Negara Kurang Sigap Tangani Bencana, Prabowo Akan Bentuk Kementerian Khusus


SURATKABAR.ID – Dahnil Anzar Simanjuntak menilai selama ini negara RI kurang sigap dalam menangani bencana. Bahkan, ormas yang ada dinilai lebih cepat tanggap menanganinya. Dahnil yang merupakan Koordinator juru bicara (jubir) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga tersebut menyampaikan, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto akan membentuk kementerian khusus yang menangani bencana di Indonesia. Menurut Dahnil, hal ini sangat penting dan dibutuhkan RI. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang rawan kejadian bencana.

“Pak Prabowo ingin mendorong kementerian khusus terkait kebencanaan,” ujar Dahnil di Jakarta, Senin (31/12/2018). Demikian sebagaimana dikutip dari reportase Republika.co.id, Selasa (01/01/2019).

Diungkapkan oleh Dahnil, letak Indonesia yang dikelilingi garis pantai cukup panjang membuat Indonesia membutuhkan sebuah lembaga yang  sigap dalam menangani bencana alam. Penilaian Dahnil, penanganan bencana yang ada selama ini masih kurang profesional. Hal ini terbukti dari seringnya terjadi kekeliruan dan kesalahan dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

“Dalam penanganan bencana kita selalu menghadapi masalah yang terus berulang. Misalnya BMKG, itu keliru. Informasi yang disampaikan juga keliru juga. Profesionalisme penanganan pascabencana itu juga jadi permasalahan,” papar Dahnil menyampaikan.

Ia lantas menambahkan, kekuatan penanganan bencana di Indonesia saat ini ada pada solidaritas masyarakatnya. Menurutnya, organisasi masyarakat keagamaan dan masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, FPI, Dompet Dhuafa, dan ACT justru malah lebih cepat turun tangan dibandingkan negara.

Baca juga: Ini Kata BPN Soal Prabowo Ikut Ibadah Natal dan Pro Khilafah

“Buat warga negara yang seperti FPI dan lembaga lain, itu bukan mandatory sebenarnya. Siapa yang punya mandatory itu? Mandatory menangani bencana adalah negara, tapi negara seringkali salah bahkan melakukan mitigasi,” tandas Dahnil kemudian.

Oleh karena itu, Dahnil mengatakan jika terpilih Prabowo bertekad akan memaksimalkan anggaran untuk pencegahan dan penanganan bencana. Tak hanya itu saja. Kata Dahnil, dari sisi kesadaran kolektif, Prabowo juga ingin literasi masyarakat mengenai kebencanaan bisa lebih ditingkatkan.

“Kita akan dorong literasi kebencanaan. Jadi ada literasi kebencanaan di tengah masyarakat apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” tegasnya.

Bencana di 2018

Laporan TribunNews.com menyebutkan, setidaknya terdapat beberapa bencana alam yang besar yang menimpa Tanah Air. Pada Minggu (05/08/2018), gempa 7 skala richter mengguncang pulau Lombok dan sekitarnya. Bencana ini membuat 564 orang tewas, dan korban yang selamat serta para turis yang ada terpaksa harus mengungsi dari daerah itu.

Kurang dari sebulan, bencana gempa bumi yang lebih dahsyat kembali menghantam Kota Palu, Donggala, dan sekitarnya. Pada Jumat (28/08/2018), gempa berkekuatan 7,4 skala richter pada pukul 17.02 WIB melanda kota-kota itu. Disusul kemudian tsunami dan fenomena likuifaksi yang terjadi di Balaroa. Total jumlah tewas pada bencana ini mencapai lebih dari 2.000 orang.

Menjelang akhir tahun, bencana masih melanda Indonesia. Pada Sabtu malam (22/12/2018), tsunami menyapu wilayah Pandeglang, Banten dan Lampung Selatan. Bencana yang diakibatkan oleh aktivitas anak gunung Krakatau ini telah menelan korban tewas mencapai 430 orang. Sementara itu, 1.495 orang mengalami luka-luka dan 159 orang menghilang. Sedangkan 21.991 orang lainnya terpaksa harus mengungsi dari rumah mereka.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.