Megawati Khawatir Disadap, Habib Rizieq Dijebak Intelijen Hitam?


SURATKABAR.ID – Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengaku khawatir jika dirinya menjadi korban penyadapan. Bahkan, putri dari Bapak Proklamator RI ini  kerap mengakalinya dengan meminjam ponsel orang lain untuk berkomunikasi.

Melansir reportase JawaPos.com, Selasa (01/01/2018), penuturan Megawati ini sempat viral di pertengahan November lalu.

Selain itu, kaleidoskop politik 2018 juga diwarnai dengan viralnya kabar Presiden RI Ir. Joko Widodo (Jokowi) yang memberikan gelar pahlawan nasional kepada 6 tokoh di bulan yang sama. Salah satunya dianugerahkan kepada mendiang kakek Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Namun yang paling menghebohkan publik adalah kabar mengenai bendera tauhid yang terpasang di salah satu dinding rumah Habib Rizieq di Arab Saudi. Kejadian ini juga membuat sang Imam Besar Front Pembela Islam tersebut dimintai keterangan oleh kepolisian setempat.

Kapitra Ampera yang saat itu masih mengaku menjadi kuasa hukum Rizieq Shihab lantas memastikan bahwa kliennya tak ditahan oleh kepolisian Arab Saudi. Bahkan,  Rizieq Shihab saat ini sudah kembali ke rumahnya. Ia kini sudah berkumpul kembali bersama keluarga.

Baca juga: PDIP: Jangankan Ahok, Mau Habib Rizieq, Mau Munarman, Silakan Masuk, Asalkan…

“Habib Rizieq itu tidak pernah ditahan. Dia sebentar aja kok [dimintai keterangannya]. Sekarang udah di rumah,” ungkap Kapitra kepada pers pada Rabu (07/11/2018) lalu.

Kapitra lantas menegaskan, sebetulnya Rizieq Shihab tidak dipanggil oleh kepolisian Arab Saudi. Kliennya hanya sebatas dimintai keterangan dengan adanya bendera bertuliskan tauhid yang dianggap sebagai bendera ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di dinding rumahnya.

Mengingat, menurut caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, di Arab Saudi tidak diperbolehkan memasang bendera sembarangan. Pasalnya, ada aturan yang telah ditetapkan di sana terkait hal ini.

Akan tetapi, versi berbeda dilontarkan oleh Dubes Indonesia di Riyadh Agus Maftuh Abegebriel. Dalam keterangan tertulisnya, Agus memaparkan kronologi permasalahan yang dihadapi Rizieq. Kasus itu berawal pada Senin (05/11/2018) sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Rumah yang ditempati Rizieq mendadak didatangi kepolisian Makkah.

Polisi datang lantaran mengetahui adanya pemasangan bendera hitam yang mengarah pada ciri-ciri gerakan ekstremis. Bendera itu dipasang di dinding bagian belakang kediaman Rizieq. Dalam keterangan tertulisnya, Agus membeberkan kronologi permasalahan yang dihadapi Rizieq. Kasus itu bermula pada Senin (05/11/2018) sekitar pukul 08.00 waktu setempat.

Mengarah Pada Gerakan Ekstremis

Tiba-tiba saja, rumah yang ditempati Rizieq didatangi kepolisian Makkah. Polisi datang karena mengetahui adanya pemasangan bendera hitam yang mengarah pada ciri-ciri gerakan ekstremis. Bendera itu dipasang di dinding bagian belakang kediaman Rizieq.

Usai terjadi perdebatan, akhirnya Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu buka suara mengenai kasus hukum yang menyandungnya di Arab Saudi. Sejumlah fakta pun diungkap olehnya.

HRS tidak memungkiri, memang ada oknum yang menempelkan bendera di dinding rumahnya. Itulah sebabnya sejumlah aparat kepolisian setempat mendatanginya untuk meminta keterangan. Dialog terjadi di belakang rumah HRS.

“Pada saat saya keluar dari rumah poster itu sudah tidak ada, sudah dicabut oleh aparat. Jadi saya tidak pernah lihat poster tersebut,” ucap HRS dalam siaran langsung Front TV, saluran resmi FPI, Jumat (09/11/2018).

Habib Rizieq juga membantah jika ada yang mengatakan dirinya ditangkap oleh aparat. Kepolisian Arab Saudi hanya sebatas meminta keterangan terhadap adanya bendera di dinding rumahnya.

“Jadi tidak betul saya ditangkap, ditahan, rumah saya disergap, digeledah itu semua bohong,” tandasnya.

Saat menjalani pemeriksaan, setidaknya ada tiga pertanyaan yang dilontarkan penyidik. Pertama soal apakah dirinya yang menempel bendera tersebut. Kedua apakah HRS mengetahui oknum yang memasangnya. Kedua dengan tegas dibantah oleh HRS.

Pertanyaan ketiga malahan terbilang cukup kritis. Penyidik menanyakan apakah HRS memiliki dugaan mengenai adanya pihak tertentu yang ingin membuatnya bermasalah dengan hukum.

Usai pemeriksaan berlangsung, HRS memutuskan menginap di kantor polisi sesuai saran penyidik. Hal ini dikarenakan malam itu sudah terlalu larut. Lagipula, pada pagi harinya pun masih ada administrasi yang harus dilengkapi terkait pemeriksaan ini.

Singkat cerita, HRS dinyatakan hanya sebagai korban. Keesokan harinya setelah melengkapi administrasi, ia pun dipersilahkan pulang ke kediamannya. Pada saat berbarengan datang utusan dari KJRI.

Dugaan Penyadapan Handphone

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, menceritakan kisahnya yang sering meminjam handphone (HP) milik pembatu rumah tangganya. Itu dilakukan karena presiden ke-5 itu takut disadap.

Megawati sengaja meminjam handphone milik pembantunya karena ia berpikir tak mungkin ponsel si pembantunya kena sadap.

“Mana hp punyamu, saya mau telpon. Tidak mungkin juga kan handphone pembantu disadap,” kata Megawati saat menceritakan kisahnya saat pembekalan caleg PDIP di DPP PDIP, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Megawati juga mengaku sempat kaget lantaran pembantunya mempunyai handphone sebanyak lima buah. Bahkan Megawati berseloroh lebih kaya pembantunya ketimbang dia, karena punya handphone banyak.

“Saya ditertawakan pembantu saya, pembantu saya sampai punya lima. Saya waktu itu bilang kayaan kamu dari saya,” tukasnya bercerita.

Melansir Kompas.com, hal itu disampaikan Megawati saat memberi arahan kepada calon anggota legislatif PDI-P, di Kantor DPP PDI-P, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Mulanya, Megawati di atas panggung, menyebut soal bagaimana dunia berkembang melalui teknologi dan anak muda semakin melek akan hal tersebut. Namun, ia mengaku tidak mau gagap ikut-ikutan perkembangan.

“Saya manusia di Indonesia ini yang paling disadap. Ngapain capek-capek bawa HP,” tukas Megawati.

Lantaran tak punya ponsel, Megawati sempat dianggap cucunya sebagai orang yang kuper alias kurang pergaulan. Meski begitu, ia lalu balik menceramahi cucunya agar tak terlalu bergantung pada telpon genggam.

“Kalau kamu tergantung kepada alatmu, saya tergantung pada otak saya. Orang tidak akan memindai otak saya,” tegas Megawati menirukan percakapan dengan cucunya.