Astaghfirullah! Hilang Misterius di Gunung Slamet, Tak Disangka Begini Kondisi Terakhir Seorang Santri Tegal


SURATKABAR.ID – Ahmad Sulaiman (19) dan tiga orang teman pondoknya, Muhammad Imam As’ari, Muhammad Jefri Trimulyana, dan Ahmad Fadil Izulhaq pergi mendaki Gunung Slamet pada Rabu (21/11) lalu, sebelum akhirnya hilang secara misterius.

Empat santri Pondok Pesantren Attolibiyah, Mobok Karsih, Bumijaya, Tegal tersebut, dilansir Liputan6.com, Jumat (28/12/2018), memilih jalur pendakian Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Tanpa izin Petugas Pos Bambangan, mereka menerobos masuk begitu saja.

Pada pukul 13.00 WIB, mereka mulai mendaku dan langsung bergerak menuju Pos 9. Namun entah karena alasan apa, begitu tiba di Pos  9, mereka justru menutuskan untuk langsung turun dari jalur sebelumnya.

Sayangnya, setibanya di Pos 7 jalur pendakian Gunung Slamet, mereka malah tersesat. Padahal ketika itu langit sudah mulai gelap. Akhirnya mereka bermalam di sekitaran pos tersebut. Akan tetapi, begitu terbangun keesokan hari, betapa terkejut mereka. Pasalnya, Ahmad Sulaiman hilang tanpa jejak.

“Mereka bertiga sudah tidak mendapati Ahmad Sulaiman di sekitar tempat istirahat tersebut,” tutur Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Banyumas Heriana Ady Chandra ketika dimintai konfirmasi pada Kamis (27/12) kemarin.

Baca Juga: Lebih dari Dua Dekade Tak Terpecahkan, Sebuah Kasus Misterius Akhirnya Selesai Berkat Kaleng Soda di Tong Sampah

Ketiga santri itu berupaya menemukan rekan mereka. Namun mereka sudah lemas. “Mereka bertiga sudah kelelahan, akhirnya Muhammad As’ari memutuskan untuk mencari pemukiman penduduk untuk meminta pertolongan. Namun nampaknya mereka bertiga tidak meminta pertolongan,” imbuhnya.

Bahkan hingga satu bulan berlalu, tiga santri tersebut sama sekali tidak melaporkan bahwa Ahmad telah raib tanpa kabar ketika mendaki Gunung Slamet. Pihak ponpes baru menyadari ada yang tak beres, lantaran sudah sebulan lamanya Ahmad tak tampak batang hidungnya di pondok.

5 Jam Evakuasi di Gunung Slamet

Utusan dari Pondok Pesantren Attolibiyah pun mengunjungi kediaman orangtua Ahmad Sulaiman yang terletak di Desa Mungcanglarang RT 09 RW 02 Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal untuk mencari informasi keberadaan santri tersebut.

Akan tetapi, ayah Ahmad, Sarna dan keluarga malah mengira putranya masih berada di pondok. Mereka sama sekali tak menyangka Ahmad pergi mendaki Gunung Slamet. Sementara pihak Pondok Pesantren Attolibiyah menduga Ahmad tengah berlibur di rumah.

“Keluarga juga terkejut, karena sudah satu bulan Ahmad Sulaiman tidak pulang,” ungkap Chandra.

Hingga akhirnya pada Selasa (25/12) lalu, tiga rekan Ahmad Sulaiman yang sebelumnya mendaki Gunung Slamet melapor bahwa Ahmad hilang ketika mendaki bersama. Pada Rabu (26/12), pukul 08.15 WIB pagi, 23 tim SAR Gabungan diberangkatkan dari Desa Kutabawa, Purbalingga.

Sebagian tim SAR Purbalingga, keluarga Ahmad, Polsek, dan Koramil Karangreja, Tagana Banyumas dan Purbalingga, Pramuka Peduli Kwarcab Banyumas, TRC IKB RAPI, Kader Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Sumbang, Polsek Sumbang dan PMI Kabupaten Banyumas menanti di titik penjemputan.

Usai melakukan pencarian, Ahmad Sulaiman akhirnya diketemukan sekitar pukul 16.30 WIB. Namun sayang bukan dalam keadaan hidup. Jenazah Ahmad ditemukan tim SAR gabungan di anakan Sungai Pelus.

“Jenazah dalam kondisi rusak, tinggal kerangka saja. Kemudian Tim Evakuasi melakukan evakuasi ke rute terdekat lewat anakan Sungai Pelus, Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang Banyumas melalui Hutan Perhutani KPH Banyumas Timur,” ungkap Chandra.

Rencananya, tim SAR Banyumas akan melakukan penjemputan secara estafet, namun urung. Pasalnya medan evakuasi bukanlah jalur pendakian. Hal tersebut membuat proses evakuasi akan sangat berisiko jika dilakukan secara estafet.

“Proses evakuasi berjalan kurang lebih 5 jam, sampai di titik penjemputan pukul 22.45 WIB. Selanjutnya jenazah dibawa ke RS. Margono Soekardjo Purwokerto untuk dilakukan pemeriksaan oleh Inafis Polres Banyumas,” pungkas Chandra.