Dinilai Sudah Tak Sejalan, 5 Pendiri PAN Minta Amien Rais Mundur


SURATKABAR.ID – Surat terbuka untuk Amien Rais dilayangkan oleh lima orang yang terlibat dalam pendirian Partai Amanat Nasional (PAN). Amien Rais yang merupakan salah satu dari pendiri PAN diminta mundur oleh kelima pendiri lainnya. Mereka adalah Abdillah Toha, penasihat Wakil Presiden 2009-2014; advokat senior Albert Hasibuan, Zumrotin, sastrawan dan jurnalis senior Goenawan Mohamad, penyair dan tokoh budaya Toety Heraty.

Dilansir dari reportase Tempo.co, Kamis (27/12/2018), Amien Rais merupakan salah satu pendiri PAN di samping kelima lainnya. Seperti diketahui, Amien kini menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan partai berlambang matahari terbit itu. Amien juga terlibat sebagai anggota Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Kelima pendiri PAN itu dalam suratnya mengimbau agar Amien mundur dari politik praktis. Mereka juga menyarankan agar Amien menyerahkan partai kepada generasi berikutnya.

“Barangkali sudah saatnya Saudara mengundurkan diri dari kiprah politik praktis sehari-hari, menyerahkan PAN sepenuhnya ke tangan generasi penerus, dan menempatkan diri Saudara sebagai penjaga moral dan keadaban bangsa serta memberikan arah jangka panjang bagi kesejahteraan dan kemajuan negeri kita,” demikian sebagaimana dituliskan dalam surat terbuka yang dirilis kemarin, Rabu (26/12/2018).

Amien Tak Lagi Sejalan

Setelah dipertimbangkan, kelima orang itu merasa perlu membuat pernyataan untuk mengingatkan komitmen pendirian PAN. Menurut mereka, PAN merupakan partai reformasi yang menjunjung kebebasan berpendapat dan demokrasi setelah 32 tahun berada di bawah kekuasaan Orde Baru yang korup dan otoriter.

Baca juga: Ingin Amien Rais Berubah, Warga Yogyakarta Gelar Ritual ‘Larung Sengkuni’

Menurut klaim mereka, PAN juga berasaskan Pancasila. PAN merupakan partai modern yang bersih dari noda-noda orde baru. PAN didirikan bertujuan untuk menciptakan kemajuan bangsa, terbuka, inklusif memelihara kemajemukan, serta tidak memposisikan diri untuk mewakili golongan tertentu.

Menurut kelima orang tersebut, PAN juga percaya dan mendukung setiap warga negara memiliki kedudukan sama di muka hukum, serta tidak mengenal mayoritas serta minoritas.

Kelima orang ini juga menilai Amien tak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut.

“Kami mendapatkan kesan kuat bahwa Saudara Amien Rais, sejak mengundurkan diri sebagai Ketua Umum PAN sampai sekarang, baik secara pribadi maupun mengatasnamakan PAN, seringkali melakukan kiprah manuver politik yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip itu.”

Menurut mereka, Amien semakin lama kian eksklusif dan tidak menumbuhkan kerukunan bangsa dalam berbagai sikap politik dan pernyataannya. Amien juga dinilai malah bersimpati, mendukung, dan bergabung dengan politisi yang ingin mengembalikan kekuatan orde baru ke kancah politik.

Dulu, Amien terlibat dalam gerakan menumbangkan kekuasaan orde baru yang dipimpin Soeharto. Kini, koalisi Prabowo-Sandiaga, yang disokong Amien dan PAN, juga beranggotakan Partai Berkarya yang didirikan anak-anak Soeharto dan mengusung narasi orde baru.

Menggunakan Agama Sebagai Kekuatan Politik

Selain itu, kelima orang ini juga menganggap Amien menggunakan agama sebagai kekuatan politik.

“Saudara telah menjadikan agama sebagai alat politik untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan.”

Sebagai ilmuwan politik, Amien juga dinilai gagal mencerdaskan bangsa. Bukannya mencerdaskan kehidupan bangsa, Amien malah ikut mengeruhkan suasana dalam negeri dengan menyebarkan berita yang jauh dari kebenaran tentang kebangkitan Partai Komunis Indonesia.

Mereka juga mengatakan Amien terkesan berat dalam menyerahkan kepemimpinan PAN kepada generasi berikutnya. Ia malah terus melakukan manuver politik. Mereka menilai manuver Amien itu destruktif untuk masa depan partai.

Pernyataan kelima pendiri PAN ini sedianya disampaikan melalui konferensi pers di Cemara 6 Galeri, gedung milik Toety Heraty di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Namun, konferensi urung dilaksanakan. Sebagai gantinya, seorang bernama Toar yang mengaku sekretaris Albert Hasibuan datang membagikan kertas yang berisi surat terbuka itu.

Menukil laporan Bangka.TribunNews.com, berikut isi dari surat terbuka tersebut:

 

Surat Terbuka untuk Amien Rais

Saudara Amien Rais yang kami hormati,

Setelah memerhatikan perkembangan kehidupan politik di negeri kita Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini, khususnya kiprah Saudara sendirian ataupun bersama Partai Amanat Nasional (PAN), kami sebagai bagian dari penggagas dan pendiri PAN merasa bertanggung jawab dan berkewajiban membuat pernyataan bersama dibawah ini demi mengingatkan akan komitmen bersama kita pada saat awal pendirian partai sebagai berikut:

1. PAN adalah partai reformasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan menegakkan demokrasi setelah 32 tahun di bawah kekuasaan absolut orde baru yang korup dan otoriter.

2. PAN adalah partai yang berazaskan Pancasila dengan landasan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama.

3. PAN adalah sebuah partai modern yang bersih dari noda-noda orde baru dan bertujuan menciptakan kemajuan bagi bangsa.

4. PAN adalah partai terbuka dan inklusif yang memelihara kemajemukan bangsa dan tidak memosisikan diri sebagai wakil golongan tertentu.

5. PAN adalah partai yang percaya dan mendukung bahwa setiap warga negara berstatus kedudukan yang sama di depan hukum dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara, tidak mengenal pengertian mayoritas atau minoritas.

Dengan menggunakan kacamata prinsip-prinsip PAN tersebut diatas, kami mendapatkan kesan kuat bahwa Saudara Amien Rais (AR) sejak mengundurkan diri sebagai ketua umum PAN sampai sekarang, baik secara pribadi maupun mengatasnamakan PAN, seringkali melakukan kiprah dan manuver politik yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip itu.

– Saudara makin lama makin cenderung eksklusif, tidak menumbuhkan kerukunan bangsa dalam berbagai pernyataan dan sikap politik saudara.

– Saudara sebagai tokoh reformasi yang ikut berperan dalam mengakhiri kekuasaan orde baru, telah bersimpati, mendukung, dan bergabung dengan politisi yang beraspirasi mengembalikan kekuatan orde baru ke kancah politik Indonesia.

– Saudara telah menjadikan agama sebagai alat politik untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan.

– Saudara sebagai ilmuwan ilmu politik telah gagal mencerdaskan bangsa dengan ikut mengeruhkan suasana dalam negeri dalam menyebarkan berita yang jauh dari kebenaran tentang kebangkitan PKI di negeri kita.

– Saudara sebagai orang yang berada di luar struktur utama PAN terkesan berat menyerahkan kepemimpinan PAN kepada generasi berikutnya dengan terus menerus melakukan manuver politik yang destruktif bagi masa depan partai.

Atas dasar pertimbangan semua itu, kami sebagai bagian dari pendiri PAN yang bersama saudara saat itu meyakini prinsip-prinsip yang akan kita perjuangkan bersama, menyampaikan surat terbuka ini sebagai pengingat dari sesama kawan.

Untuk itu barangkali sudah saatnya Saudara mengundurkan diri dari kiprah politik praktis sehari-hari, menyerahkan PAN sepenuhnya ke tangan generasi penerus, dan menempatkan diri Saudara sebagai penjaga moral dan keadaban bangsa serta memberikan arah jangka panjang bagi kesejahteraan dan kemajuan negeri kita.

Salam hormat dari kami semua,

Jakarta, 26 Desember 2018

Abdillah Toha
Albert Hasibuan
Goenawan Mohammad
Toeti Heraty
Zumrotin