Asal Muasal Bra, Disebut BH Hingga Kutang oleh Perempuan Nusantara


SURATKABAR.IDDulu, dada yang tanpa busana bukanlah hal tabu bagi kebanyakan wanita Indonesia. Bertelanjang dada bagi perempuan Nusantara merupakan hal lumrah. Tudingan pamer keseksian atau pornografi tidak akan dilontarkan kepada mereka. Hal ini dikarenakan tradisi masyarakat saat itu belum mengenal penutup dada layaknya zaman sekarang. Tak banyak yang tahu bagaimana kisahnya kutang bisa masuk wilayah Nusantara.

Menukil Tirto.ID, Jumat (28/12/2018), perlahan setelah distribusi kain, kutang atau BH semakin mudah, dada perempuan Nusantara menjadi kian tertutup. Dulunya, wanita yang berkeliaran tanpa penutup dada tak hanya ditemukan di wilayah Papua saja di masa lalu. Hal ini lumrah terlihat di berbagai wilayah Indonesia lainnya.

Di Jawa contohnya, biasanya Kaum Hawa hanya menutup dada mereka dengan kemban (kemben). Kemben adalah sebuah kain yang dililit di bagian dada. Baru setelah periode 1900-an, perempuan di Jawa mulai mengenakan kebaya.

Beralih ke Sulawesi Selatan, wanita di sana biasa memakai baju bodo yang mirip kebaya, namun tipis dan longgar. Saking tipisnya, baju bodo pada masa itu terlihat transparan sehingga memperlihatkan buah dada pemakainya. Meski begitu, terlihatnya buah dada pada masa itu tak akan dipersepsikan sebagai sesuatu yang cabul seperti sekarang.

Sedangkan di zaman Hindia Belanda dulu, wanita yang berjalan di muka umum tanpa mengenakan penutup dada merupakan hal biasa. Di masa itu, pemandangan seperti itu tak menumbuhkan birahi Kaum Adam Indonesia saking anggapan mereka yang sudah terbiasa.

Baca juga: Sejarah Hari Ibu, Persembahan Bung Karno Untuk Wanita Indonesia

Masalah birahi justru muncul di kalangan para lelaki Belanda yang melihatnya. Pernah ada cerita, acara bongkar muat kapal Belanda yang sampai tertunda hingga satu jam. Penyebabnya ternyata karena para pelaut Belanda malah terpesona menatap panorama indah di atas perut perempuan Indonesia.

Dalam film The Legong Dance of the Virgin, yang dibuat rumah produksi Amerika di tahun 1933, perempuan Bali digambarkan tidak memakai kutang. Mereka terbiasa bertelanjang dada. Film ini berkisah soal cinta segitiga yang berakhir tragis bagi seorang gadis penari legong.

Selain film cerita ini, dalam film dokumenter Moeder Dao (1995), terdapat dokumentasi para wanita tak berpenutup dada di sebuah daerah di Indonesia sekitar tahun 1930. Tentu saja daerah itu jauh dari pusat industri, di mana kain bisa jadi dianggap barang mewah. Wanita-wanita berbaju lebih sering ditemukan di pabrik, perkebunan atau kota.

Kutang Penutup Dada

Remy Sylado punya imajinasi sendiri soal bagaimana orang Indonesia mengenal kutang. Dalam novelnya Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil (2007), Remy menceritakan bangsawan berdarah Spanyol-Perancis, bernama Don Lopez Comte de Paris.

De Paris melihat perempuan Jawa, yang ikut membangun jalan raya pos Anyer Panarukan. Atas perintah Deandels yang berkuasa dari 1808 hingga 1811, para wanita itu hanya memakai pakaian yang menutup bagian bawah tubuh mereka saja. Dada mereka terlihat. Don Lopez lalu memberi sebuah kain pada perempuan pribumi yang tercantik diantara mereka. Ia lalu menyuruhnya agar menutup bagian berharga di atas perut itu.

“Coutant! Coutant!” perintah Don Lopez. Dalam bahasa Perancis, “berharga” diartikan sebagai “coutant”.

Belakangan orang Indonesia mengucapkannya sebagai “kutang”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutang dimaknai sebagai “pakaian dalam wanita untuk menutupi p*ayudara atau baju tanpa lengan.”

Baju tanpa lengan seperti kaos oblong, yang berfungsi sebagai pakaian dalam laki-laki juga, sering sebut sebagai kaos kutang juga. Kata koetang, dalam ejaan lawasnya, sering dipakai setidaknya di zaman kolonial. Seringkali ditemukan dalam bacaan-bacaan dalam bahasa Melayu.

Tampaknya, di masa lalu, kata kutang punya makna yang luas. Tak hanya penutup dada perempuan saja. Dalam kamus bahasa Makassar-Belanda berjudul Makassaarsch-Hollandsch Woordenboek met Hollandsch-Makassaarsch (1859) yang disusun Benjamin Matthes, koetang diartikan sebagai borstrok, yang artinya “pakaian di dalam yang berbentuk seperti rompi”.

Sementara dalam kamus Belanda Melayu Sunda, Nederduitsch-Maleisch en Soendasch woordenboek (1841) yang disusun Taco Roorda dan Andries de Wilde, kutang dalam bahasa Sunda bisa berarti sebagai “pakaian dalam” dan juga “kemeja”.

Bra masuk ke Hindia Belanda

Setelah kemunculan bra, atau buste houder (BH) dalam bahasa Belanda, para wanita Eropa pun mulai memakainya. Menurut Cultural Encyclopedia of the Breast (2014), Mary Phelps Jacob alias Caresse Crosby menciptakannya pada 1910. Ia tanpa sengaja menciptakannya saat akan mengenakan gaun untuk pergi ke sebuah pesta.

Dia merasa bermasalah dengan korset yang sudah berabad-abad di gunakan perempuan Eropa di berbagai belahan dunia. Ciptaan pengubah sejarah kaum perempuan itu kemudian dipatenkan pada 1914. Dia mendapat uang karena ciptaannya itu, namun tak berperan penting dalam industri bra.

Bra sederhana, yang semula hanya berupa sapu tangan sutra bertali pita itu lalu dikembangkan lagi dengan yang berenda. Belakangan, bentuk bra jadi bermacam-macam. Di tahun 1922, Ida Rosenthal dan suaminya mulai berbisnis. Ida dan suaminya mengembangkan bra dalam perusahaan Maidenform yang aktif hingga puluhan tahun kemudian.

Para wanita pemakai bra tentu makin meningkat populasinya di tahun 1920an di Hindia Belanda. Setelah para perempuan Belanda menggunakannya, perempuan pribumi mengikutinya. Lidah orang-orang Indonesia menyebutnya BH (baca: beha), yang merupakan singkatan dari Buste Houder (wadah penyangga p*ayudara). Bra atau BH ini pun akhirnya disebut juga sebagai kutang.

Setidaknya, kutang atau BH bermerk Bengawan Solo sudah diiklankan di tahun 1958. Jargonnya: “kwaliteit tetap terdjamin istimewa”. Saat ini setidaknya ada PT Busana Remaja Agracipta, yang termasuk sepuluh besar pabrik pakaian dalam dunia, yang memproduksi BH. Perusahaan ini punya pabrik di Bantul dan di Tangerang. Pabrik lain adalah Wacoal dan Mekarjaya.

BH atau kutang kini sudah tentu menjadi pakaian penting wanita Indonesia masa kini. Perempuan dari semua profesi membutuhkannya, baik yang di rumah, kantor, pasar, ladang, juga tempat prostitusi. Kutang atau BH kini tak lagi hanya berfungsi sebagai penutup dada untuk kesopanan, tapi juga sebagai penunjang kesehatan.