga menyampaikan, seharusnya Sandiaga mengecek fakta di lapangan lebih dulu sebelum bicara. Menurutnya, Kabinet kerja Jokowi sudah jelas yakni pemerataan ekonomi.

“Sebaiknya sebelum berstatement dilihat dulu kenyataan di lapangan. Orientasi pembangunan di era kabinet kerja adalah untuk pemerataan ekonomi guna peningkatan kesejahteraan rakyat. Termasuk orientasi pembangunan yang tak lagi Jawa sentris tapi Indonesia sentris bertujuan untuk pemerataan pembangunan termasuk pula kawasan 3 T (tertinggal, terdepan dan terluar),”demikian dijelaskan oleh Achmad Baidowi saat dihubungi terpisah.

Menurutnya, kerja pemerintahan Jokowi sudah terbukti selama 5 tahun belakangan dari sektor infrastruktur. Dengan demikian, Sandiaga diminta tak asal bicara.

“Bisa dilihat perkembangan pembangunan selama lima tahun terakhir. Kalau dibilang pemerintah tidak hadir di daerah 3 T (tertinggal, terdepan, dan terluar), lalu pembangunan itu dilakukan siapa? Janganlah menyebar hoax terus menerus kasihan masyarakat,” imbuh Baidowi.

Sebelumnya, Sandiaga menyampaikan motivasi jika ingin menjadi milenial dan pengusaha yang sukses tak hanya cukup kerja, kerja, kerja. Hal itu disampaikan Sandiaga saat berkampanye di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Di sana mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu juga bertemu dengan pengusaha milenial serta para penjual udang dan kepiting.

“Kaltara dan Tarakan punya potensi ekonomi yang luar biasa. Dari perkebunan, pertambangan, dan hasil bumi. Negara ini kaya. Harus dikelola dengan baik untuk kepentingan anak bangsa sendiri, bukan dinikmati oleh orang asing,” urai Sandiaga di Warung Kopi Indra (Aseng), Kota Tarakan, Kaltara, Jumat (04/01/2019).

“Jangan hanya kerja, kerja, dan kerja, tapi lupa esensi untuk membangun ekonomi masyarakat,” tambahnya melanjutkan.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.