Riset Ini Ungkapkan Shisha Ternyata Lebih Berbahaya Ketimbang Rokok


SURATKABAR.ID – Salah satu metode untuk menghisap tembakau selain merokok adalah shisha. Shisha merupakan metode menghisap tembakau yang kerap dicampur dengan buah atau gula molase. Campuran ini dihisap melalui sebuah selang atau tabung khusus. Walau cukup populer, rupanya shisha berdampak negatif bagi kesehatan. Malahan, efeknya justru lebih berat dibandingkan dengan rokok.

Menurut penelitian, satu sesi shisha bisa berefek negatif dan lebih berat dibandingkan satu bungkus rokok. Menukil Republika.co.id, Jumat (04/01/2019), sampai saat ini peneliti masih belum memahami mengapa kebiasaan shisha berkaitan dengan diabetes dan obesitas.

Hal ini disampaikan oleh tim peneliti dari Brighton and Sussex Medical School setelah penelitian berskala besar beres dilakukan. Riset yang melibatkan 9.840 partisipan ini bertujuan untuk mengetahui dampak buruk dari shisha.

Berdasarkan hasil penelitian itu, orang-orang yang suka menghisap shisha lebih berisiko untuk mengalami kenaikan berat badan dan menderita diabetes tipe 2 dibandingkan non perokok. Riset ini juga menemukan hubungan antara menghisap shisha dengan obesitas, sindrom metabolik, diabetes serta dislipidemia.

Shisha Lebih Berbahaya

Temuan ini sekaligus membantah anggapan bahwa shisha tidak seberbahaya rokok. Faktanya, tim peneliti justru melihat kecenderungan bahwa shisha lebih berbahaya dibandingkan rokok.

Baca juga: Sakit Sehabis Malam Tahun Baru? Jangan Dulu Salahkan Terompet

“Satu sesi merokok hookah (shisha) bisa setara bahkan lebih dibandingkan satu bungkus rokok, dan senyawa beracun yang terhirup (dari shisha) bisa jauh lebih banyak,” beber Profesor Gordon Ferns dari Brighton and Sussex Medical School, seperti dikutip Independent.

Saat ini, tim peneliti belum memahami mengapa kebiasaan menghisap shisha berhubungan dengan obesitas dan diabetes. Kemungkinannya, ada racun pada asap shisha menstimulasi respon inflamasi yang menyebabkan jaringan tubuh menjadi resisten terhadap efek hormon insulin yang meregulasi kadar gula dalam darah.

“Tetapi, ada kemungkinan pula bahwa merokok hookah berkaitan dengan perilaku sosial lain yang menyebabkan kenaikan berat badan,” terang Ferns menguraikan.

Senada dengan penelitian ini, British Heart Foundation (BHF) menyebutkan sulit untuk menentukan secara pasti seberapa banyak seseorang bisa terpapar senyawa beracun dalam satu sesi menghisap shisha. Namun BHF bisa memastikan bahwa senyawa beracun yang mungkin dipaparkan dalam satu sesi menghisap shisha sangat banyak. Alasannya, jumlah asap yang dihisap dalam satu sesi shisha setara dengan asap yang dihasilkan lebih dari 100 batang rokok.

“Sebagai hasilnya, perokok shisha memiliki risiko penyakit yang sama seperti perokok biasa, misalnya penyakit jantung, kanker, penyakit pernapasan dan masalah selama kehamilan,” tandas BHF.