Tentara Sita Buku Tentang PKI, Ada yang Terbitan PBNU


SURATKABAR.ID Warga Kediri tengah digemparkan dengan temuan ratusan buku yang diduga memuat informasi tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Komunisme. Ratusan buku tersebut terdapat di dua toko buku di Kediri. Aparat Komando Distrik Militer 0809 Kediri langsung gesit mengambil tindakan dengan menyita ratusan buku tersebut.

Komandan Kodim 0809 Letnan Kolonel Kav. Dwi Agung Sutrisno menuturkan, anggotanya bergerak menyita buku-buku itu setelah mendapat informasi dari masyarakat pada Rabu (26/12/2018) petang.

“Anggota kami mendapat kabar kalau ada dua toko yang menjual buku PKI,” ungkap Dwi Agung kepada tim pers, Kamis (27/12/2018). Demikian seperti dikutip dari laporan Tempo.co, Jumat (28/12/2018).

Setelah penelusuran dilakukan, rupanya diketahui bahwa dua toko tersebut ialah Toko Q Ageng dan Toko Abdi di Jalan Brawijaya, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Keduanya berada tak jauh dari kompleks pusat pembelajaran Bahasa Inggris. Lokasi tersebut lebih populer dikenal dengan Kampung Inggris.

Berikut sekilas isi buku beserta rinciannya:

Baca juga: Soal Hoax ‘Jokowi PKI’ oleh La Nyalla, Pakar: Bisa Terancam Pidana 10 Tahun

  1. Toko Buku Abdi

Toko Buku Abdi menjual 19 buah buku yang mengandung kata PKI dan komunisme dengan judul yang sebagian besar sama. Buku-buku tersebut antara lain berjudul Gerwani sebanyak 3 buku, Islam Sontoloyo sejumlah 1 buku, Di Bawah Lentera Merah sebanyak 7 buku, serta Negara Madiun sejumlah 8 buku.

  1. Toko Q Ageng 

Di Toko Q Ageng, polisi dan TNI menyita 120 buku. Buku-buku tersebut terdiri dari Empat Karya Filsafat sebanyak 11 buku; Menempuh Jalan Rakyat karya D.N. Aidit. Selain itu terdapat pula 5 buku Manifesto Partai Komunis.

Ada juga buku berjudul “Benturan NU PKI 1948-1965” sebanyak 4 buku yang merupakan terbitan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Buku Benturan NU PKI 1948-1965 ini berisi pandangan NU terhadap PKI.

Selanjutnya, ada Negara dan Revolusi yang terdiri dari 2 buku; Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan sebanyak 21 buku—yang merupakan tulisan dari Soe Hok Gie.

Terdapat juga Nasionalisme, Islamisme, Marxisme yang berjumlah 14 buku—yang rupanya merupakan karyta tulis dari Presiden Soekarno. Kemudian ada Oposisi Rakyat yang jumlahnya sebanyak 4 buku.

Berikutnya, ada:

  • Gerakan 30 September 1965 (3 buku),
  • Catatan Perjuangan 1946-1948 (8 buku),
  • Kontradiksi MAO-Tse-Sung (18 buku),
  • Negara Madiun (15 buku),
  • Islam Sontoloyo (5 buku),
  • Soekarno Orang Kiri Revolusi & G-30 S 1965 (2 buku),
  • Maestro Partai Komunis (4 buku),
  • Di Bawah Lentera Merah (1 buku), serta
  • Lenin (3 buku).

Lebih lanjut, mengutip TribunNews.com, Kajari Kabupaten Kediri Subroto SH mengatakan, kejaksaan mempunyai tugas mengawasi barang cetakan, termasuk buku-buku yang mengandung ajaran PKI dan komunis.

“Kami akan melakukan rapat koordinasi dengan Kodim, Polres, Kesbanglinmas dan Dinas Pendidikan,” tukas Subroto kepada sejumlah awak pers, Kamis (27/12/2018).

Berkenaan dengan pihak penerbitnya, akan diteliti lagi apakah bukunya merupakan cetakan lama atau cetakan baru. Pasalnya, baru diketauhui bahwa dari beberapa buku, ternyata ada buku lama yang dicetak lagi dengan cara fotokopi.

“Ada buku yang difotokopi serta dijilid seperti buku baru,” sambungnya kemudian.

Bila ternyata dalam hasil pengkajian bersama ditemukan adanya unsur ajaran dan paham komunisme, maka pihak berwenang akan mengambi tindakan hukum.

“Bukunya sudah kami amankan dengan berita acara pengamanan buku,” tukasnya.

Tujuannya agar buku-buku itu tak semakin tersebar di Kabupaten Kediri. Pasalnya, selama ini buku-buku tersebut sudah terlanjur dijual bebas di toko buku. Masyarakat umum pun dapat membelinya dengan bebas.

Sejauh ini petugas belum dapat meminta keterangan pemilik toko buku karena masih berada di luar kota.

Sementara itu, Wakil Bupati Kediri Drs Masykuri masih menunggu hasil konsultasi pihak Kejari Kabupaten Kediri dengan Kajati Jatim dan Kejaksaan Agung.

Diperiksa Saksi Ahli

Laporan Detik.com menyebutkan, Kapolres Kediri AKBP Ronny Faisol ikut membenarkan perihal adanya dugaan temuan buku yang diduga berisi paham komunis tersebut. Ia membenarkannya saat dikonfirmasi jurnalis melalui pesan WhatsApp.

Kata Ronny, pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan mulai dari asal buku, hingga isi buku. Selain itu polisi juga meminta saksi ahli apakah buku-buku itu memang mengandung unsur ajaran komunis.

“Kita kordinasikan dengan Bakesbangpol Pemkab Mas, kita masih dalami buku-buku tersebut, asal muasal buku tersebut, dan kita mintai keterangan penjualnya serta minta pendapat saksi ahli, apakah buku tersebut mengandung unsur mengajarkan dan atau ajakan untuk mengikuti Paham tersebut Komunis/Leninisme/Marxisme sesuai yang diatur dalam Tap MPR 25/1966 dan pasal 107 UU 27/1996,” papar Ronny menjelaskan.