Taksi Lokal Rugi Besar, Grab Dikenai Denda Rp 2,9 Miliar!


SURATKABAR.ID – Pada Jumat (28/12/2018) lalu, Pengadilan Vietnam menjatuhkan sanksi untuk perusahaan aplikasi transportasi Grab. Grab harus membayar kompensasi kepada sebuah perusahaan taksi lokal dengan nilai lebih dari 200.000 dollar AS—atau setara dengan Rp 2,9 Miliar.

Hal itu dikarenakan Grab disebut telah membuat perusahaan mengalami kerugian. Yang menjadi penyebabnya tak lain diakibatkan oleh ketatnya persaingan antara taksi lokal dengan perusahaan teknologi tersebut.

Dikutip dari Strait Times sebagaimana dilaporkan dalam Ekonomi.Kompas.com, Senin (31/12/2018), perusahaan yang berbasis di Singapura ini meluncurkan layanan di Vietnam pada tahun 2013.

Dan kini Grab telah terlibat sengketa hukum dengan Vietnam SUn Corp (disingkat Vinasun), sebuah penyedia jasa taksi di Vietnam sejak Mei lalu. Vinasun menuduh berkurangnya keuntungan mereka sebesar 1,8 juta dollar AS dikarenakan masuknya Grab ke pasar transportasi Vietnam.

Pengadilan Ho Chi Minh City lantas memutuskan, Grab harus membayar kompensasi kepada Vinasun dengan nilai 206.000 dollar AS lantaran telah melakukan pelanggaran berkenaan bisnis transportasi.

Baca juga: Dibayar Tunai! Ibu Ini Beli Motor dengan Sekarung Uang Receh Rp 2.000

Sementara itu, menurut laporan TribunNews.com, pengadilan memutuskan bahwa Grab telah melanggar aturan negara karena beroperasi sebagai perusahaan taksi, bukan perusahaan teknologi.

Bahkan melansir Viva.co.id, Vinasun menuntut denda penuh Rp 26,2 miliar kepada pengadilan, namun lembaga peradilan itu cuma menjatuhkan denda Rp 2,9 miliar kepada Grab.

Dituding Sebabkan Kerugian

Media lokal Vietnam mewartakan, aktivitas Grab menyebabkan kerugian bagi Vinasun. Namun, karena tak ada bukti konkrit untuk membuktikan Grab sebagai satu-satunya sumber kerugian perusahaan Vietnam itu, hakim pun menyatakan pihaknya tak ada alasan untuk menuntut kompensasi penuh 1,8 juta dollar AS.

Jerry Lim selaku Pimpinan Grab Vietnam menyampaikan, keputusan hakim sebagai contoh buruk yang mengizinkan perusahaan tradisonal menuntut kompetitornya alih-alih meningkatkan inovasi agar setara. Dengan begitu, seyogianya perusahaan tradisional jadi lebih bisa meningkatkan kompetisi di industri teknologi setempat.

“Hal ini merupakan kemunduran besar bagi pengusaha teknologi pekerja keras di Vietnam. Sangat menyedihkan bahwa taktik Vinasun yang anti kompetitif justru berhasil,” ungkapnya lebih lanjut.

Sebagaimana diketahui, Grab merupakan salah satu platform O2O yang bermarkas di Singapura. Layanan ini paling sering digunakan di Asia Tenggara. Grab menyediakan layanan kebutuhan sehari-hari bagi para pelanggan termasuk perjalanan, pesan-antar makanan, pengiriman barang dan pembayaran dengan menggunakan dompet digital.